Part 3
Sementara aku sendiri masih terus mengocok batang zakar Mas Adhi dengan tanganku.
Kini, kami berdua berkelejotan, sedangkan napas kami pun semakin memburu. Setelah tersebut Mas Adhi beranjak, kemudian dengan cepat ia menindihku. Dari kaca lemari yang terletak di sebelah lokasi tidur, aku dapat menyaksikan tubuh rampingku laksana tenggelam di kasur busa saat tubuh Mas Adhi yang tinggi besar itu mulai menindihku. Dadaku deg-degan menyaksikan adegan kami melewati kaca lemari itu. Gila, sekarang aku yang telanjang digumuli oleh pria yang pun sedang telanjang, dan lelaki tersebut bukan suamiku.
Mas Adhi pulang melumat bibirku. Kali ini teramat lembut. Gila, aku bahkan tanpa malu lagi mulai menjawab ciumannya. Lidahku kujulurkan guna menggelitik rongga mulut Mas Adhi. Mas Adhi terpejam menikmati seranganku, sedangkan tangan kekarnya masih erat mendekap tubuhku, laksana tidak akan dicungkil lagi.
Bermenit-menit kami terus berpagutan saling memompa birahi masing-masing. Peluh kami mengucur deras dan berbaur di tubuhku dan tubuh Mas Adhi. Dalam posisi tersebut tiba-tiba kurasakan terdapat benda yang kenyal mengganjal di atas perutku. Ohh, aku semakin terangsang luar biasa saat kusadari benda yang mengganjal itu ialah batang kemaluan Mas Adhi. Tiba-tiba kurasakan batang zakar tersebut mengganjal tepat di bibir lubang kemaluanku. Rupanya Mas Adhi nekat berjuang memasukkan batang penisnya ke vaginaku. Tentu saja aku tersentak.
“Mas.. Jangan dimasukkan..! Jangan dimasukkan..!” kataku seraya tersengal-sengal menyangga nikmat.
Aku tidak tahu apakah permintaanku tersebut tulus, karena di sisi hatiku yang beda sejujurnya aku juga hendak merasakan alangkah nikmatnya saat batang kemaluan yang besar tersebut masuk ke lubang vaginaku.
“Oke.. bila nggak boleh dimasukkan, kugesek-gesekkan di bibirnya saja, yah..?” jawab Mas Adhi pun terengah-engah.
Kemudian Mas Adhi pulang memasang ujung penisnya tepat di celah kamaluanku. Sungguh aku deg-degan luar biasa saat merasakan kepala penis tersebut menyentuh bibir vaginaku. Namun sebab batang zakar Mas Adhi memang berukuran super besar, Mas Adhi paling sulit memasukannya ke dalam celah bibir vaginaku. Padahal, andai aku bersetubuh dengan suamiku, penis suamiku masih terlampau kekecilan guna ukuran lubang senggamaku.
Setelah tidak banyak dipaksa, kesudahannya ujung kemaluan Mas Adhi sukses menerobos bibir kemaluanku. Ya ampun, aku menggeliat hebat saat ujung penis besar tersebut mulai menerobos masuk. Walaupun awalnya sedikit perih, namun selanjutnya rasa nikmatnya sungguh tiada tara. Seperti janji Mas Adhi, penisnya yang berkukuran jumbo itu melulu digesek-gesekkan di bibir vagina saja. Meskipun melulu begitu, kesenangan yang kurasa benar-benar membuatku nyaris teriak histeris. Sungguh batang zakar besar Mas Adhi tersebut luar biasa nikmatnya.
Mas Adhi terus menerus memaju-mundurkan batang penis sekedar di bibir vagina. Keringat kami berdua semakin deras mengalir, sedangkan mulut kami terus berpagutan.
“Ayoohh.., ngoommoong Saayaang, giimaanna raasaanyaa..?” kata Mas Adhi tersengal-sengal.
“Oohh.., teerruss.. Maass.. teeruuss..!” ujarku sama-sama tersengal.
Entah bagaimana mula mulanya, tiba-tiba kurasakan batang kemaluan yang besar tersebut telah amblas seluruh ke vaginaku. Bless.., perlahan tapi tentu batang penis yang besar tersebut melesak ke dalam lubang kemaluanku. Vaginaku terasa sarat sesak oleh batang penis Mas Adhi yang sangat-sangat besar itu.
“Lohh..? Mass..! Dimaassuukiin seemmua yah..?” tanyaku.
“Taangguung, Saayang. Aku nggak tahhann..!” ujarnya dengan terus memompa vaginaku secara perlahan.
