Sore itu aku terbangun Kulihat jam di mejaku menunjukkan pukul 4.00 sore Iseng aku memanjat dinding tembok pembatas kamarku, mau melihat tetangga sebelahku. Melalui ventilasi kulihat Mas Sawut dan Fitri sedang tidur-tiduran sambil mengobrol di atas tempat tidur. Aku mengawasi terus, kulihat Mas Sawut hanya memakai singlet, begitu juga Fitri yang hanya memakai baju dalam.
“Dasar pengantin baru, pasti mau main, ayo kapan mainnya ?” pikirku mulai tak sabaran.
Kulihat Mas Sawut dan Fitri berbicara sambil berpelukan, aku kurang bisa menangkap apa yang mereka bicarakan. Sesekali Fitri tertawa cekikikan. Beberapa kali pula aku amati Mas Sawut meremas payudara Fitri.
Lama aku menunggu, hingga akhirnya yang aku harapkan terjadi juga. Tiba-tiba Mas Sawut membuka celana pendeknya dan memegang tangan Fitri, menyuruh Fitri memegang penis Mas Sawut. Fitri kelihatannya menurut dan me-masukkan tangannya ke dalam celana Mas Sawut, tetapi baru sebentar sudah ditariknya kembali, tampaknya Fitri menolak.
“Yaaa….. itu aja nggak mau, apalagi kalau disuruh karaoke” desahku dalam hati kecewa.
Namun kekecewaanku terobati karena sejurus kemudian Mas Sawut tiba-tiba bangkit dari tempat tidur dan melepas celananya. Kini ia hanya bercelana dalam dan bersinglet. Kemudian serta merta ia memeluk Fitri. Aku tersenyum kegirangan, keinginanku untuk melihat keduanya mengentot tampaknya akan terpenuhi.
Tak lama, Mas Sawut melepas pelukannya dan Fitripun mulai melepas celananya. Kini sama seperti suaminya, Fitri hanya bersinglet dan bercelana dalam. Kulihat pahanya, putih dan mulus sekali.
Kemudian mendadak Mas Sawut mengeluarkan penisnya dari celana dalamnya.
“Kecil sekali, dibandingkan punyaku,” kataku dalam hati melihat penis Mas Sawut.
Mas Sawutpun langsung meng-himpit Fitri, tampaknya Mas Sawut akan mempenetrasi Fitri. Kulihat Fitri memelorotkan celana dalamnya hanya sampai sebatas paha. Sejurus kemudian aku melihat pelan Mas Sawut memasukkan penisnya ke dalam lubang vagina Fitri yang tertutup bulu jembut. Setelah penis Mas Sawut masuk keseluruhannya ke dalam pepek Fitri, Mas Sawut langsung memeluk Fitri sambil menciumnya bertubu-tubi. Itu dilakukan cukup lama.
Aku sedikit keheranan kenapa Mas Sawut tidak melakukan genjotan, tidak mendorong-dorong pinggulnya ? Mas Sawut hanya diam memeluk Fitri.
“Waaah…..ini pasti karena Mas Sawut nggak tahan bermain lama, nggak seperti aku” kataku dalam hati, tertawa, merasa unggul dari Mas Sawut.
Disinilah aku mulai melihat adanya kesempatanku untuk turut melakukan “tumpangsari” pada Fitri.
Ditambah lagi, kejadian itu hanya berlangsung sangat singkat, sekitar 5 menit. Meskipun kulihat Fitri tetap bisa mencapai orgasmenya, tetapi cepat pula Mas Sawut menyusulnya. Aku me-nangkap kekecewaan di muka Fitri, meski Fitri berusaha tersenyum setelah “permainan” itu, tapi aku yakin ia tidak puas dengan permainan Mas Sawut.
Peristiwa “observasi awal” hari kemarin itu membuatku mengambil kesimpulan, ada kemungkinan aku menyetubuhi Fitri dan merasakan nikmat tubuhnya, kalau perlu aku juga akan menanam saham di tubuh Fitri !
Itulah tekadku, aku mulai me-nyusun taktik. Mas Sawut itu belum bekerja, ada kesempatan bagiku untuk membuatnya berpisah cukup lama dari Fitri. Apalagi aku punya kenalan yang bekerja di perusahaan, namanya Toni.
Siang ini aku menjumpai Toni di kantornya,
“Hai Dit, apa kabar ?” tanya Toni sambil menjabat tanganku.
