Part 5.
Tiga hari Mas Pras di rumah. Pagi itu dia harus berangkat. Jam lima pagi, kernetnya datang memberi tahu kalau muatan sudah dinaikkan. Sudah ditutup deklit ,tinggal berangkat.
“Kun, kamu cari sekolah yang deket-deket saja. Ngirit . Kalau bisa ar yang masuk siang, Biar ada yang membantu mBakyumu. Dia hamil, Kun. Aga Mbakyumu jangan sampai kelelahan.” Mas Pras berpesan sambil mengacak-acak rambutku dengan mesra.
“Inggih, Mas.” Saya antar sambil membawakan koper berisi pakaian Mas Pras ke truk yang sudah diparkir di ujung gang. Lik Tarjo, kernet setia, memarkir truk itu di situ.
Pagi itu juga aku diajak Mbak Yanti mencari sekolah buat aku. Aku pakai seragam SMA dan Mbak Yanti …….. ya ampun….. cantik banget. Pakaiannya sederhana, tapi cocok sekali dengan kulitnya dan tubuhnya yang tinggi semampai. Rambutnya yang agak kemerahan, menambah cantik wajahnya yang oval dihiasi biabir tipis, hidung bangir dan bulu mata yang lentk. Aku malu pada diriku sendiri
Ada sebuah sma Swasta di jalan Raden Patah. Masuk siang. Tidak jauh dari rumahku. Di kantor SMA itu Mbak Yanti menjadi pusat perhatian para guru, terutama bapak-bapak guru. Kalau kepergok Mbak Yanti mereka sedang memandangi dengan kagum, mereka terenyum ramah. Yang tidak enak kalau mareka melihat aku, pasti dengan pandangan curiga. Kalau adiknya kok tidak mirip. Kakaknya cantik, adiknya jelek, gelap lagi. Tetapi kalau pembantunya kok selalu digandeng . Mungkin begitu yang mereka pikirkan. Saat wawancara kulihat Bapak Guru yang berkaca mata minus itu berkali-kali melirik ke belahan dada, Mbak Yanti yang terlihat , karena bajunya berkerah lebar dan rendah. Kalau Mbak Yanti tertawa, dadanya terguncang-guncang, Bapak Guru itu ikut-ikutan tertawa. Tetapi matanya selalu ke dada itu lagi. Dasar lelaki. (Eh, aku laki-laki juga, ya)
Aku tidak peduli. Yang penting aku sekarang sekolah lagi.
Bulan Juli, aku sekolah lagi. Sementara itu perut Mbak Yanti sudah semakin besar. Banyak pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan lagi. Satu-satunya yang wajib dikerjakan adalah mengepel lantai. Menurut Bulik Saodah tetangga depanku, itu baik untuk proses persalinan nanti. Jam sebelas pagi, semua pekerjaan harus sudah selesai. Karena jam setengah dua belas harus berangkat sekolah. Jalan kaki lewat Pengapon, lewat Pasar Kobong, sampai sekolah sekitar setengah jam.
Praktis tenagaku sudah terkuras habis paginya. Di sekolah tinggal sisa-sisa tenaga. Erring aku berjuang keras melawan rasa mengantuk yang tak tertahan saat jam pelajaran. Sisi baiknya mengulang di kelas yang sama terasa amat mudah. Apalagi SMa swasta itu menurut penilaianku levelnya jauh di bawah SMa ku. Senang sekali bisa bersekolah lagi. Karena aku dikira anak pandai, banyak yang suka bertanya peer. Kalo ulangan pada minta contekan. Pokoknya seru, deh.
Pulang sekolah sampai di rumah hampir maghrib. Melihat rumah gelap, yang pertama kulakukan adalah menyalakan lampu pompa. Aku kasihan sama Mbak Yanti. Beliau nggak bisa menyalakan lampu Petromax. Masih berpakain seragam, kutengok keadaan dapur, jemuran dan kamar mandi untuk mengetahui mana yang belum beres. Tetapi semua sudah rapi, kecuali air di kamar mandi kosong. Aku menimba air memenuhi bak mandi.
“Wis Kun, nanti saja ngisinya. Kamu lelah.” Lemut sekali beliau menyapaku.
“Cuma untuk mandi aku, kok Mbak.” Aku segera mandi. Rutinitas seperti itu terjadi setiap hari.
Aku biasa mengerjakan peer dan belajar sampai malam. Jarang aku bisa ngobrol-ngobrol lagi. Aku benar-benar tenggelam dengan situasi baruku. Banyak guru yang kukenal baik dan mereka suka padaku. Sebenarnya aku biasa-biasa saja. Tetapi karena banyak teman yang bodoh dan nakal, maka di situ aku dianggap anak yang sopan dan pandai. Aku semakin merasa diterima . Aku sebenarnya melupakan sesuatu karena kesibukan sekolahku itu. Mbak Yanti.
Dengan perutnya yang semakin membesar beliau sering menemani aku mengerjakan peer atau belajar. Sering beliau mengajak bicara, tetapi aku menjawab seperlunya, karena aku konsentrasi ke pelajaran.
