Rabu, 24 Desember 2025

BERSETUBUH DENGAN TEMAN SUAMIKU


 


Tepatnya jam 20:00 aku masih sibuk dengan kerjaan ku yang berada di kantor ku , beberapa karyawan ada yang mengambil lembur termasuk aku , panggil saja nama ku Roy umurku baru menginjak 29 tahun saat ini.
cuaca malam ini sangat dingin sekali karena suhu di daerah ku hampir setiap malam dingin , maklum hidup di daerah yang dekat sama pegunungan .

Tiba waktunya pulang cukup larut malam sekali aku memutuskan membeli secangkir kopi untuk menghangatkan tubuhku yang menggigil , tak sengaja di jalan aku bertemu dengan teman ku yang kebetulan dia pun baru pulang dari kerja nya .
“Royy ,, mau kemana kamu .. ?? ” tanya temanku sambil membawa motor nya ” baru pulang nih ,, ” jawabku sambil menikmati kopi yang ku beli tadi.
“mampir dulu kerumah ku roy , kita minum dulu disana .. ??”
“minum apa tuh .. ??” tanyaku sambil kebingungan “udah naik aja ,, pokonya bikin badan kita hangat ” ujarnya sambil memaksaku ikut dengan nya .

Aku dan teman ku pun menuju ke rumah nya yang berada di daerah perumahan , suasana disana lebih dingin di bandingkan dengan di kantorku tadi tak lama kami berbincang bincang di motor kami pun sampai di rumah nya ,
Dia memasukan motor nya ke garasi yang ada di samping rumah nya ,
“masuk roy ” mengajak ku masuk sambil membuka helm nya ..


Kami pun berdua masuk kedalam rumah nya dan bersantai di ruangan tamu nya . sebut saja dia adalah martin , martin tiba tiba menuju ke lemari es
ternyata dia membawakan minuman alkohol yang baru di beli beberapa hari yang lalu, tak lama kemudian martin memanggil istrinya untuk mengambil 2 gelas dan di antarkan ke ruangan tamu , betapa terkejut nya aku melihat istrinya martin yang sangat cantik dan toket yang begitu besar, dengan menggunakan pakaian tidur long dress membuat tubuh nya keliatan indah banget.

“Ini gelas nya mas.. ” sahutnya kepada suaminya
kami pun minum sambil berbincang bincang di ruangan tamu , sedangkan istrinya kembali ke ruangan tengah , ku perhatikan bokong nya dari belakang membuatku ingin menikmatinya..
kami minum sampai larut malam dan kami pun sudah berada di posisi mabuk berat , martin yang tidak kuat tergeletak di ruangan tamu sambil muntah muntah , tak lama kemudian istri martin pun menghampiri kami .


“Tolong bantu bawa kekamar mas ” … pintanya padaku “oke ,,, “jawabku sambil tersenyum ..
kami angkut martin kekamarnya dan di geletakan di kasur ,, kami berdua pun keluar kamar sedangkan istrinya membereskan tempat yang tadi kami pakai minum ,,
ku perhatikan istrinya martin begitu indah nya dia aku perhatikan belahan toket nya yang besar itu khayalan ku sudah kemana mana saja , baju yang begitu pendek mengangkat dengan sendiri nya ketika dia membungkuk , ternyata dia tak sadar ada aku di ruangan tengan , begitu tak karuan nya aku ketika celana dalam nya kelitan membaluti pantat nya yang putih.

 


Aku tak tau harus kaya gimana yang aku pikirkan hanya ingin menikmati nya
waktu pun terus berjalan dan martin pun ku lihat nyenyak banget tidur kucari istrinya di ruangan tamu tidak ada di dapur pun gak ada juga saya semakin penasaran dia ada dimana ku dengan gemuruh sower dari kamar mandi kamar tamu , ku masuk pelan pelan dan begitu kaget nya saat kulita toket nya yang begitu kecang dan besar putih dan mulus banget badan nya tidak terlihat vagina nya dia mandi menghadap samping kulihati tubuh nya dari atas sampai bawah begitu indah nya saat badan nya di terkena air ,,
aku sudah tidak karuan melihat nya karena efek dari alkohol yang aku minum juga, jadi hawa panas dan berani pun muncul seketika ,

ku masuk perlahan dan kudekap dari belakang .. sontak dia terkejut melihat dari belakang ternyata diriku yang menerkam nya ..
“mass apa apaan mass,,, jangan mass .. ” sahut nya sambil mencoba memberontak ,
“diam kamu ,, aku ingin sekali menikmati tubuh mu ,, ” jawabku sambil menciumi pundak nya. ku jilatin pundak dan leher nya sambil ku remas toket nya yang besar dan putih itu .