“Baik“ jawabku sambil ter-senyum.
“Silahkan duduk”
Setelah aku duduk di kursi kantornya yang empuk itu, aku mulai mengajukan permintaan,
“Ton, aku butuh bantuanmu”
“Oh, itu semua bisa diatur, bantuan apa ?”
“Aku butuh pekerjaan”
“Bisa, bisa, kamu mau kerja di mana ? gaji berapa ?”
“Oh..nggak ! Maksudku bukan untuk diriku, tapi ini untuk orang lain”
“Hm memangnya untuk siapa ?”
“Untuk temanku, Mas Sawut, kamu wawancarai, tempatkan di mana saja kamu suka, nggak perlu tinggi-tinggi betul jabatannya”
“Aneh…tapi jika itu maumu, yaa tidak apa-apa”
“Yang penting kamu wawancarai dia cukup lama, beberapa kali”
“Oke, baik kalau gitu”
“Tapi…nanti jadwal wawanca-ranya aku yang tentuin”
“Terserah kamu”
Maka mulailah aku menyusun jadwal wawancaranya, mulai lusa, hari rabu sampai jum’at dari jam 07.00 sampai 10.00 pagi.
Toni menyetujuinya, kemudian aku permisi pulang.
Dalam perjalanan pulang, hatiku sangat senang, sudah terbayang nikmatnya tubuh Fitri itu.
Sesampainya di kos-kosanku, aku langsung bertemu dengan Mas Sawut di tempat cuci, tampak Mas Sawut sedang menyuci bajunya.
“Mas…….saya ingin bicara se-bentar” kataku mulai membuka percakapan.
Mas Sawutpun menoleh dan menghentikan pekerjaannya.
“Ada apa Dit ?”
“Begini…….saya dengar Mas Sawut mencari pekerjaan, kebetulan tadi saya ke tempat teman saya, dia perlu pegawai baru, dianya sih malas menaruh iklan di koran, soalnya dia hanya butuh satu orang” jawabku panjang lebar menjelaskan. Sedikit berdebar-debar aku menunggu tanggapan, takut tawaranku ditolak.
Lama Mas Sawut kulihat terdiam, merenung, lalu
“Hmmm….saya pikir dulu, sebelumnya terima kasih ya ?!”
“Ya Mas” kataku dengan senyuman.
Dalam hatiku, aku berpikir “Habislah sudah kesempatanku !”
Tapi setelah di dalam kamar, sekitar 2 jam kemudian aku yang tertidur, terbangun oleh ketukan di pintu. Aku lalu bangun, mengucek-ngucek mataku, melihat dari jendela. Tampak Mas Sawut berdiri menunggu. Akupun cepat-cepat membuka pintu
“Wah..sedang tidur ya, kalau gitu nanti saja” Mas Sawut tiba-tiba permisi.
“Eee….nggak..nggak koq Mas, saya sudah bangun nih” kataku berusaha mencegah Mas Sawut pergi.
“Gangguin tidur kamu nggak ?”
“Ndak…ndak kok, masuk aja” kataku mempersilahkan.
Setelah kami berdua duduk di karpet kamarku,
“Begini, ini soal lamaran kerja yang kamu bilang itu, tempatnya di mana sih ?” Mas Sawut bertanya.
“Ooo…itu di Kaliurang km 7 nomor 14, nama perusahaannya DHL, nggak jauh kok”
“Syaratnya gimana ?”
“Saya kurang tau juga tuh, Mas Sawut pergi saja ke sana. temui teman saya, Toni, katakan Mas butuh pekerjaan, tahunya dari ADit”
“Wah…kok rasanya kurang enak ya, seperti nepotisme saja” Mas Sawut sepertinya keberatan.
“Enggak….nggak… koq, perusahaannya besar, Mas ke sana juga belum tentu diterima, Mas tetap melalui tes dulu” kataku meya-kinkan Mas Sawut.
“Hmmm…baiklah, tak coba dulu, jam berapa ya ke sana ?”
“Sekitar jam kerja saja baiknya, jam 07.00 pagi saja” kataku me-nyarankan.
Mas Sawut hanya mengangguk tersenyum, lalu permisi seraya tak lupa berterima kasih kepadaku. Aku hanya tersenyum, berarti selangkah lagi keinginanku tercapai.
Hari ini selasa, sesuai pre-diksiku, Mas Sawut pagi-pagi sudah berangkat, dan sekitar jam 11.00 siang baru pulang.
