Part 1
Sebut saja namaku Fitri, umur saya 27 tahun dan sudah bersuami. Menurut tidak sedikit teman, aku ialah seorang wanita yang lumayan cantik dengan kulit putih bersih. Walaupun demikian, postur tubuhku sebetulnya terhitung ramping dan kecil. Tinggi badanku melulu 154 cm. Tetapi meskipun bertubuh ramping, pantatku lumayan bulat dan berisi. Sedangkan buah dadaku yang melulu berukuran 34 pun nampak padat dan serasi dengan format tubuhku.
Aku bekerja sebagai karyawati staf accounting pada suatu toserba yang lumayan besar di kotaku. Sehingga aku mengenal tidak sedikit relasi dari semua pekerja perusahaan beda yang memasok barang ke toko tempatku bekerja. Dari sinilah cerita yang bakal kupaparkan ini terjadi.
Sebagai seorang istri, aku sebetulnya adalahtipe istri yang setia pada suami. Aku tidak jarang kali berprinsip, tidak ada pria lain yang menyentuh hati dan tubuhku, kecuali suamiku yang paling kucintai. Dan sebelum cerita ini terjadi, aku memang tidak jarang kali dapat mengawal kesetiaanku. Jangankan disentuh, tertarik dengan pria lain juga adalahpantangan bagiku.
Tetapi begitulah, sejumlah bulan terakhir, malah suamiku mempunyai imajinasi gila. Ia seringkali menuliskan padaku, ia tidak jarang kali terangsang andai membayangkan diriku bersetubuh dengan pria lain. Entahlah, barangkali ia terpengaruh dengan kisah kawan-kawannya. Atau mungkin pun termakan oleh bacaan-bacaan seks yang tidak jarang dibacanya. Pada awalnya, aku jengkel masing-masing kali ia mengatakan urusan tersebut padaku. Namun lama kelamaan, entah kenapa, aku pun mulai terangsang oleh khayalan-khayalannya.
Setiap ia menuliskan dirinya hendak melihat aku digumuli pria lain, tiba-tiba dadaku berdebar-debar. Tanda bila aku pun mulai terangsang dengan fantasinya itu. Bersamaan dengan tersebut di toko tempatku bekerja, aku semakin akrab dengan seorang karyawan perusahaan penyaluran yang biasa datang memasok barang. Sebutlah namanya Mas Adhi. Ia seorang pria berbadan tinggi besar dan lumayan atletis, tingginya lebih dari 180 cm. Sedang umur sekitar 35 tahun. Sungguh aku tidak pernah memiliki pikiran atau perasaan tertarik padanya.
Pada tadinya hubunganku, biasa-biasa saja. Keakrabanku sekedar hubungan kerja. Namun begitulah, Mas Adhi yang berstatus duda tersebut selalu bersikap baik padaku. Kuakui pula, ia adalahpria yang simpatik. Ia paling pandai memungut hati orang lain. Begitu perhatiannya pada diriku, Mas Adhi seringkali menyerahkan hadiah padaku. Misalnya pada ketika lebaran dan tahun baru, Mas Adhi memberiku bonus yang lumayan besar. Padahal karyawan beda di tokoku tidak satupun yang mendapatkannya. Bahkan ketika datang ke tokoku, ia kadang mau membantu pekerjaanku. Mas Adhi bisa saja melakukan tersebut sebab ia paling akrab dengan bosku.
Hingga sebuah ketika, sewaktu aku sedang menghitung finansial bulanan perusahaan, tiba-tiba Mas Adhi hadir di depan meja kerjaku.
“Aduh sibuknya, hingga nggak lihat terdapat orang datang,” sapa Mas Adhi klise.
“Eh, sorry Mas, ini baru ngitung finansial akhir bulan,” jawabku.
“Jangan terlampau serius, nanti nggak kelihatan cakepnya lho..!” Mas Adhi masih bergurau.
“Ah, Mas Adhi dapat aja,” aku membalas pendek seraya tetap berkonsentrasi ke pekerjaanku.
