Aku tinggal di perumahan baru di pinggiran kota P. Sebagian
besar tetanggaku keluarga muda. Umurnya berkisar antara 25-35. Hanya satu dua
yang berumur di atas 40 tahun. Tetangga sebelah kananku adalah pasangan yang
belum mempunyai anak. Katanya, mereka pernah hampir punya anak tapi keguguran.
Sementara tetangga sebelah kiri beranak dua, umur 5 tahun dan setahun. Dan, aku
sendiri—sebut saja namaku Toni, punya satu anak. Umurku 31 tahun.
Karena sama-sama baru menempati rumah, paling lama 3 tahun, kami belum begitu
akrab. Jarang saling bertandang, hanya saling sapa saat bertemu muka.
Yang aku ceritakan ini adalah tetangga yang punya dua anak itu. Namanya Tari.
Orangnya cukup manis, umur 33 tahun, rambut sebahu, tinggi badan (hanya) 155 cm
dan berat—mungkin, 46 Kg. Bodinya bagus meski tidak seperti model atau SPG.
Kulitnya kuning langsat, mulus. Dulu, katanya, dia kerja di hotel. Jantungku
kerap deg-degan ketika ia mengenakan daster dengan bawahan di atas lutut.
Karena pikiranku agak kotor, sehingga birahiku sedikit naik saat melihatnya.
Apalagi saat ia nungging mengambil pakaian untuk dijemur. Bagiku, itu sudah
cukup menggairahkan.
————
Pagi itu, istriku berangkat menjenguk keluarganya di luar kota. Jelas, anakku
yang masih berusia 1,5 tahun diajak serta. Sementara aku di rumah sendiri
karena harus bekerja. Oh ya, sekadar diketahui, aku bekerja sebagai debt
collector di perusahaan A.
Jarum jam menunjuk angka 9. Aku sudah memastikan diri tidak masuk kantor.
Males, karena banyak tagihan yang belum bisa kuselesaikan. Setelah cuci muka
dan membuat kopi serta menyulut rokok kretek, aku menuju depan rumah. Sepi.
Mungkin semua sudah pada berangkat kerja.
Untuk mengisi waktu, aku mencabuti rumput depan rumah. Tak berapa lama
kemudian, Tari keluar. Ia membawa ember berisi pakaian. Ia mengenakan kaos
ketat dan celana pendek bermotif kembang. Aku bisa menikmati pemandangan itu
dengan jelas karena rumah kami tidak berbatas tembok.
Sambil terus mencabuti rumput, berkali-kali aku meliriknya. Tampak depan,
dadanya yang sedikit membusung—ukurannya sedang, dan perutnya yang rata.
Pikiranku menjurus ke daging di selakangannya. Hm, pasti indah.
Tampak belakang, pantatnya lumayan padat. Kenyal berisi. Tak terlihat kalau dia
punya dua anak. Mungkin ia rajin merawat, sehingga tubuhnya masih terlihat
bagus untuk perempuan seumurannya. Aku yakin dia tahu aku melihatnya tapi
kelihatannya dia tidak terlalu risih.
Selesai menjemur pakaian, ia masuk ke rumah. Terdengar anaknya yang kecil
menangis, kemudian sekejap kemudian diam. Anaknya yang pertama masih di
sekolah. Sedangkan suaminya pasti sudah berangkat bekerja.
Tak berapa lama kemudian, Tari berkata, “Mas minta tolong dong.”
“Iya Mbak, ada apa?”
“Tolong angkatin gallon air ke dispenser.”
Kondisi perumahan tengah sepi. Dengan dipeunhi pikiran kotor, aku masuk ke
rumahnya. Sambil melirik Tari, gallon langsung kuangkat dan kutempatkan ke
dispenser.
“Makasih ya.”
Sebelum meninggalkan rumah, aku sempat melihat anak kedua Tari tidur terlelap.
“Eh mas, Mbak Indi (istriku) pulang ya?”