Aku menuju ke kamarnya, lalu mengetuk pintu,
“Assalamu’alaikum” aku memberi salam.
“Wa’alaikumussalam” terdengar jawaban Mas Sawut dari dalam kamarnya.
Lama baru pintu dibuka, dan Mas Sawut mempersilahkanku untuk masuk. Kulihat di dalam kamarnya, istrinya tengah duduk di pinggir tempat tidur dengan memakai jilbab putih, tersenyum padaku. Fitri tampak cantik sekali.
“Bagaimana Mas, tadi ?” tanyaku
“Oh…nanti saya disuruh ke sana lagi, besok untuk test wawancara”
“Alhamdulillah, tak do’ain supaya berhasil”
“Terima kasih”
Setelah berbasa – basi cukup lama, akupun permisi.
“Eehh…nanti dulu, kamu khan belum minum” Mas Sawut berusaha mencegahku.
“Ayo fitri buatkan air minumnya dong” perintah Mas Sawut menyuruh istrinya, Fitri.
Aku menolak dengan halus,
“Ah nggak usah Mas, saya sebentar aja koq, ada urusan”
“Oh baiklah kalau begitu, sekali lagi terima kasih ya”
Aku tersenyum mengangguk, kulihat Fitri tidak jadi membuat minuman. Akupun pergi ke kamarku, riang karena sebentar lagi “adikku” akan bersarang dan menemukan pasangannya.
Hari ini rabu, Mas Sawut sudah berangkat dan meninggalkan Fitri sendirian di kamarnya. Rencana mulai kulaksanakan. Aku membongkar beberapa koleksi Vcd pornoku, memilih salah satunya yang aku anggap paling bagus, Vcd porno dari Indonesia sendiri, lalu membungkusnya dengan kertas merah jambu.
Kemudian sambil membawa bungkusan Vcd itu, aku menuju ke kamar tetanggaku, mengetuk pintu,
“Assalamu’alaikum” aku memberi salam.
Lama baru terdengar jawaban,
“Wa’alaikumussalam” jawaban Fitri dari dalam kamar itu.
Pintunyapun terbuka, kulihat Fitri melongokkan kepalanya yang berjilbab itu dari celah pintu,
“Ada apa ya ?” tanyanya.
“Ini ada hadiah dari saya, saya mau memberikan kemarin tetapi lupa” kataku sambil menunjukkan bungkusan Vcd itu.
“Oh, baiklah” kata Fitri sambil bermaksud mengambil bungkusan di tanganku itu.
“Eee…tunggu dulu Mbak, ini isinya Vcd, saya mau lihat apa bisa muter nggak di komputernya Mas Sawut” kataku mengarang alasan.
Sedikit keberatan kelihatannya, akhirnya Fitri mempersilahkanku untuk masuk, aku yakin dia juga kurang ngerti tentang komputer.
Di dalam kamar, aku menghi-dupkan komputer dan mengoperasikan program Vcd playernya, lalu kumasukkan Vcd-ku itu dan kujalankan. Sesuai dugaanku Vcd itu berjalan bagus.
“Mbak pingin nonton ?” tanyaku sambil melihat Fitri yang sedari tadi duduk di belakang memperhatikanku.
“Film apa sih ?” tanya Fitri kepadaku.
“Pokoknya bagus” jawabku sambil kemudian memberikan pe-tunjuk bagi Fitri , bagaimana cara menghentikan player dan mematikan komputernya.
Fitri hanya mengangguk, lalu kupermisi untuk pergi mumpung filmnya belum masuk ke bagian “intinya”.
Pintu kamar tetanggaku itupun kembali ditutup, aku bergegas ke kamarku, mau mengintip apa yang dilakukan Fitri.
Setelah di kamarku. melalui ventilasi kulihat Fitri menonton di depan komputer. Dia tampaknya kaget begitu melihat adegan porno langsung hadir di layar monitor komputer itu. Dengan cemas aku menantikan reaksinya.
Menit demi menit berlalu hingga sudah 15 menit kulihat Fitri masih tetap menonton. Aku senang berarti Fitri menyukainya.
Lalu terjadi sesuatu yang lebih dari aku harapkan, tangan Fitri pelan masuk ke dalam roknya, dan bergerak-gerak di dalam rok itu.
“Hhh…..hhhh….oohhh…..oohhh”suara Fitri mendesah–desah , tampaknya merasakan kenikmatan.