Tiba tiba dia mendesah “aaahhh” ternyata dia mendesah ketika tangan ku memutar mutar pentil nya . aku terus memutar mutar pentil toket nya dan sesekali ku jilat juga toket nya , nafsu ku sudah memuncak tidak sabar ingin sekali butu buru menerobos memek nya.

Ku buka semua pakaian ku dan terpampang jelas penis ku yang begitu gagah panjang dan besar ,, dia pun sangat terkejut , ku jongkokan dia di depan penis ku dan ku paksa dia suruh mengulum penis ku ,, begitu nikmatbanget di kulum sama orang cantik dan sexy terasa dingin dan nikmat banget .. cukup lama aku suruh dia mengulum penis ku dan akhir nya dia yang berbalik nafsu ya tinggi dia menjilati penis ku dengan begitu penuh perasaan

Kulepaskan penisku dari mulut nya .. ku rebahkan dilantai dan ku masukan penis ku dengan pelan pelan

“Aaahhh ,, masss,, aahhh ” desahan nya sambil memeluk ku ,, ku coba pompa dengan perlahan laha sampai pompaan ku begitu tak terkendali lagi menghancurkan lubang memek nya ,, dia sangat menikmati sekali pompaaan penis ku .. ku bangun kan dia dan ku tunggingkan dia lalu ku hantam lagi dengan dogystyle ,, begitu enak nya aku melumati punggung nya ,,
penis ku mulai merasakan tegang sekali , aku tau kalo aku ingin segera meludahkan sepermaku ,, tapi aku terus memompanya dengan begitu tambah kuat . “ccroooittt .. crrooott ” ku lepaskan perlahan penis ku dari meme nya dan terlihat jelas spermaku mengalir dan membasahi memek nya ,,


Sebelum ku meninggal kan nya ku lumat bibir nya dan sambil berkata pada nya “makasih ya , kamu sudah bersedia ku setubuhi ,, ” sambil memeluk nya ,, aku bergegas kembali ke ruangan tengan dan berbaring hingga aku menginap di rumah martin sampai menjelang pagi

 

BERBAGI NIKMAT DENGAN TEMAN SUAMI 4


Part 4

“Kaamuu ingiin.. lagii.. Rii..?” tanya Mas Adhi.

“Eehh..” melulu itu jawabku.

 

Kini kami pulang menggelepar-gelepar bersama.

 

Tiba-tiba Mas Adhi bergulung, sampai-sampai posisinya sekarang berbalik, aku di atas, Mas Adhi di bawah.

 

“Ayoohh gaannttii..! Kaammuu yang di atass..!” kata Mas Adhi.

 

Dengan posisi di atas tubuh Mas Adhi, pantatku kuputar-putar, maju-mundur, kiri-kanan, guna mengocok batang penis Mas Adhi yang masih mengacung di lubang vaginaku. Dengan agak malu-malu aku pun ganti menjilat leher dan puting Mas Adhi. Mas Adhi yang telentang di bawahku melulu dapat merem-melek sebab kenikmatan yang kuberikan.

 

“Tuuh.., biisaa kaan..! Kaatanya taa.. dii.. nggak.. bisaa..,” ujar Mas Adhie seraya balas menciumku dan meremas-remas buah dadaku.

 

Hanya selang lima menit sesudah aku sedang di atas, lagi-lagi kesenangan luar biasa datang menderaku. Aku semakin powerful menghunjam-hunjamkan vaginaku ke batang penis Mas Adhi. Tubuhku yang ramping semakin erat memeluk Mas Adhi. Aku pun semakin binal membalas ciuman Mas Adhi.

 

“Maass.. aakuu.. haampiir.. orgasmee.. laggii.. Maass..!” kataku terengah-engah.

