Part 4
“Kaamuu ingiin.. lagii.. Rii..?” tanya Mas Adhi.
“Eehh..” melulu itu jawabku.
Kini kami pulang menggelepar-gelepar bersama.
Tiba-tiba Mas Adhi bergulung, sampai-sampai posisinya sekarang berbalik, aku di atas, Mas Adhi di bawah.
“Ayoohh gaannttii..! Kaammuu yang di atass..!” kata Mas Adhi.
Dengan posisi di atas tubuh Mas Adhi, pantatku kuputar-putar, maju-mundur, kiri-kanan, guna mengocok batang penis Mas Adhi yang masih mengacung di lubang vaginaku. Dengan agak malu-malu aku pun ganti menjilat leher dan puting Mas Adhi. Mas Adhi yang telentang di bawahku melulu dapat merem-melek sebab kenikmatan yang kuberikan.
“Tuuh.., biisaa kaan..! Kaatanya taa.. dii.. nggak.. bisaa..,” ujar Mas Adhie seraya balas menciumku dan meremas-remas buah dadaku.
Hanya selang lima menit sesudah aku sedang di atas, lagi-lagi kesenangan luar biasa datang menderaku. Aku semakin powerful menghunjam-hunjamkan vaginaku ke batang penis Mas Adhi. Tubuhku yang ramping semakin erat memeluk Mas Adhi. Aku pun semakin binal membalas ciuman Mas Adhi.
“Maass.. aakuu.. haampiir.. orgasmee.. laggii.. Maass..!” kataku terengah-engah.
Tahu bila aku bakal orgasme kedua kalinya, Mas Adhi langsung bergulung membalikku, sampai-sampai aku pulang di bawah. Dengan napas yang terengah-engah, Mas Adhi yang sudah berada di atas tubuhku semakin cepat memompa selangkanganku. Tak ayal lagi, rasa nikmat tiada tara terasa di sekujur tubuhku. Lalu rasa nikmat tersebut seperti mengalir dan berkumpul ke selangkanganku. Mas Adhi kupeluk sekuat tenaga, sedangkan napasku semakin tidak menentu.
“Kalauu maau orgasmee ngomong Sayang, biaar leepass..!” desah Mas Adhi.
Karena tidak powerful lagi menyangga nikmat, aku pun merintih keras.
“Teruss.., teruss.., akuu.. orgasmee Mass..!” desahku, sedangkan tubuhku masih terus menggelepar-gelepar dalam tindihan tubuh Mas Adhi.
Belum reda kesenangan klimaks yang kurasakan, tiba-tiba Mas Adhi mendengus-dengus semakin cepat. Tangan kekarnya mendekapku erat-erat seperti hendak meremukkan tulang-tulangku. Ia benar-benar membuatku tidak bisa bergerak. Napasnya terus memburu. Genjotannya di vaginaku pun semakin keras dan cepat. Kemudian tubuhnya bergetar hebat.
“Rii.., akuu.. maauu.. keluuarr Sayang..!” erangnya tidak tertahankan.
Melihat Mas Adhi yang nyaris keluar, pantatku kuputar-putar semakin cepat. Aku pun semakin erat memeluknya. Crot.. croot.. croot..! Sperma Mas Adhi terasa paling deras muncrat di lubang vaginaku. Mas Adhi memajukan pantatnya sekuat tenaga, sampai-sampai batang kejantanannya benar-benar menancap sedalam mungkin di lubang kemaluanku. Aku menikmati lubang vaginaku terasa hangat oleh cairan sperma yang mengucur dari penis Mas Adhi.
Gila, sperma Mas Adhi spektakuler banyaknya, sampai-sampai seluruh lubang vaginaku terasa basah kuyup. Bahkan sebab saking banyaknya, sperma Mas Adhi belepotan sampai ke bibir vagina dan pahaku. Berangsur-angsur gelora kenikmatan tersebut mulai menurun.
Untuk sejumlah saat Mas Adhi masih menindihku, keringat kami juga masih bercucuran. Setelah tersebut ia berguling di sampingku. Aku temenung menatap langit-langit kamar. Begitupun dengan Mas Adhi. Ada sesal yang mengendap dalam hatiku. Kenapa aku mesti menodai kesetiaan terhadap perkawinanku, itulah pertanyaan yang bertalu-talu mengetuk perasaanku.
“Maafkan aku, Ri. Aku sudah khilaf dengan memaksamu mengerjakan perbuatan ini,” ujar Mas Adhi lirih.
Aku tidak menjawab. Kami berdua kembali tercenung dalam alam benak masing-masing. Bermenit-menit lantas tidak sepatah kata juga yang terbit dari mulut kami berdua.
Tiba-tiba Yani mengetuk pintu seraya berteriak, “Hee, telah siang lho.., mari pulang..!”
Dengan masih tetap diam, aku dan Mas Adhi segera beranjak, membenahi lalu berjalan terbit kamar. Tanpa ucapan-ucapan pula Mas Adhi mengecup keningku ketika pintu kamar bakal kubuka.
“Hayo, lagi ngapain kok pintunya pakai diblokir segala..?” kelakar Yani.
“Ah, nggak apa-apa kok, anda cuman ketiduran tadi.” jawabku dengan perasaan malu.
Sementara Mas Adhi melulu tersenyum.
“Tenang aja, Mbak Fitri. Aku janji nggak akan mengisahkan ini ke orang beda kok..!” ujar Yani dengan masih cengengesan.
Begitulah, sampai seminggu sesudah kejadian tersebut rasa sesal masih mendera perasaanku. Selama tersebut hatiku tidak jarang kali diketuk pertanyaan, mengapa akhirnya aku mesti mengkhianati suamiku. Hanya saja, saat mulai memasuki minggu kedua, tiba-tiba rasa sesal tersebut seperti menguap begitu saja. Yang hadir dalam perasaanku kemudian ialah kerinduan pada Mas Adhi. Sungguh dadaku tidak jarang berdebar-debar lagi masing-masing kali kuingat kesenangan luar biasa yang diserahkan Mas Adhi ketika itu. Aku tidak jarang kali terbayang dengan keperkasaan Mas Adhi di atas ranjang, yang tersebut semua tidak dipunyai suamiku.
Maka sesudah itu, kami masih tidak jarang jalan-jalan bareng dengan Mas Adhi. Bahkan nyaris rutin sebulan 2 hingga 4 kali aku dan Mas Adhi tidak jarang kali melepas hasrat bersama. Dan jelas tersebut lebih menggelora lagi dibanding kencan kami yang kesatu. Sementara guna menyembunyikan tersebut semua, aku bersikap biasa-biasa saja terhadap suamiku. Ia pun masih sering memicu diri dengan berfantasi aku disetubuhi pria lain. Tetapi ia tidak tahu, bahwasannya telah ada pria lain yang benar-benar sudah menyetubuhi isterinya. Dan aku tidak pernah bercerita padanya. Ini melulu menjadi rahasiaku dan rahasia Mas Adhi.
TAMAT.