Aku kaget,
“Wah….hebat….dia masturbasi” kataku dalam hati.
Ingin aku masuk ke kamar Fitri, memeluknya dan langsung menyetubuhinya, tetapi aku sadar, ini perlu proses.
Akhirnya aku memutuskan untuk tetap mengintip, dan berinisiatif mengukur kemampuanku. Akupun mulai melakukan onani dengan memain-mainkan penisku.
Film di komputer itu terus berjalan…… hingga telah hampir 1,5 jam lamanya, pertanda film itu akan habis dan Fitri kulihat sudah empat kali orgasme, luar biasa. Dan ketika filmnya berakhir, Fitri ternyata masih meneruskan masturbasinya hingga menggenapi orgasmenya menjadi lima kali.
“Akkkhhhhhhh………” Fitri terpekik pelan menandai orgasmenya.
Sesaat setelah orgasme Fitri yang kelima akupun ejakulasi.
“Oooorghhhh………” suara berat-ku mengiringi luapan sperma di tanganku.
Aku senang sekali, berarti aku lebih tangguh dari Mas Sawut dan bisa memuaskan Fitri nan-tinya karena bisa orgasme dan ejakulasi bersamaan.
Kemudian Fitri sesuai petunjukku, kulihat mengeluarkan Vcdnya dan mematikan komputer.
Setelah siang hari, Mas Sawut baru pulang. Sedikit berdebar-debar aku menunggu perkem-bangan di kamar tetanggaku itu, takut kalau – kalau Fitri ngomong macam – macam soal Vcd itu, bisa berabe aku !
Tetapi lama…..kelihatannya tak terjadi apa-apa. Kembali aku mengintip lewat ventilasi, apa yang terjadi di sebelah.
Begitu aku mulai mengintip, aku kaget ! Karena kulihat Fitri dalam keadaan hampir bugil, hanya memakai celana dalam dihimpit oleh Mas Sawut, mereka bersetubuh ! Namun seperti yang dulu-dulu, permainan itu hanya berlangsung sebentar dan tampaknya Fitri kelihatan tidak menikmati dan tidak bisa mencapai orgasme. Bahkan aku melihat Fitri seringkali kesakitan ketika penetrasi atau ketika payudaranya diremas.
“Ah…Mas Sawut nggak pandai merangsang sih”, pikirku.
Bagaimanapun aku senang, langkah keduaku berhasil, mem-buat Fitri tidak bisa lagi mencapai orgasme dengan Mas Sawut. Prediksiku, Fitri akan sangat tergantung pada Vcd itu untuk kepuasan orgasmenya, sedangkan cara menghidupkan Vcd itu hanya aku yang tahu, disinilah kesem-patanku.
Kamis, pukul 08.00. Aku bangun dari tidur, mempersiapkan segala sesuatunya, karena hari ini bisa jadi saat yang sangat bersejarah bagiku. Kemarin aku telah meng-intip Fitri dan Mas Sawut seharian, mereka kemarin bersetubuh hanya dua kali, itupun berlangsung sangat cepat, dan yang penting bagiku, Fitri tidak bisa orgasme.
Malam kemarin aku juga sudah bersiap-siap dengan minum se-gelas jamu kuat, yang bisa menambah kualitas spermaku.
Pagi itu, setelah aku mandi, aku berpakaian sebaik mungkin, parfum beraroma melati kuusapkan ke seluruh tubuhku, rambutku juga sudah disisir rapi. Lalu dengan langkah pasti aku melangkah ke tetangga sebelahku, Fitri yang sedang sendirian.
Kembali aku mengetuk pintu kamarnya pelan,
“Assalamu’alaikum” aku memberi salam.
“Wa’alaikumussalam” suara lembut Fitri menyahut dari dalam kamar.
Fitripun membuka pintu, kali ini ia berdiri di depan pintunya, tidak seperti kemarin yang hanya melongokkan kepala dari celah pintu yang sedikit terbuka. Dia memakai jilbab pink dengan motif renda, manis sekali.
“Oh ya, saya lupa memberitahukan cara menghidupkan Vcd kemarin” kataku sambil tersenyum.
Tiba-tiba raut muka Fitri menjadi sangat serius,
“Kamu kurang ajar ya, masa’ ngasiin Vcd porno gituan ke Mbak” kata Fitri sedikit keras.