Entahlah, kali ini aku tidak protes. Ketika batang penis tersebut amblas seluruh di vaginaku, aku melulu dapat megap-megap dan merasakan kesenangan yang sekarang semakin tertahankan. Begitu besarnya penis Mas Adhi, sampai-sampai lubang vaginaku terasa paling sempit. Sementara sebab tubuhnya yang berat, batang penis Mas Adhi semakin tertekan ke dalam vaginaku dan melesak sampai ke dasar rongga vaginaku. Sangat terasa sekali bagaimana rasanya batang zakar menggesek-gesek dinding vaginaku.
Tanpa sadar aku juga mengimbangi genjotan Mas Adhi dengan menggoyangkan pantatku. Kini tubuh rampingku laksana timbul-tenggelam di atas kasur busa ditindih oleh tubuh besar Mas Adhi. Semakin lama, genjotan Mas Adhi semakin cepat dan keras, sampai-sampai badanku tersentak-sentak dengan hebat. Clep.., clep.., clep.., clep.., begitulah bunyi batang zakar Mas Adhi yang terus memompa selangkanganku.
“Teerruss Maass..! Aakuu.. nggaak.. kuuaatt..!” erangku berulang-ulang.
Sungguh berikut permainan seks yang sangat nikmat yang pernah kurasakan. Aku telah tidak beranggapan lagi mengenai kesetiaan terhadap suamiku. Mas Adhi benar-benar sudah menenggelamkanku dalam gelombang kenikmatan. Persetan, toh suamiku sendiri tidak jarang berkhayal aku disetubuhi pria lain.
Tidak berapa lama kemudian, aku menikmati rasa nikmat yang spektakuler di sekujur tubuhku. Badanku menggelepar-gelepar di bawah gencetan tubuh Mas Adhi. Seketika tersebut seperti tidak sadar, kucium lebih berani bibir Mas Adhi dan kupeluk erat-erat.
“Mmaass.. aakkuu.. haampiirr.. oorrgaassmmee..!” desahku saat aku nyaris menggapai puncak kenikmatan.
Tahu bila aku nyaris orgasme, Mas Adhi semakin kencang menghunjam-hunjamkan batang kejantanannya ke selangkanganku. Saat tersebut tubuhku kian meronta-ronta di bawah dekapan Mas Adhi yang paling kuat. Akibatnya, tidak lama lantas aku benar-benar klimaks!
“Kaalauu.. uudahh.. orrgassme.. ngoommoong.. Saayaang.. biaarr.. aakuu.. ikuut.. puuaass..!” desah Mas Adhi.
“Oohh.. aauuhh.. aakkuu.. klimaks.. Maass..!” jawabku.
Seketika dengan refleks tangan kananku menjambak rambut Mas Adhi, sementara tangan kiriku memeluknya erat-erat. Pantatku kunaikkan ke atas supaya batang kemaluan Mas Adhi bisa menancap sedalam-dalamnya.
Setelah kesenangan puncak itu, tubuhku melemas dengan sendirinya. Mas Adhi pun menghentikan genjotannya.
“Aku belum keluar, Sayang. Tahan sebentar, ya..! Aku terusin dulu,” ujarnya lembut sambil menghirup pipiku.
Gila, aku dapat orgasme walaupun posisiku di bawah. Padahal andai dengan suamiku, guna orgasme aku mesti berposisi di atas dulu. Tentu ini sebab Mas Adhi yang jauh lebih perkasa dibanding suamiku, di samping batangannya yang memang paling besar dan nikmat spektakuler untuk vagina perempuan.
Meskipun kurasakan tidak banyak ngilu, kubiarkan Mas Adhi memompa terus lubang vaginaku. Karena lelah, aku pasif saja saat Mas Adhi masih terus menggumuliku. Tanpa perlawanan, sekarang badanku yang kecil dan ramping benar-benar terbenam ditindih tubuh besar Mas Adhi. Clep.. clep.. clep.. clep. Kulirik ke bawah menyaksikan kemaluanku yang tengah dihajar batang kejantanan Mas Adhi. Gila, vaginaku ditembus penis sebesar itu. Dan lebih tak waras lagi, batang zakar besar seperti tersebut ternyata nikmatnya tidak terkira.
Mas Adhi semakin lama semakin kencang memompakan penisnya. Sementara mulutnya tidak henti-hentinya menciumi pipi, bibir dan buah dadaku. Mendapat rangsangan tanpa henti seperti tersebut tiba-tiba nafsuku bangkit kembali. Kurasakan kesenangan merambat lagi dari selangkanganku yang dengan kencang dipompa Mas Adhi. Maka aku balik menjawab ciuman Mas Adhi, sedangkan pantatku pulang kuputar-putar mengimbangi penis Mas Adhi yang masih perkasa menusuk-nusuk lubang kemaluanku.
BERSAMBUNG.