Saat itu sedang banyak ulangan. Aku sedang tenggelam dalam keasyikan belajar. Kuakui aku memang kutu buku. Matematika adalah pelajaran favoritku. Aeperti biasa, beliau duduk di sampingku, aku sibuk menulis dan mngerjakan soak-soal atau menjawab peer. Aku heran, kenapa sejak tadi Mbak Yanti tidak bertanya. Aku merasa ada yang tidak wajar.
“Mbak, kalau sudah ngantuk sare dulu, to?” aku berbasa-basi sambil menoleh. Aku terkejut melihat mata beliau basah. Air matanya mengalir di piinya yang sekarang tampak tembem.
“Mbak,……………….kenapa?” aku menghentikan aktifitasku.
“Nggak apa-apa. teruslah belajar, kamu memang anak rajin, tekun dan baik.” Jawabnya diserati isak tangis tertahan. Apa maksudnya, ya?
“Kamu dan Mas Pras sama saja, ya. Semua sibuk.” Kini tangisnya pecah. Aku bingung. Sebagai anak-anak aku belum bisa memahami perlunya memberi perhatian pada orang tua. Tetapi kini aku sadar, bahwa selama ini, aku melupakan kehadiran Mbak Yanti. Hatiku tersentuh oleh isak tangisnya. Secara naluriah kupegang tangannya. Kugenggam erat.
“Mbak……. Maafkan Kun. Aku bener-bener keterlaluan. Aku salah, Mbak…..” tak bisa kulanjutkan kata-kataku. Dadaku penuh keharuan. Mataku jadi panas dan basah. Kupeluk beliau dengan penuh perasaan menyesal. Mbak Yanti tetap menangis dan sikapnya pasif sekali. Kucium tangannya, kuciumi pipinya diaaaam saja. Aku menjadi serba salah. Karena malam semakin larut dan Mbak Yanti tidak juga masuk kamar, masih tetap duduk di sofa. Aku ambil inisiatif. Kuambil selimut dan bantal. Kurebahkan beliau di sofa. Menurut saja. Kuselimuti diam saja. Malam itu aku menunggui beliau tidur di sofa, aku tidur di karpet di bawah sofa. Subuh pagi aku dibangunkan, disuruh mengantar ke kamar mandi. Kutuntun beliau. Tanpa menutup pintu beliau langsung mengangkat daster dan jongkok. Soorrrrrrr….
Aku jadi tau, bahwa orang hamil itu suka bermanja-manja. Suka minta yang aneh-aneh. Mulai hari itu aku lebih banyak memperhatikan keadaan beliau.
“Kun, aku pengin dimandiin seperti waktu aku sakit dulu itu, lho”
“Baik, Mbak.” Aku siapkan air hangat dan lap pel. Kumasukkan kursi kayu ke kamar mandi.
Tanpa ada rasa malu sedikitpun beliau langsung telanjang di hadapanku. Lucu juga melihat bentuk tubuhnya. Perut maju, pantat semakin lebar. Putting susu jadi hitam dan lebar kini bongkahan bukit kembar yang putih itu semakin melebar saja. Kupandangi semuanya itu dengan penuh kekaguman. Apa bisa orang hamil itu “digituin” ya? Aku berpikiran ngeres. Badanku terasa panas dan penisku semakin mengeras. Kini beliau sudah duduk. Segera kuguyur tubuhnya dengan air hangat. Tibunya kini bercahaya bagai dilapisi kaca. Kusabuni punggungnya. Pantatnya,. Penginnya aku menyabuni bagian depan. Susunya sangat menantang untuk disentuh, tapi aku masih jaim.
Mbak Yanti rupanya tidak sabar dengan sikapku yang sok jaim itu. Dipegangnya tanganku yang membawa sabun. Di arahkan ke dadanya. Saat kusabuni, benda kembar itu terayun-ayun. Aku tau beliau paling suka kalau sambil diremes, Bener juga, beliau mendongak ke atas menahan nikmat.
Kini tangaku berada diperut beliau. Aku jongkok di hadapan beliau. Kemaluan beliau Nampak jelas. Ditumbuhi rambut jarang. Kusabun perutnya dulu, makin lama makin turun. Akhirnya sampailah jariku di tepi “hutan” Tak sabar jariku segera menyentuh si merah kecil. Begitu kena sentuhan, desisnya semakin jelas terdengar. Ketika aku berdiri mengambilkan sabun, tiba-tiba langkahku tertahan karena celanaku diturunkan, padahal aku sedang tidak mengenakan CD.
“Kamu duduk di situ.” Mbak Narsih berdiri. Aku duduk di kursi dengan batang tegak teracung.
Mbak Yanti pelan-pelan mengarahkan pantatnya dan duduk dipangkuanku.