Aku kaget, “ternyata ia marah”, pikirku. Lalu cepat aku mengarang alasan,
“Oh ma’af Mbak, Vcdnya yang hadiah itu, isinya film soal riwayat Nabi-Nabi buatan TV3 Malaysia, ma’af kalau tertukar, yah saya ambil saja lagi”
Fitri masuk ke dalam kamarnya, ia tampak kecewa, aku senang berarti ia takut kehilangan Vcd itu. Lalu akupun masuk ke kamarnya melalui pintu yang sedari tadi terbuka.
Fitri kaget, melihatku mengikuti langkahnya,
“Eeeh…kamu kok ikut masuk juga ?!”
Sambil menutup pintu, tenang aku menjawab,
“Alaa….Mbak jangan munafiklah, tokh Mbak juga menyukai Vcd porno itu, saya lihat Mbak sampai masturbasi segala”
“Kurang ajar kamu ! Keluar ! Kalau tidak saya akan berteriak” bentak Fitri.
“Mbak jangan marah dulu, coba Mbak pikirkan lagi, sejak menonton Vcd itu, Mbak tidak bisa lagi orgasme dengan Mas Sawut khan” kataku sambil merebut Vcd itu dan mematahkannya.
Fitri terkejut,
“Kamu…..”
Tak sempat ia menyelesaikan kata-kata, aku memotongnya,
“Saya bersedia memberikan kepuasan kepada Fitri, saya jamin Fitri bisa orgasme bila main dengan saya”
“Kurang ajar ! Keluar kamu !”
“Eeee….tidak segampang itu, ayolah Fitri jangan marah, pikirkan dulu, saya satu-satunya ke-sempatan, bila Fitri tidak memakai saya, seumur-umur Fitri nggak akan pernah mencapai orgasme lagi” aku mulai meng-hasutnya.
Fitri terdiam sebentar, aku senang dan berpikir ia mulai termakan rayuanku, tapi…
“Tidak ! Kata aku tidaaak ! Sekarang keluar kamu !”
Aku gemetar, tapi tetap berusaha,
“kamu sebaiknya pikirkan lagi, di sini cuma saya yang mengajukan diri memuaskan kamu, saya satu-satunya kesempatan kamu, kalau kamu tidak mengambil kesempatan ini, kamu akan rugi !” kataku sedikit tegas.
Lama kulihat Fitri terdiam, bahkan dia kini terduduk lemas di samping ranjangnya. Aku pura-pura mengalah…
“Yah, sudahlah, jika kamu tidak mau, saya pergi saja, saya itu cuma kasihan ngelihat kamu !” kataku sambil beranjak pergi.
Tetapi kulihat Fitri hanya diam terduduk di ranjangnya, aku membatalkan niatku, pintu yang telah terbuka kini kututup lagi dan kukunci dari dalam. Perlahan aku mendekati Fitri, kulihat ia menangis,
“fit….jangan menangis, tidak ada maksud saya sedikitpun menyakiti kamu” kataku sambil mulai menyeka air matanya dengan tanganku.
Lalu pelan-pelan kupegang pundak Fitri dan kudorong pelan dia agar berbaring di ranjang. Ternyata Fitri hanya menurut saja, aku kesenangan, rayuanku berhasil meruntuhkan pendiriannya.
Kemudian aku mulai membuka resleting celana panjangnya, ia tampaknya menolak, tetapi aku dengan santai menepis tangannya dan memasukkan tanganku ke dalam celananya. Tanganku masuk kedalam kolornya, lalu langsung jariku menuju ke tengah “lubang” birahinya. Aku sudah terburu nafsu, mencucuk-cucukkan jemariku ke dalam lubang itu berkali-kali.
“Akhhh…..akhhh…….ahhhhhh” desahan Fitri mengiringi setiap tusukan jemariku.
Aku ingin membuatnya terangsang dan mencapai orgasme. Lalu dengan cepat kutarik celana panjang dan kolornya, sehingga terlihatlah pahanya yang putih dan mulus, aku langsung mencium paha mulus itu bertubi-tubi, menjilat paha putih Fitri dengan merata. Akupun mengincar kelentit Fitri yang tersembul ke luar dari bagian atas pepeknya.
Langsung aku kulum kelentit itu di dalam mulutku,
“Elmm…..mmmm…….emmmm” dan lidahku menari-nari di atasnya, terkadang kugigit pelan-pelan berkali-kali,
“Akhh….ooohhhh……aaahhhhh” suara Fitri mendesah kuat tanda terangsang.