 

Tahu bila aku bakal orgasme kedua kalinya, Mas Adhi langsung bergulung membalikku, sampai-sampai aku pulang di bawah. Dengan napas yang terengah-engah, Mas Adhi yang sudah berada di atas tubuhku semakin cepat memompa selangkanganku. Tak ayal lagi, rasa nikmat tiada tara terasa di sekujur tubuhku. Lalu rasa nikmat tersebut seperti mengalir dan berkumpul ke selangkanganku. Mas Adhi kupeluk sekuat tenaga, sedangkan napasku semakin tidak menentu.

 

“Kalauu maau orgasmee ngomong Sayang, biaar leepass..!” desah Mas Adhi.

 

Karena tidak powerful lagi menyangga nikmat, aku pun merintih keras.

 

“Teruss.., teruss.., akuu.. orgasmee Mass..!” desahku, sedangkan tubuhku masih terus menggelepar-gelepar dalam tindihan tubuh Mas Adhi.

 

Belum reda kesenangan klimaks yang kurasakan, tiba-tiba Mas Adhi mendengus-dengus semakin cepat. Tangan kekarnya mendekapku erat-erat seperti hendak meremukkan tulang-tulangku. Ia benar-benar membuatku tidak bisa bergerak. Napasnya terus memburu. Genjotannya di vaginaku pun semakin keras dan cepat. Kemudian tubuhnya bergetar hebat.

 

“Rii.., akuu.. maauu.. keluuarr Sayang..!” erangnya tidak tertahankan.

 

Melihat Mas Adhi yang nyaris keluar, pantatku kuputar-putar semakin cepat. Aku pun semakin erat memeluknya. Crot.. croot.. croot..! Sperma Mas Adhi terasa paling deras muncrat di lubang vaginaku. Mas Adhi memajukan pantatnya sekuat tenaga, sampai-sampai batang kejantanannya benar-benar menancap sedalam mungkin di lubang kemaluanku. Aku menikmati lubang vaginaku terasa hangat oleh cairan sperma yang mengucur dari penis Mas Adhi.

 

Gila, sperma Mas Adhi spektakuler banyaknya, sampai-sampai seluruh lubang vaginaku terasa basah kuyup. Bahkan sebab saking banyaknya, sperma Mas Adhi belepotan sampai ke bibir vagina dan pahaku. Berangsur-angsur gelora kenikmatan tersebut mulai menurun.

 

Untuk sejumlah saat Mas Adhi masih menindihku, keringat kami juga masih bercucuran. Setelah tersebut ia berguling di sampingku. Aku temenung menatap langit-langit kamar. Begitupun dengan Mas Adhi. Ada sesal yang mengendap dalam hatiku. Kenapa aku mesti menodai kesetiaan terhadap perkawinanku, itulah pertanyaan yang bertalu-talu mengetuk perasaanku.

 

 

 

“Maafkan aku, Ri. Aku sudah khilaf dengan memaksamu mengerjakan perbuatan ini,” ujar Mas Adhi lirih.

Aku tidak menjawab. Kami berdua kembali tercenung dalam alam benak masing-masing. Bermenit-menit lantas tidak sepatah kata juga yang terbit dari mulut kami berdua.

 

Tiba-tiba Yani mengetuk pintu seraya berteriak, “Hee, telah siang lho.., mari pulang..!”

Dengan masih tetap diam, aku dan Mas Adhi segera beranjak, membenahi lalu berjalan terbit kamar. Tanpa ucapan-ucapan pula Mas Adhi mengecup keningku ketika pintu kamar bakal kubuka.

 

“Hayo, lagi ngapain kok pintunya pakai diblokir segala..?” kelakar Yani.

“Ah, nggak apa-apa kok, anda cuman ketiduran tadi.” jawabku dengan perasaan malu.

 

Sementara Mas Adhi melulu tersenyum.

 

“Tenang aja, Mbak Fitri. Aku janji nggak akan mengisahkan ini ke orang beda kok..!” ujar Yani dengan masih cengengesan.

