Part 2
Mas Adhi sendiri nampaknya pun mulai terangsang. Aku dapat menikmati napasnya mulai terengah-engah. Sementara aku sendiri semakin tidak powerful untuk menyangga erangan. Maka aku juga mendesis-desis guna menahan kesenangan yang mulai menghanguskan kesadaranku. Setelah tersebut tiba-tiba tangan Mas Adhi yang kekar tersebut membuka kancing bajuku. Tak ayal lagi, buah dadaku yang berwarna putih bersih tersebut terbuka di depan Mas Adhi. Secara refleks aku masih berjuang berontak.
“Cukup, Mas tidak boleh sampai ke situ. Aku takut,” kataku seraya meronta dari pelukannya.
“Takut dengan siapa Ri, toh nggak terdapat yang tahu. Percayalah denganku,” jawab Mas Adhi dengan napas yang semakin memburu.
Seperti tidak perduli dengan protesku, Mas Adhi yang sudah melepas bajuku, sekarang ganti sibuk melepas BH-ku. Meskipun aku masih berjuang meronta, namun tersebut tidak bermanfaat sama sekali. Sebab tubuh Mas Adhi yang besar dan kuat tersebut mendekapku paling erat.
Kini, dipelukan Mas Adhi, buah dadaku tersingkap tanpa tertutup sehelai kain pun. Aku berjuang menutupi dengan mendekapkan lengan di dadaku, namun dengan cepat tangan Mas Adhi memegangi lenganku dan merentangkannya. Setelah tersebut Mas Adhi mengusungku dan merebahkannya di lokasi tidur. Tanpa melemparkan waktu, bibir Mas Adhi melumat di antara buah dadaku, sementara di antara tangannya pun langsung meremas-remas buah dadaku yang lainnya. Bagai seekor singa ganas ia menjilati dan meremas buah dada yang kenyal dan putih ini.
Kini aku tidak dapat melakukan apa-apa lagi selain terengah-engah dan mengerang sebab kenikmatan yang memegang erat diriku. Aku menggeliat-geliat laksana cacing kepanasan sebab rasa geli dan nikmat saat bibir dan lidah Mas Adhi menjilat dan melumat puting susuku.
“Ri, da.. dadamu putih dan in.. estetis sekali. A.. aku kian nggak ta.. tahan.., sayang..,” kata Mas Adhi terputus-putus sebab nafsu birahi yang semakin memuncak.
Kemudian Mas Adhi pun menciumi perut dan pusarku. Dengan lidahnya, ia pandai sekali menggelitik buah dada sampai perutku. Sekali lagi aku melulu mendesis-desis mendapat rangsangan yang menggelora itu. Kemudian tanpa kuduga, dengan cepat Mas Adhi mencungkil celana dan celana dalamku dalam satu tarikan. Lagi-lagi aku berjuang melawan, namun dengan tubuh besar dan tenaga powerful yang dipunyai Mas Adhi, dengan gampang ia menaklukkan perlawananku.
Sekarang tubuhku yang ramping dan berkulit putih ini benar-benar telanjang total di hadapan Mas Adhi. Sungguh, aku belum pernah sekalipun telanjang di hadapan pria lain, kecuali di hadapan suamiku. Sebelumnya aku pun tidak pernah beranggapan melakukan tindakan seperti ini. Tetapi kini, Mas Adhi sukses memaksaku, sedangkan aku laksana pasrah saja tanpa daya.
“Mas, guna yang satu ini tidak boleh Mas, aku tidak hendak merusak keutuhan perkawinanku..!” pintaku sambil mendekam di atas lokasi tidur, untuk mengayomi buah dada dan vaginaku yang sekarang tanpa penutup.
“Ri.. apa.. kamu.. nggak kasihan padaku sayang.., aku telah terlanjur terbakar.., aku nggak powerful lagi, sayang. Please, aku.. mohon,” kata Mas Adhi masih dengan terbata-bata dan wajah yang memelas.
Entah sebab aku tidak tega atau sebab aku sendiri pun sudah terbakar birahi, aku diam saja saat Mas Adhi kembali mengerjakan tubuhku. Bibir dan di antara tangannya mengerjakan kedua buah dadaku, sedangkan tangan yang satunya lagi mengusap-usap paha dan selangkangan kakiku. Mataku benar-benar merem-melek merasakan kesenangan itu. Sementara napasku pun semakin terengah-engah.
Tiba-tiba saja Mas Adhi beranjak dan dengan cepat melepas seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya. Kini ia sama denganku telanjang bulat-bulat. Ya ampun, aku tidak bisa percaya, sekarang aku telanjang dalam satu kamar dengan pria yang bukan suamiku, ohh. Aku menyaksikan tubuh Mas Adhi yang memang atletis, besar dan kekar. Ia jauh lebih tinggi dan lebih banyak dibanding suamiku yang berperawakan sedang-sedang saja.