Jemari tanganku semakin kuper-cepat menusuk pepek Fitri dan lidahku makin menggila menari-nari di atas kelentitnya yang berwarna merah jambu itu.
Perlahan kubimbing Fitri mencapai puncaknya, hingga akhirnya……
“Aaaaaaakkkhhhhhh…………” pekikan pelan Fitri mengiringi orgasmenya.
Kulihat jemari tanganku basah, bukan karena liurku tetapi karena cairan vagina Fitri yang orgasme. Aku mencium vagina itu, tercium bau khas cairan vagina wanita yang orgasme.
Aku tersenyum, hatiku senang karena bisa membawa Fitri mencapai orgasmenya. Tetapi aku tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah memelankan tusukan jariku, kini tusukan itu kembali kupercepat,
“Ahhh….ahhhh….yaah…..yaahh” suara Fitri mulai meracau.
Sementara tangan kiriku beroperasi di vagina Fitri, tangan kananku mulai meremas blus Fitri, dengan cepat tangan kananku merobek blus itu dan menarik kutangnya hingga menyembullah payudara Fitri yang indah membukit.
Kemudian aku menghisap kedua puting itu sambil tangan kananku meremas payudara Fitri bergantian,
“Slurrpp….slrrrrpp…..slluuurpp” aku menghisap puting Fitri, sementara desahan Fitri terdengar halus di telingaku,
“Akhh….teruuss…..teruuusss” Sementara tangan kiriku tetap beraksi di vagina Fitri, dan vagina itu semakin becek,
“Crrtt…..crrtt……slrrpp”
Kini mulutku mulai merangkak maju menuju bibir Fitri yang mendesah-desah, begitu wajah kami bertatapan, kulumat bibir mungil itu dalam-dalam, Fitri sedikit kaget,
“Ohhh….oomlmmm…elmmmm” Fitri tidak bisa lagi bersuara, karena bibirnya telah kulumat, lidahnya kini bertemu dengan lidahku yang menari-nari.
Aku memang berusaha mem-bimbing Fitri agar orgasme untuk kedua kalinya. Agar di saat orgasmenya itu aku bisa me-masukkan penisku, mempenetrasi vaginanya. Karena aku sadar penetrasi itu akan sangat sakit karena ukuran penisku lebih besar dari punya Mas Sawut yang biasa masuk.
Sambil mencium dan merang-sang pepek Fitri, tangan kananku mulai melepas celana panjangku dan kolorku, lalu melem-parkannya ke lantai. Tangan kananku mengelus-elus kontolku yang terasa mulai mengeras.
Lama akhirnya Fitri mencapai orgasmenya yang kedua kali,
“Ooorrggghhhhh………..”
Fitri mengerang, tetapi belum selesai erangannya, aku langsung menusukkan penisku pelan-pelan ke dalam vaginanya…aacchhh aaddiitt sakiiitt punyamu kok besar bangett….
“Aaaaaahhhhh…………” suara Fitri terpekik, matanya sayup-sayup menatap syahdu ke arahku, aku tersenyum.
Akupun mengambil posisi duduk dan mengangkangkan kedua paha Fitri dengan kedua tanganku, lalu kulakukan penetrasi kontolku pelan-pelan lama kelamaan menjadi semakin cepat. Bunyi becekpun mulai terdengar,
“Sllrrttt…cccrrttt….ccrrplpp” suara becek itu terus berulang-ulang seiring dengan irama tusukanku.
“Akhhh….yaaahh…terus…” suara desahan Fitri keenakan. Akupun semakin mempercepat tusukan, kini kedua kakinya ku-sandarkan di pundakku, pinggul Fitri sedikit kuangkat dan aku terus mendorong pinggulku ber-ulang-ulang. Sementara dengan sekali sentakan kulepaskan jilbabnya, tampaklah rambut hitam sebahu milik Fitri yang indah, sambil menggenjot aku membelai rambut hitam itu.
“Ahhh…..ahhh….aaahhh”
“Ohhh……ohhhh……..hhhh”
Suara desahanku dan Fitri terus terdengar bergantian seperti irama musik alam yang indah.
Setelah lama, aku mengubah posisi Fitri, badannya kutarik sehingga kini dia ada di pangkuanku dan kami duduk berhadap-hadapan, sementara penisku dan vaginanya masih menyatu.