 

 

 

Begitulah, sampai seminggu sesudah kejadian tersebut rasa sesal masih mendera perasaanku. Selama tersebut hatiku tidak jarang kali diketuk pertanyaan, mengapa akhirnya aku mesti mengkhianati suamiku. Hanya saja, saat mulai memasuki minggu kedua, tiba-tiba rasa sesal tersebut seperti menguap begitu saja. Yang hadir dalam perasaanku kemudian ialah kerinduan pada Mas Adhi. Sungguh dadaku tidak jarang berdebar-debar lagi masing-masing kali kuingat kesenangan luar biasa yang diserahkan Mas Adhi ketika itu. Aku tidak jarang kali terbayang dengan keperkasaan Mas Adhi di atas ranjang, yang tersebut semua tidak dipunyai suamiku.

 

Maka sesudah itu, kami masih tidak jarang jalan-jalan bareng dengan Mas Adhi. Bahkan nyaris rutin sebulan 2 hingga 4 kali aku dan Mas Adhi tidak jarang kali melepas hasrat bersama. Dan jelas tersebut lebih menggelora lagi dibanding kencan kami yang kesatu. Sementara guna menyembunyikan tersebut semua, aku bersikap biasa-biasa saja terhadap suamiku. Ia pun masih sering memicu diri dengan berfantasi aku disetubuhi pria lain. Tetapi ia tidak tahu, bahwasannya telah ada pria lain yang benar-benar sudah menyetubuhi isterinya. Dan aku tidak pernah bercerita padanya. Ini melulu menjadi rahasiaku dan rahasia Mas Adhi.

TAMAT.

 

BERBAGI NIKMAT DENGAN TEMAN SUAMI 3


 


Part 3

Sementara aku sendiri masih terus mengocok batang zakar Mas Adhi dengan tanganku.

 

Kini, kami berdua berkelejotan, sedangkan napas kami pun semakin memburu. Setelah tersebut Mas Adhi beranjak, kemudian dengan cepat ia menindihku. Dari kaca lemari yang terletak di sebelah lokasi tidur, aku dapat menyaksikan tubuh rampingku laksana tenggelam di kasur busa saat tubuh Mas Adhi yang tinggi besar itu mulai menindihku. Dadaku deg-degan menyaksikan adegan kami melewati kaca lemari itu. Gila, sekarang aku yang telanjang digumuli oleh pria yang pun sedang telanjang, dan lelaki tersebut bukan suamiku.

 

Mas Adhi pulang melumat bibirku. Kali ini teramat lembut. Gila, aku bahkan tanpa malu lagi mulai menjawab ciumannya. Lidahku kujulurkan guna menggelitik rongga mulut Mas Adhi. Mas Adhi terpejam menikmati seranganku, sedangkan tangan kekarnya masih erat mendekap tubuhku, laksana tidak akan dicungkil lagi.

 

Bermenit-menit kami terus berpagutan saling memompa birahi masing-masing. Peluh kami mengucur deras dan berbaur di tubuhku dan tubuh Mas Adhi. Dalam posisi tersebut tiba-tiba kurasakan terdapat benda yang kenyal mengganjal di atas perutku. Ohh, aku semakin terangsang luar biasa saat kusadari benda yang mengganjal itu ialah batang kemaluan Mas Adhi. Tiba-tiba kurasakan batang zakar tersebut mengganjal tepat di bibir lubang kemaluanku. Rupanya Mas Adhi nekat berjuang memasukkan batang penisnya ke vaginaku. Tentu saja aku tersentak.

 

“Mas.. Jangan dimasukkan..! Jangan dimasukkan..!” kataku seraya tersengal-sengal menyangga nikmat.

 

Aku tidak tahu apakah permintaanku tersebut tulus, karena di sisi hatiku yang beda sejujurnya aku juga hendak merasakan alangkah nikmatnya saat batang kemaluan yang besar tersebut masuk ke lubang vaginaku.

 

“Oke.. bila nggak boleh dimasukkan, kugesek-gesekkan di bibirnya saja, yah..?” jawab Mas Adhi pun terengah-engah.

 

Kemudian Mas Adhi pulang memasang ujung penisnya tepat di celah kamaluanku. Sungguh aku deg-degan luar biasa saat merasakan kepala penis tersebut menyentuh bibir vaginaku. Namun sebab batang zakar Mas Adhi memang berukuran super besar, Mas Adhi paling sulit memasukannya ke dalam celah bibir vaginaku. Padahal, andai aku bersetubuh dengan suamiku, penis suamiku masih terlampau kekecilan guna ukuran lubang senggamaku.