“Iya Mbak. Pagi-pagi tadi berangkat.”
Aku males meneruskan mencabuti rumput. Gelas kopi kukemasi dan kubawa masuk ke
dalam rumah. Setelah mencopot kaos, aku sandarkan tubuh di kursi ruang tamu.
Pikiranku menerawang, menelanjangi tubuh Tari. Seolah-olah aku melihat jelas,
tubuh Tari yang mulus, gunung kembar yang kenyal, puting berdiri, vaginanya
yang menyembul.
Penisku mengeras. Celanaku sampai sesak. Karena tidak tahan, aku ke kamar
mandi, lalu onani—aktivitas yang kulakukan sejak SMA. Tidak butuh waktu lama
untuk memuncratkan sperma, karena birahiku memang tengah tinggi-tingginya.
Rasanya lega, meski tidak senikmat senggama.
Kembali, kusandarkan tubuh ke kursi. Dalam sekejap, zz, zz, zz. Aku terbangun
saat pintu rumah diketuk. Ternyata Tari.
“Mas bisa betulin kipas angin nggak? Ini tiba-tiba macet,” katanya sambil
menenteng kipas angin ukuran sedang.
Tari mengenakan daster. Bawahannya hanya di atas lutut sedikit. Meski baru saja
onani, aku tetap greng. Apalagi aroma Tari tercium jelas. Rupanya ia baru saja
mandi.
“Bisa nggak mas?”
“Eh, iya. Maaf. Saya coba ceknya Mbak.”
Aku ambil obeng dan mencopot bagian-bagian kipas itu di lantai. Tari berdiri di
sampingku. Hm, kakinya mulus. Bulu-bulunya yang jarang-jarang itu terlihat
jelas. Kata orang, perempuan yang punya bulu kaki birahinya tinggi.
Mataku tak henti-hentinya melirik, sementara tanganku terus bekerja. Setelah
kucek, sepertinya tidak ada yang rusak. Dugaanku tidak salah. Saat kutancapkan
ke listrik, kipas menyala. Angin berhembus kencang. Daster Tari pun terangkat.
Tari kaget. Ia langsung menutup bawahan dasternya. Sayang terlambat. Aku sudah
terlanjur menikmati celana dalamnya yang berwarna merah. Jantungku berdegup.
“Maaf. Tidak sengaja,” kataku tergagap sambil mematikan kipas.
Tangan Tari masih menyilang tepat di bagian selangkangan. Tentu saja, mataku
fokus ke bagian itu. kontrolku hilang, cleguk!, aku menelan ludah. Mengetahui
itu, Tari tersenyum dan menarik tanganku agar berdiri. Dia membelai dadaku.
Bibirnya di dekatkan ke mulutku, tapi sebelum sampai aku sudah menyosornya.
Kesadaranku masih utuh. Kutendang pintu rumah hingga menutup. Lalu sambil terus
berciuman dan tanpa berkata-kata, kugeret Tari ke ruang tengah. Dia menurut
saja.
Rupanya birahi Tari sangat tinggi. Dia membalas ciumanku dengan lahap.
Tangannya juga sudah bergerilya ke selangkanganku. Aku tidak tinggal diam.
Kulepas dasternya dan wow! ternyata dia tidak mengenakan bra. Gunung kembarnya
mengacung. Putingnya yang berwarna merah kecoklatan, mengeras.
Perlahan dia mendorongku ke kasur tipis di ruang tengah yang biasa kugunakan
nonton teve. Tangannya dengan lincah membelai penisku dari luar. Kemudian dia
melepaskan celanaku, menyergap penis dengan mulutnya. Tangannya menekan urat di
bawah kantong penis. Rasanya nikmat betul. Sepertinya dia tahu betul titik
rangsang lelaki.