Tetapi yang menciptakan dadaku berdegup lebih keras ialah benda di selangkangan Mas Adhi. Benda yang besarnya nyaris sama dengan lenganku tersebut berwarna coklat tua dan sekarang tegak mengacung. Panjangnya kutaksir tidak tidak cukup dari 22 cm, atau nyaris dua kali lipat dibanding kepunyaan suamiku, sedangkan besarnya selama 3 hingga 4 kali lipatnya. Sungguh aku nyaris tidak percaya terdapat penis sebesar dan sepanjang itu. Perasaanku bercampur baur antara ngeri, gemas dan penasaran.
Kini tubuh telanjang Mas Adhi mendekapku. Darahku laksana terkesiap saat merasakan dada bidang Mas Adhi menempel erat dadaku. Ada sensasi hebat yang melandaku, saat dada yang kekar tersebut merapat dengan tubuhku. Ohh, baru kali ini kurasakan dekapan pria lain di samping suamiku. Ia masih terus menciumi sekujur tubuhku, sedangkan tangannya pun tidak kenal lelah meremas-remas buah dadaku yang semakin kenyal. Sekali lagi, sebelumnya tidak pernah kurasakan sensasi dan rangsangan sedahsyat ini.
Aku tersentak saat kurasakan terdapat benda yang masuk dan menggelitik lubang vaginaku. Ternyata Mas Adhi nekat memasukkan jari tangannya ke celah vaginaku. Ia memutar-mutarkan telunjuknya di dalam lubang vaginaku, sampai-sampai aku benar-benar nyaris tidak powerful lagi menahan kesenangan yang menderaku. Mendapat serangan yang spektakuler nikmat itu, secara refleks aku memutar-mutarkan pantatku. Toh, aku masih berjuang menolaknya.
“Mas, tidak boleh sampai dimasukkan jarinya, lumayan di luaran saja..!” pintaku.
Tetapi lagi-lagi Mas Adhi tidak menggubrisku. Ia selanjutnya menelusupkan kepalanya di selangkanganku, kemudian bibir dan lidahnya tanpa henti melumat berakhir vaginaku. Aku tergetar hebat mendapat rangsangan ini. Tidak powerful lagi menahan kesenangan itu, tanpa sadar tanganku menjambak rambut Mas Adhi yang masih megap-megap di selangkanganku. Kini aku benar-benar sudah tenggelam dalam birahi.
Ketika kesenangan birahi benar-benar menguasaiku, dengan tiba-tiba, Mas Adhi melepaskanku dan berdiri di ambang tempat tidur. Ia mengocok-ngocok batang penisnya yang berukuran spektakuler tersebut.
“Udah nyaris setengah jam, dari tadi aku terus yang aktif, capek nih. Sekarang ganti anda dong Ri yang aktif..!” kata Mas Adhi.
“Aku nggak bisa, Mas. Lagian aku masih takuut..!” jawabku dengan malu-malu.
“Oke bila gitu pegang aja iniku, please, aku mohon, Ri..!” ujarnya seraya menyodorkan batang penis besar tersebut ke hadapanku.
Dengan malu-malu kupegang batang yang keras dan berotot itu. Lagi-lagi dadaku berdebar-debar dan darahku berdesir saat tanganku mulai memegang penis Mas Adhi. Sejenak aku sempat membayangkan, bagaimana nikmatnya andai penis yang besar dan keras tersebut dimasukkan ke lubang vagina perempuan.
“Besaran mana dengan kepunyaan suamimu Ri..?” goda Mas Adhi.
Aku tidak membalas walau dalam hati aku mengakui, penis Mas Adhi jauh lebih banyak dan lebih panjang dibanding kepunyaan suamiku.
“Diapakan nih Mas..? Sumpah aku nggak dapat apa-apa,” kataku seraya menggenggam batang penis Mas Adhi.
“Oke, biar gampang, dikocok aja, sayang. Bisakan..?” jawab Mas Adhi lembut.
Dengan dada berdegup kencang, kukocok perlahan-lahan penis yang besar kepunyaan Mas Adhi. Ada sensasi tersendiri saat aku mulai mengocok buah zakar Mas Adhi yang paling besar tersebut. Gila, tanganku nyaris tidak lumayan menggenggamnya. Aku bercita-cita dengan kukocok penisnya, sperma Mas Adhi cepat muncrat, sampai-sampai ia tidak dapat melakukan lebih jauh terhadap diriku.
Mas Adhi yang sekarang telentang di sampingku memejamkan matanya saat tanganku mulai naik-turun mengocok batang zakarnya. Napasnya mendengus-dengus, tanda bila nafsunya mulai bertambah lagi. Aku sendiri pun terangsang menyaksikan tubuh tinggi besar di hadapanku laksana tidak berdaya dikuasai rasa nikmat. Tiba-tiba ia memutar tubuhnya, sampai-sampai kepalanya sekarang tepat sedang di selangkanganku, kebalikannya kepalaku pun menghadap tepat di selangkangannya. Mas Adhi pulang melumat lubang kemaluanku. Lidahnya menjilat-jilat tanpa henti di rongga vaginaku.
BERSAMBUNG.