 

Setelah tidak banyak dipaksa, kesudahannya ujung kemaluan Mas Adhi sukses menerobos bibir kemaluanku. Ya ampun, aku menggeliat hebat saat ujung penis besar tersebut mulai menerobos masuk. Walaupun awalnya sedikit perih, namun selanjutnya rasa nikmatnya sungguh tiada tara. Seperti janji Mas Adhi, penisnya yang berkukuran jumbo itu melulu digesek-gesekkan di bibir vagina saja. Meskipun melulu begitu, kesenangan yang kurasa benar-benar membuatku nyaris teriak histeris. Sungguh batang zakar besar Mas Adhi tersebut luar biasa nikmatnya.

 

Mas Adhi terus menerus memaju-mundurkan batang penis sekedar di bibir vagina. Keringat kami berdua semakin deras mengalir, sedangkan mulut kami terus berpagutan.

 

“Ayoohh.., ngoommoong Saayaang, giimaanna raasaanyaa..?” kata Mas Adhi tersengal-sengal.

“Oohh.., teerruss.. Maass.. teeruuss..!” ujarku sama-sama tersengal.

 

Entah bagaimana mula mulanya, tiba-tiba kurasakan batang kemaluan yang besar tersebut telah amblas seluruh ke vaginaku. Bless.., perlahan tapi tentu batang penis yang besar tersebut melesak ke dalam lubang kemaluanku. Vaginaku terasa sarat sesak oleh batang penis Mas Adhi yang sangat-sangat besar itu.

 

“Lohh..? Mass..! Dimaassuukiin seemmua yah..?” tanyaku.

“Taangguung, Saayang. Aku nggak tahhann..!” ujarnya dengan terus memompa vaginaku secara perlahan.

 

Entahlah, kali ini aku tidak protes. Ketika batang penis tersebut amblas seluruh di vaginaku, aku melulu dapat megap-megap dan merasakan kesenangan yang sekarang semakin tertahankan. Begitu besarnya penis Mas Adhi, sampai-sampai lubang vaginaku terasa paling sempit. Sementara sebab tubuhnya yang berat, batang penis Mas Adhi semakin tertekan ke dalam vaginaku dan melesak sampai ke dasar rongga vaginaku. Sangat terasa sekali bagaimana rasanya batang zakar menggesek-gesek dinding vaginaku.

Tanpa sadar aku juga mengimbangi genjotan Mas Adhi dengan menggoyangkan pantatku. Kini tubuh rampingku laksana timbul-tenggelam di atas kasur busa ditindih oleh tubuh besar Mas Adhi. Semakin lama, genjotan Mas Adhi semakin cepat dan keras, sampai-sampai badanku tersentak-sentak dengan hebat. Clep.., clep.., clep.., clep.., begitulah bunyi batang zakar Mas Adhi yang terus memompa selangkanganku.

 

“Teerruss Maass..! Aakuu.. nggaak.. kuuaatt..!” erangku berulang-ulang.

 

Sungguh berikut permainan seks yang sangat nikmat yang pernah kurasakan. Aku telah tidak beranggapan lagi mengenai kesetiaan terhadap suamiku. Mas Adhi benar-benar sudah menenggelamkanku dalam gelombang kenikmatan. Persetan, toh suamiku sendiri tidak jarang berkhayal aku disetubuhi pria lain.

 

Tidak berapa lama kemudian, aku menikmati rasa nikmat yang spektakuler di sekujur tubuhku. Badanku menggelepar-gelepar di bawah gencetan tubuh Mas Adhi. Seketika tersebut seperti tidak sadar, kucium lebih berani bibir Mas Adhi dan kupeluk erat-erat.

 

“Mmaass.. aakkuu.. haampiirr.. oorrgaassmmee..!” desahku saat aku nyaris menggapai puncak kenikmatan.

 

Tahu bila aku nyaris orgasme, Mas Adhi semakin kencang menghunjam-hunjamkan batang kejantanannya ke selangkanganku. Saat tersebut tubuhku kian meronta-ronta di bawah dekapan Mas Adhi yang paling kuat. Akibatnya, tidak lama lantas aku benar-benar klimaks!