Setelah tersebut seperti biasanya, di sela-sela pekerjaanku, aku dan Mas Adhi membual dan bersendau-gurau ke sana kemari. Tidak terasa telah satu jam aku membual dengannya.
“Ri, aku inginkan ngasih hadiah tahun baru, Fitri inginkan terima nggak?” tanyanya tiba-tiba.
“Siapa sih yang nggak inginkan dikasih hadiah. Mau dong, asal kriterianya hadiahnya yang tidak sedikit lho,” jawabku bergurau.
“Aku pun punya kriteria lho Ri. Hadiah tersebut akan kuberikan bila Fitri inginkan memejamkan mata. Mau nggak?” tanyanya lagi.
“Serius nih? Oke bila cuman tersebut syaratnya aku mau,” kataku seraya menejamkan mata.
“Awas tidak boleh buka mata hingga aku memberi aba-aba..!” kata Mas Adhi lagi.
Sambil terpejam, aku penasaran hadiah apa yang bakal diberikannya. Tetapi, ya ampun, pada ketika mataku terpejam, tiba-tiba aku menikmati ada benda yang empuk menyentuh bibirku. Tidak melulu menyentuh, benda tersebut juga melumat bibirku dengan halus. Aku langsung tahu, Mas Adhi tengah menciumku. Maka aku langsung membuka mata. Dari sisi meja di hadapanku, Mas Adhi menunduk dan menciumi diriku. Tetapi anehnya, setelah tersebut aku tidak berjuang menghindar.
Untuk sejumlah lama, Mas Adhi masih melumat bibirku. Kalau inginkan jujur aku pun ikut menikmatinya. Bahkan sejumlah saat secara refleks aku pun membalas melumat bibir Mas Adhi. Sampai lantas aku sadar, kemudian kudorong dada Mas Adhi sampai ia terjengkang ke belakang.
“Mas, seharusnya ini nggak boleh terjadi,” kataku dengan nada tergetar menyangga malu dan sungkan yang menggumpal di hatiku.
Mas Adhi terdiam sejumlah saat.
“Maaf fit, barangkali aku terlampau nekat. Seharusnya aku sadar anda sudah menjadi kepunyaan orang lain. Tetapi berikut kenyataannya, aku paling sayang padamu fit,” ujarnya dengan lirih seraya meninggalkanku.
Seketika tersebut aku merasa paling menyesal. Aku merasa sudah menghianati suamiku. Tetapi uniknya peristiwa semacam tersebut masih terulang hingga sejumlah kali. Beberapa kali peluang Mas Adhi berangjangsana ke tokoku, ia tidak jarang kali memberiku ‘hadiah’ laksana itu. Tentu, tersebut dilakukannya andai kawan-kawanku tidak terdapat yang melihat. Meskipun pada kesudahannya aku menolaknya, tetapi anehnya, aku tidak pernah marah terhadap perbuatan Mas Adhi itu.
Entahlah, aku sendiri bingung. Aku tidak tahu, apakah ini disebabkan pengaruh imajinasi suamiku yang terangsang andai membayangkan aku berselingkuh. Ataukah sebab aku jatuh cinta pada Mas Adhi. Sekali lagi, aku tidak tahu. Bahkan dari hari ke hari, aku semakin dekat dan akrab dengan Mas Adhi.
Hingga pada sebuah saat, Mas Adhi mengajakku jalan-jalan. Awalnya aku tidak jarang kali menolaknya. Aku khawatir bila kedekatanku dengannya menjadi penyebab perselingkuhan yang sebenarnya. Tetapi sebab ia tidak jarang kali mendesakku, kesudahannya aku juga menerima ajakkannya. Tetapi aku mengemukakan syarat, supaya salah seorang sahabat kerjaku pun diajaknya. Dengan menyuruh kawan, aku bercita-cita Mas Adhi tidak bakal berani mengerjakan perbuatan yang tidak-tidak.