Beruntung, aku baru saja onani, jadi tidak cepat orgasme. Selesai mengulum
penisku, Tari berjongkok, mencium bibirku, dan mengarahkan vaginanya yang masih
tertutup celana dalam ke arah penis. Dia mendesah,”Ooohh, aaaahhh.”
Kutarik tubuh Tari dan kutelentangkan. Wow, bodinya masih yahud. Dua gunung
kembarnya mengacung, tidak terlalu besar tapi padat berisi. Perutnya rata.
Kulitnya mulus. Di beberapa bagian terdapat tahi lalat.
Kucumbui bibirnya, leher, kemudian kulit diantara gunung kembarnya. Ia merem
melek, tubuhnya menggelinjang. Kujilati putting sebelah kiri, kuremas gunung
kembar sebelah kanannya. Begitu sebaliknya.
“Aaahhh, oooohhh, aahhhh”
Jilatanku kian turun. Pusarnya kusapu dengan lidah. Tangan kananku
menggerayangi paha bagian dalamnya, tangan kiriku membelai lembut
selangkangannya. Tari berkelejotan sambil terus mendesah.
Tibalah saatnya mulutku beraksi di sembulan daging di selangkangan. Kujilati
bagian itu. celana dalamnya basah. Campur antara ludahku dan lender kenikmatan
Tari. Rambut vagina yang keluar, kusapu pelan. Belahan daging kutekan-tekan
dengan jari.
“Aaahhh, oooohhh, aahhhh, ooughh”
Kutarik celana dalam itu dan terpampanglah sembulan daging yang ditumbuhi
rambut-rambut hitam. Cukup lebat tapi bibir vaginanya masih sangat kentara.
Indah sekali. Langsung saja kujilati bagian atas vagina itu, klitorisnya. Tari
mengangkat pantatnya.
“Aaauhh, terussss.”
Sambil terus menjilati vagina, tanganku meremas-remas payudara Tari. Si empunya
hanya bisa melenguh dan menggerak-gerakan tubuh dan pantatnya. Hingga beberapa
menit kemudian, sambil mengangkat pantat, paha Tari menjepit kepalaku.
“Aaaaaaaahh,” jeritnya. Rupanya dia orgasme untuk kali pertama.
Tangannya mendorong kepalaku agar mundur dari selangkangannya. “Geli,” katanya.
Tari lunglai. Peluhnya keluar, di wajah dan dada. Dia seka peluh di wajahnya.
Matanya masih terpejam. Kubiarkan sebentar dia menikmati hal yang baru saja
terjadi. Aku usap mulutku yang kena cairan vagina. Baunya khas.
Beberapa menit kemudian, kutindih tubuh Tari. Kucumbui bibirnya,
kugesek-gesekkan penisku ke vaginanya. Setelah bibir, kusapu gunung kembarnya
bergantian. Tari mendesah, tanda birahinya muncul lagi.
Tangannya mencari-cari penisku. Digenggamnya senjataku, lalu digesek-gesekkan
ke klitorisnya. Aku segera ambil posisi berjongkok. Kaki Tari kurenggangkan,
penisku kuarahkan ke vaginanya. Dalam sekali tembak, penisku langsung masuk.
Vaginanya sudah cukup licin, sehingga dengan mudah, menelusup penuh.
“Aaahhh,” desah Tari.
“Penismu keras sekali. Aaaahhhh,” imbuhnya.
Harus kuakui, senjataku memang tak terlalu panjang. Hanya 15 cm. Diameternya
mungkin hanya 5 cm. Tapi sangat keras. Urat-uratnya terlihat jelas. Tidak
seperti bintang porno yang panjang tapi agak lembek.
Kudorong penisku lebih ke dalam. Pelan, kemudian keras. Begitu seterusnya.
Tubuh Tari bergoncang. Pada setiap hentakan, Tari terus mendesah.
Biasanya, aku hanya kuat 3 menit, dari proses memasukkan hingga memompa. Tapi
karena sebelumnya telah onani, aku tidak cepat orgasme. Denyut vagina Tari
sungguh terasa. Saat penisku menusuk, terasa ada jepitan.