 

“Kaalauu.. uudahh.. orrgassme.. ngoommoong.. Saayaang.. biaarr.. aakuu.. ikuut.. puuaass..!” desah Mas Adhi.

“Oohh.. aauuhh.. aakkuu.. klimaks.. Maass..!” jawabku.

 

Seketika dengan refleks tangan kananku menjambak rambut Mas Adhi, sementara tangan kiriku memeluknya erat-erat. Pantatku kunaikkan ke atas supaya batang kemaluan Mas Adhi bisa menancap sedalam-dalamnya.

 

Setelah kesenangan puncak itu, tubuhku melemas dengan sendirinya. Mas Adhi pun menghentikan genjotannya.

“Aku belum keluar, Sayang. Tahan sebentar, ya..! Aku terusin dulu,” ujarnya lembut sambil menghirup pipiku.

Gila, aku dapat orgasme walaupun posisiku di bawah. Padahal andai dengan suamiku, guna orgasme aku mesti berposisi di atas dulu. Tentu ini sebab Mas Adhi yang jauh lebih perkasa dibanding suamiku, di samping batangannya yang memang paling besar dan nikmat spektakuler untuk vagina perempuan.

 

Meskipun kurasakan tidak banyak ngilu, kubiarkan Mas Adhi memompa terus lubang vaginaku. Karena lelah, aku pasif saja saat Mas Adhi masih terus menggumuliku. Tanpa perlawanan, sekarang badanku yang kecil dan ramping benar-benar terbenam ditindih tubuh besar Mas Adhi. Clep.. clep.. clep.. clep. Kulirik ke bawah menyaksikan kemaluanku yang tengah dihajar batang kejantanan Mas Adhi. Gila, vaginaku ditembus penis sebesar itu. Dan lebih tak waras lagi, batang zakar besar seperti tersebut ternyata nikmatnya tidak terkira.

 

Mas Adhi semakin lama semakin kencang memompakan penisnya. Sementara mulutnya tidak henti-hentinya menciumi pipi, bibir dan buah dadaku. Mendapat rangsangan tanpa henti seperti tersebut tiba-tiba nafsuku bangkit kembali. Kurasakan kesenangan merambat lagi dari selangkanganku yang dengan kencang dipompa Mas Adhi. Maka aku balik menjawab ciuman Mas Adhi, sedangkan pantatku pulang kuputar-putar mengimbangi penis Mas Adhi yang masih perkasa menusuk-nusuk lubang kemaluanku.

BERSAMBUNG.

BERBAGI NIKMAT DENGAN TEMAN SUAMI 2


 


Part 2 

Mas Adhi sendiri nampaknya pun mulai terangsang. Aku dapat menikmati napasnya mulai terengah-engah. Sementara aku sendiri semakin tidak powerful untuk menyangga erangan. Maka aku juga mendesis-desis guna menahan kesenangan yang mulai menghanguskan kesadaranku. Setelah tersebut tiba-tiba tangan Mas Adhi yang kekar tersebut membuka kancing bajuku. Tak ayal lagi, buah dadaku yang berwarna putih bersih tersebut terbuka di depan Mas Adhi. Secara refleks aku masih berjuang berontak.

“Cukup, Mas tidak boleh sampai ke situ. Aku takut,” kataku seraya meronta dari pelukannya.

“Takut dengan siapa Ri, toh nggak terdapat yang tahu. Percayalah denganku,” jawab Mas Adhi dengan napas yang semakin memburu.

Seperti tidak perduli dengan protesku, Mas Adhi yang sudah melepas bajuku, sekarang ganti sibuk melepas BH-ku. Meskipun aku masih berjuang meronta, namun tersebut tidak bermanfaat sama sekali. Sebab tubuh Mas Adhi yang besar dan kuat tersebut mendekapku paling erat.

Kini, dipelukan Mas Adhi, buah dadaku tersingkap tanpa tertutup sehelai kain pun. Aku berjuang menutupi dengan mendekapkan lengan di dadaku, namun dengan cepat tangan Mas Adhi memegangi lenganku dan merentangkannya. Setelah tersebut Mas Adhi mengusungku dan merebahkannya di lokasi tidur. Tanpa melemparkan waktu, bibir Mas Adhi melumat di antara buah dadaku, sementara di antara tangannya pun langsung meremas-remas buah dadaku yang lainnya. Bagai seekor singa ganas ia menjilati dan meremas buah dada yang kenyal dan putih ini.