“Lho, Mbak…….nggak apa-apa?” tapi sebagai jawaban pantat nan putih itu semakin turun. Satu tangan beliau memegang penisku mengarahkan ke lubangnya. Masuknya “si hitam” ke lubang kenikmatan itu disertai desisan yang punya lubang. “Oohhhh….sssssh” Pantat beliau naik turun diiringi bunyi crop…crop….crop…..
“Enak…..banget sayaannnggg,…aku udah gatelll sayangg…lama.gak di masukin punyamu…..hhh….hhh…..hhhh…..”
Aku mengambil gayung lalu kuguyur badannya yang penuh sabun itu. Aliran air hangat itu menambah nikmat persetubuhan aneh itu. Kuguyur lagi sambil kugosok punggung dan pundaknya. Begitu terus menerus sambil aktif naik turun beliau tetap kumandikan. Dari pantulan cermin di kamar mandi, kulihat susunya terayun-ayun indah saat pantatnya aktif naik turun. Kedua tanganku meraih kedua bukit kembar itu. Kubelai-belai dan kupelintir puting hitam besar itu.
“Aaaahhhh……terussss….kamu pinter….sayannggg,,,…Kun…..” gerakan naik turunnya melemah, kelelahan juga akhirnya. Sekarang Mbak Yanti duduk di bibir bak mandi yang cukup rendah dan lebar. dibukanya lebar-lebar kedua pahanya. Lubang kenikmatannya yang sudah amburadul itu menganga. Sikunya bertelekan di tembok. Sambil berdiri kumasukkan lagi “tongkat ajaib” yang disukai Mbak Yanti itu. Dalam posisi tengadah seperti itu kukira lubang itu akan semakin lebar dan kendor. Tetapi aneh, malah tambah seret dan menggigit. Kamar mandi itu menjadi ajang “pertempuran aneh” Perutnya yang membuncit bergoyang-goyang saat kusodok-sodok. Baru tau aku sekarang. Ternyata orang hamil, masih suka “main”, Menurutku malah lebih “hot”
“Kuuuuunnn….. jangan …..tinggalkan Mbak Yanti ……”
“Tidak lagi…Mbak.”
“Addduuuuu……terusss saaynngggg sooodokk memekkku..aacchhh…….enaaaaakkkkk…….”
“Mbaaaaak……. memekmu…..anget banget, Mbak……..”
“Teruussss……yang dalam…..dalam…….”
“Mbaaaakkkk…..aku nggak tahan lagi…….ayo Mbaak.”
“Ooohhhh….ssshhh……aku….aku……juga……hampiiiiirr…keluarr….Ku uun”
Mbak Yanti memutar-mutar pantatnya dan aku menghunjam semakin dalam. Gelombang kenikmatan datang bergulung-gulung…….nafas kami berdua terpantul berisik oleh dinding kamar mandi beratap seng. Keringatku membanjir demikian pula Mbak Yanti. Bau sabun wangi yang bercampur bau keringat menimbulkan suasana aneh yang sangat merangsang. Akhirnya tak kuat lagi kami menahan datagnya tsunami kenikmatan itu. Pancaran spermaku terasa deras menyemprot dinding rahim beliau yang juga banjir. Karena licin, tubuh Mbak Yanti kepleset nyemplung utuh ke bak mandi. Untung bak mandinya rendah dan berisi penuh air, sehingga tidak terasa sakit,akupun langsung ikut nyemplung kebak mandi,..tanpa henti tangan mba yanti menarik kontolku masuk ke memeknya ,,….sleppp…beezzz…aacchh…nikmaatt…setelah kami sam-sama muncrat,akhirnya. Kubantu untuk mentas. Kini aku sendiri mandi jebar-jebur membersihkan diri. Mbak Yanti membantu menggosok punggungku. Handuk kita pakai berdua. Masih bugil, kutuntun Mbak Yanti ke kamarnya. Beliau tidak ambil ganti pakaian malah tiduran. Aku ditariknya untuk ikut tidur. Padahal sudah jam setengah sembilan pagi.
“Kun……..bawa sini manukmu……”
“Mau apa Mbak…..”
Tak banyak bicara…. Segera mulutnya menciumi burungku yang kini tegang lagi. Melihat benda ini bertambah panjang dengan cepat, tak sabar Mbak Yanti memasukkan ke dalam mulutnya. Aku jadi berkelojotan. Rasanya geli-geli nikmat…..
“Kun, puasin aku….sayangg. Kamu biarkan Mbak Yanti kesepian sejak kamu sekolah. Ayo hari ini kamu nggak boleh masuk.” Di bimbingnya kontolku masuk kememeknya,,..sleeppp…bleezzzz…..aacchhh…sayaaanngg genjottt terusss,,,,ssayannng puasin mba….sayannnggg…..sambil maju mundur ku pompa memek mba Yanti yang udah basah oleh cairan birahi…..aaahhh,….sayaannggg mba mau keluarrr…sayanggg…..dan akhirnya ….crroooottt…crooott..keluarlah cairan kenikmatan Mba yanti…di barengi dengan semprotanku di dalam memeknya.cratttttt….cratttt…achhh…..
TAMAT.