Tanganku memegang pinggul Fitri, membantunya badannya untuk naik turun. Kepalaku kini dihadapkan pada dua buah pepaya montok nan segar yang ber-senggayut dan tergoyang-goyang akibat gerakan kami berdua. Langsung kubenamkan kepalaku ke dalam kedua payudara itu, menjilatnya dan menciumnya ber-gantian.
Tak kusangka genjotanku membuahkan hasil, tak lama…..
“Oooohhhhhhh……………..” lenguhan panjang Fitri menandai orgasmenya, kepalanya terdongak menatap langit-langit kamarnya saat pelepasan itu terjadi.
Aku senang sekali, kemudian kupelankan genjotanku dan akhirya kuhentikan sesaat. Lama kami saling bertatap-tatapan, aku lalu mencium mesra bibir Fitri dan Fitri juga menyambut ciumanku, jadilah kami saling berciuman dengan mesra, oh indahnya.
Tak lama, aku menghentikan ciumanku, aku kaget, Fitri ternyata menangis !
“Kenapa Fitri ? saya menyakiti kamu ya ?!” tanyaku lembut penuh sesal.
Masih terisak, Fitri menjawab,
“Ah…..nggak, kamu justru telah membuat aku bahagia”
Kami berdua tersenyum, kemudian pelan aku baringkan Fitri. Perlahan aku mengencangkan penetrasiku kembali.
Sambil meremas kedua payudaranya, aku membolak-balikkan badan Fitri ke kiri dan ke kanan. Kami berdua mendesah bergantian,
“Ahhh…..ahhh….aaahhh”
“Ohhh……ohhhhChhhh”
Terus….lama, hingga akhirnya aku mulai merasakan urat-uratku menegang dan cairan penisku seperti berada di ujung, siap untuk meledak.
Aku ingin melakukannya ber-sama dengan Fitri. Untuk itu aku memeluk Fitri, menciumi bibirnya dan membelai rambutnya pelan. Usahaku berhasil karena perlahan Fitri kembali terang-sang, bahkan terlalu cepat.
Dalam pelukanku kubisikkan ke telinga Fitri,
“Tahan……tahan………fiit, kita lakukan bersama-sama ya”
“Ohhh…ohhh….ohhhh…..aku sudah tak tahan lagi” desah Fitri, kulihat matanya terpejam kuat menahan orgasmenya.
“Pelan…..pelan saja fit, kita lakukan serentak” kataku membisik sambil kupelankan tusukan penisku.
Akhirnya yang kuinginkan terjadi, urat-urat syarafku menegang, penisku makin mengeras. Lalu sekuat tenaga aku mendorong pinggulku berulang-ulang dengan cepat.
“Akhhh….ooohhh….ohhh” suara Fitri mendesah. Kepalanya tersentak-sentak karena dorongan penisku.
“Lepaskan…..lepaskan……fitt, sekarang !” suaraku mengiringi desahan Fitri, Fitri menuruti “saranku”, diapun akhirnya melepaskan orgasmenya,
“Aaaakkhhhhh…………”
“Ooorggghhhhh………” suara berat menandakan ejakulasiku, mengiringi orgasme Fitri. Erat ku-peluk ia ketika pelepasan ejakulasi itu kulakukan.
Setelah “permainan” itu, dalam keadaan bugil aku tiduran ter-lentang di samping Fitri yang juga telanjang. Fitri memelukku dan mencium pipiku berkali-kali seraya membisikkan sesuatu ke telingaku.
“Terima kasih Dit” kamu memang perkasa dan kamu juga nanti yang harus bertanggung jawab kalau hasrat birahiku lagi tinggi kamu harus siap sedia .
“kalau untuk kamu aku siap siaga kapan kamu mau fit asal kamu puas dan bahagia”.
Fitri kulihat senang dan memeluk tubuhku erat, tertidur di atas dadaku. Dalam hatiku aku merasakan senang, gembira, tapi juga sedih. Aku sedih dan menyesal melakukan ini dengan Fitri, aku takut ia tidak akan pernah lagi mencapai orgasme selain dengan diriku, ini berarti aku menyengsarakan Fitri.
Sambil merenung, aku kecup rambut hitam sebahunya itu dan kubelai serta kuusap pelan.
Siang itu aku tidur nyenyak, bagiku pengalaman barusan sangat berkesan. Sejujurnya aku ingin melakukannya lagi, tapi aku takut menyusahkan Fitri nantinya karena membuat dia tergantung padaku, padahal ternyata aku mulai mencintai.