Kini aku tidak dapat melakukan apa-apa lagi selain terengah-engah dan mengerang sebab kenikmatan yang memegang erat diriku. Aku menggeliat-geliat laksana cacing kepanasan sebab rasa geli dan nikmat saat bibir dan lidah Mas Adhi menjilat dan melumat puting susuku.

“Ri, da.. dadamu putih dan in.. estetis sekali. A.. aku kian nggak ta.. tahan.., sayang..,” kata Mas Adhi terputus-putus sebab nafsu birahi yang semakin memuncak.

Kemudian Mas Adhi pun menciumi perut dan pusarku. Dengan lidahnya, ia pandai sekali menggelitik buah dada sampai perutku. Sekali lagi aku melulu mendesis-desis mendapat rangsangan yang menggelora itu. Kemudian tanpa kuduga, dengan cepat Mas Adhi mencungkil celana dan celana dalamku dalam satu tarikan. Lagi-lagi aku berjuang melawan, namun dengan tubuh besar dan tenaga powerful yang dipunyai Mas Adhi, dengan gampang ia menaklukkan perlawananku.

Sekarang tubuhku yang ramping dan berkulit putih ini benar-benar telanjang total di hadapan Mas Adhi. Sungguh, aku belum pernah sekalipun telanjang di hadapan pria lain, kecuali di hadapan suamiku. Sebelumnya aku pun tidak pernah beranggapan melakukan tindakan seperti ini. Tetapi kini, Mas Adhi sukses memaksaku, sedangkan aku laksana pasrah saja tanpa daya.

 

“Mas, guna yang satu ini tidak boleh Mas, aku tidak hendak merusak keutuhan perkawinanku..!” pintaku sambil mendekam di atas lokasi tidur, untuk mengayomi buah dada dan vaginaku yang sekarang tanpa penutup.

“Ri.. apa.. kamu.. nggak kasihan padaku sayang.., aku telah terlanjur terbakar.., aku nggak powerful lagi, sayang. Please, aku.. mohon,” kata Mas Adhi masih dengan terbata-bata dan wajah yang memelas.

 

Entah sebab aku tidak tega atau sebab aku sendiri pun sudah terbakar birahi, aku diam saja saat Mas Adhi kembali mengerjakan tubuhku. Bibir dan di antara tangannya mengerjakan kedua buah dadaku, sedangkan tangan yang satunya lagi mengusap-usap paha dan selangkangan kakiku. Mataku benar-benar merem-melek merasakan kesenangan itu. Sementara napasku pun semakin terengah-engah.

 

Tiba-tiba saja Mas Adhi beranjak dan dengan cepat melepas seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya. Kini ia sama denganku telanjang bulat-bulat. Ya ampun, aku tidak bisa percaya, sekarang aku telanjang dalam satu kamar dengan pria yang bukan suamiku, ohh. Aku menyaksikan tubuh Mas Adhi yang memang atletis, besar dan kekar. Ia jauh lebih tinggi dan lebih banyak dibanding suamiku yang berperawakan sedang-sedang saja.

 

 

 

Tetapi yang menciptakan dadaku berdegup lebih keras ialah benda di selangkangan Mas Adhi. Benda yang besarnya nyaris sama dengan lenganku tersebut berwarna coklat tua dan sekarang tegak mengacung. Panjangnya kutaksir tidak tidak cukup dari 22 cm, atau nyaris dua kali lipat dibanding kepunyaan suamiku, sedangkan besarnya selama 3 hingga 4 kali lipatnya. Sungguh aku nyaris tidak percaya terdapat penis sebesar dan sepanjang itu. Perasaanku bercampur baur antara ngeri, gemas dan penasaran.

 

Kini tubuh telanjang Mas Adhi mendekapku. Darahku laksana terkesiap saat merasakan dada bidang Mas Adhi menempel erat dadaku. Ada sensasi hebat yang melandaku, saat dada yang kekar tersebut merapat dengan tubuhku. Ohh, baru kali ini kurasakan dekapan pria lain di samping suamiku. Ia masih terus menciumi sekujur tubuhku, sedangkan tangannya pun tidak kenal lelah meremas-remas buah dadaku yang semakin kenyal. Sekali lagi, sebelumnya tidak pernah kurasakan sensasi dan rangsangan sedahsyat ini.