Aku cukup puas dengan ‘kinerja’ penisku. Tidak cepat panas alias memuntahkan
sperma. Kucabut penisku, cairan-cairan kental tampak membasahi. Kuangkat tubuh
Tari dan kuminta dia nungging. Belahan vaginanya tampak indah. Pantatnya
membulat.
Sekali tusuk, penisku telah tenggelam. Pada posisi ini, hentakan kuperkeras.
Tubuhku berbenturan dengan pantatnya yang berisi. Tari merintih. Peluh
membasahi punggungnya. Dengan posisi agak menunduk, kuremas-remas gunung kembar
Tari yang menggantung.
Cukup lama, kami dalam posisi ini. Aku belum juga orgasme. Malah Tari yang
orgasme untuk yang kedua kali. Itu terjadi setelah penisku menusuk rahimnya.
Tari melenguh, tangannya memegang erat kasur.
“Ooouugggghhhhh…”
Aku hentikan sodokanku. Serasa ada cairan hangat meleleh di penisku. Tari
tertelungkup. Otomatis penis senjataku dari vaginanya. Peluh kami bercucuran.
Tari membalikkan badannya. Terlentang. Hm, menggairahkan. Gunung kembar dan
putingnya masih mengacung, Lobang vaginanya memerah. Ada lelehan cairan di
sekitar lobang itu.
Aku menjatuhkan badan di samping Tari. Tanganku membelai gunung kembar Tari.
Putingnya kupilin-pilin. Setelah puas, kuraba vagina Tari yang licin. Tari
menggelinjang. Ia bangkit dan berjongkok menghadapku. Tangannya mengarahkan
penisku ke vaginanya.
Blesss, penisku langsung tenggelam. Tari memaju-mundurkan tubuhnya. Kemudian,
mengangkat tubuh, dan menghujamkannya. Beberapa detik kemudian, dia
menggoyangkan pantatnya. Penisku serasa diputar-putar.
“Aaaaahhh, oooooohhh,” Tari mendesah.
Tampaknya Tari ingin segera membuatku orgamse. Dia bergerak lincah, maju
mundur, mengangkat menghunjam, dan menggoyangkan pantatnya. Agar tidak cepat
orgasme, aku mengikuti gerakan Tari. Tapi orgasme itu sulit ditahan. Apalagi
Tari kian beringas.
“Aaahhh, aku mau keluar,” kataku.
Tari menghentikan sesaat gerakannya. Tangannya menggesek-gesek kiltorisnya.
Sepertinya ia ingin orgasme bersama. Tak berapa lama, Tari menggerakan lagi
tubuhnya. Ia mendesah, “Aaahhh, aku juga mau keluarrr.”
Aku tak kuat menahan orgasme saat gerakan Tari kian tak beraturan.
“Oooohhhh….”
Tanganku meremas gunung kembar Tari sekuat tenaga. Pantat kunaikkan
setinggi-tingginya. Spermaku menyembur beberapa kali. Crot, crot, crot!
“Aaahhhh…..”
Beberapa detik kemudian, Tari juga orgasme. Dia menghunjamkan selangkangannya.
Tangannya memegang erat pundakku. Saat ia mengangkat tubuhnya, dari vaginanya
keluar cairan. Spermaku dan cairannya. Kami terkulai. Terlentang. Telanjang.
———
Setelah sedikit merapikan rambut, Tari mengenakan daster dan celana dalamnya.
“Terima kasih.”
“Apanya?”
“Kipasnya.”
“Loh ininya?,” tanyaku sambil memegang penisku yang masih lemas.
Dia tersenyum, lalu berlalu membawa kipas anginnya. Jempolnya diacungkan, entah
apa maksudnya.
Tak terasa 25 menit sudah kami bergumul. Aku berniat mengulanginya, tapi hingga
kini belum ada kesempatan.
Tamat