Begitulah, pada hari Minggu, aku dan Mas Adhi kesudahannya jadi berangkat jalan-jalan. Agar suamiku tidak curiga, aku katakan padanya, hari tersebut aku terdapat lemburan sampai sore hari. Di samping aku dan Mas Adhi, ikut pun kawan kerjaku, Yani dan pacarnya. Oh ya, berempat kami mengemudikan mobil inventaris perusahaan Mas Adhi. Berempat kami jalan-jalan ke sebuah lokawisata pegunungan yang lumayan jauh dari kotaku. Kami sengaja memilih lokasi yang jauh dari kotaku, supaya tidak mengundang ketidakpercayaan tetangga, family dan khususnya suamiku.
Setelah lebih dari satu jam kami berputar-putar di dekat lokasi wisata, Mas Adhi dan pacar Yani menyuruh istirahat di suatu losmen. Yani dan pacarnya mencarter satu kamar, dan kedua orang tersebut langsung hilang di balik pintu tertutup. Maklum dua-duanya baru dimabuk cinta. Aku dengan suamiku masa-masa pacaran dulu pun begitu, jadi aku maklum saja.
Mas Adhi pun menyewa satu kamar di sebelahnya. Aku sebenarnya pun berniat mencarter kamar sendiri namun Mas Adhi melarangku.
“Ngapain boros-boros, bila sekedar tidur satu kamar saja. Tuh, bed-nya terdapat dua,” ujarnya.
Akhirnya aku mengalah. Aku numpang di kamar yang dicarter Mas Adhi.
Kami membual tertawa cekikikan merundingkan Yani dan pacarnya di kamar sebelah. Apalagi, Yani dan pacarnya laksana sengaja mendesah-desah sampai kedengaran di telinga kami. Sejujurnya aku deg-degan pun mendengar desahan Yani yang serupa dengan suara orang megap-megap itu. Entah mengapa dadaku semakin berdegup kencang saat aku mendengar desahan Yani dan menginginkan apa yang sedang mereka kerjakan di kamar sebelah. Untuk sejumlah saat, aku dan Mas Adhi diam terpaku.
Tiba-tiba Mas Adhi unik tanganku sampai aku terduduk di pangkuan Mas Adhi yang ketika sedang duduk di ambang tempat tidur. Tanpa berbicara apa-apa dia langsung menghirup bibirku. Aku tidak sempat menghindar, bahkan aku pun membiarkan saat bibir dan kumis Mas Adhi menempel ke bibirku hingga sejumlah saat. Dadaku semakin berdegup kencang saat kurasakan bibir Mas Adhi melumat mulutku. Lidah Mas Adhi menelusup ke celah bibirku dan menggelitik nyaris semua rongga mulutku. Mendapat serangan mendadak tersebut darahku laksana berdesir, sedangkan bulu tengkukku merinding.
Namun tiba-tiba timbul kesadaranku. Kudorong dada Mas Adhi agar ia melepas pelukannya pada diriku.
“Mass, tidak boleh Mas, ini nggak layak kita lakukan..!” kataku terbata-bata.
Mas Adhi memang melepas ciumannya di bibirku, namun kedua tangannya yang kekar dan kuat tersebut masih tetap mendekap pinggang rampingku dengan erat. Aku pun masih terduduk di pangkuannya.
“Kenapa nggak pantas, toh aku sama dengan suamimu, yakni sama-sama mencintaimu,” ujar Mas Adhi yang terdengar laksana desahan.
Setelah tersebut Mas Adhi pulang mendaratkan ciuman. Ia menjilati dan menciumi semua wajahku, kemudian merembet ke leher dan telingaku. Aku memang pasif dan diam, tetapi perlahan tapi tentu nafsu birahi semakin powerful menguasaiku. Harus kuakui, Mas Adhi paling pandai menyalakan birahiku. Jilatan demi jilatan lidahnya di leherku benar-benar telah menciptakan diriku terbakar dalam kenikmatan. Bahkan dengan suamiku sekalipun aku belum pernah menikmati rangsangan sehebat ini.
BERSAMBUNG.