 

 

Aku tersentak saat kurasakan terdapat benda yang masuk dan menggelitik lubang vaginaku. Ternyata Mas Adhi nekat memasukkan jari tangannya ke celah vaginaku. Ia memutar-mutarkan telunjuknya di dalam lubang vaginaku, sampai-sampai aku benar-benar nyaris tidak powerful lagi menahan kesenangan yang menderaku. Mendapat serangan yang spektakuler nikmat itu, secara refleks aku memutar-mutarkan pantatku. Toh, aku masih berjuang menolaknya.

 

“Mas, tidak boleh sampai dimasukkan jarinya, lumayan di luaran saja..!” pintaku.

 

Tetapi lagi-lagi Mas Adhi tidak menggubrisku. Ia selanjutnya menelusupkan kepalanya di selangkanganku, kemudian bibir dan lidahnya tanpa henti melumat berakhir vaginaku. Aku tergetar hebat mendapat rangsangan ini. Tidak powerful lagi menahan kesenangan itu, tanpa sadar tanganku menjambak rambut Mas Adhi yang masih megap-megap di selangkanganku. Kini aku benar-benar sudah tenggelam dalam birahi.

 

Ketika kesenangan birahi benar-benar menguasaiku, dengan tiba-tiba, Mas Adhi melepaskanku dan berdiri di ambang tempat tidur. Ia mengocok-ngocok batang penisnya yang berukuran spektakuler tersebut.

 

“Udah nyaris setengah jam, dari tadi aku terus yang aktif, capek nih. Sekarang ganti anda dong Ri yang aktif..!” kata Mas Adhi.

“Aku nggak bisa, Mas. Lagian aku masih takuut..!” jawabku dengan malu-malu.

“Oke bila gitu pegang aja iniku, please, aku mohon, Ri..!” ujarnya seraya menyodorkan batang penis besar tersebut ke hadapanku.

 

Dengan malu-malu kupegang batang yang keras dan berotot itu. Lagi-lagi dadaku berdebar-debar dan darahku berdesir saat tanganku mulai memegang penis Mas Adhi. Sejenak aku sempat membayangkan, bagaimana nikmatnya andai penis yang besar dan keras tersebut dimasukkan ke lubang vagina perempuan.

 

“Besaran mana dengan kepunyaan suamimu Ri..?” goda Mas Adhi.

 

Aku tidak membalas walau dalam hati aku mengakui, penis Mas Adhi jauh lebih banyak dan lebih panjang dibanding kepunyaan suamiku.

 

“Diapakan nih Mas..? Sumpah aku nggak dapat apa-apa,” kataku seraya menggenggam batang penis Mas Adhi.

“Oke, biar gampang, dikocok aja, sayang. Bisakan..?” jawab Mas Adhi lembut.

 

Dengan dada berdegup kencang, kukocok perlahan-lahan penis yang besar kepunyaan Mas Adhi. Ada sensasi tersendiri saat aku mulai mengocok buah zakar Mas Adhi yang paling besar tersebut. Gila, tanganku nyaris tidak lumayan menggenggamnya. Aku bercita-cita dengan kukocok penisnya, sperma Mas Adhi cepat muncrat, sampai-sampai ia tidak dapat melakukan lebih jauh terhadap diriku.

 

Mas Adhi yang sekarang telentang di sampingku memejamkan matanya saat tanganku mulai naik-turun mengocok batang zakarnya. Napasnya mendengus-dengus, tanda bila nafsunya mulai bertambah lagi. Aku sendiri pun terangsang menyaksikan tubuh tinggi besar di hadapanku laksana tidak berdaya dikuasai rasa nikmat. Tiba-tiba ia memutar tubuhnya, sampai-sampai kepalanya sekarang tepat sedang di selangkanganku, kebalikannya kepalaku pun menghadap tepat di selangkangannya. Mas Adhi pulang melumat lubang kemaluanku. Lidahnya menjilat-jilat tanpa henti di rongga vaginaku.

BERSAMBUNG.