Sabtu, 30 Mei 2026

Kakak iparku yanti yang ketagihan 4


 


Part 4.

Dalam posisi bersimpuh kumasuki lubang kenikmatan itu…..slleppp….blezzz……aaachhhh Kulitnya yang basah oleh peluhm menjadi berkilat dan keliatan indah sekali. Kamar yang agak gelap itu menjadi terang oleh pantulan cerahnya kulit putihnya. Aku terangsang sekali. Pelan-pelan aku gerakkan maju dan mundur. Lubang itu agak kering sekarang. Merasa tidak nyaman. Aku cabut keluar dari lubangnya. Aku bermaksud berdiri di samping kasur. “Kuuuun…..kok dilepas…….ayo…masukin lagi sayaannggg….” beliau merintih memohon. Biasanya dia main perintah dan harus dipatuhi, sekarang singa betina itu merintih memohon. Aku tidak menjawab, langsung turun sambil menyeret kedua kakinya ke tepi pembaringan. Kubentangkan lebar kedua pahanya. Pangkal pahanya tampak merekah menantang. Aku sengaja tidak segera memasukkan tongkolku, aku ingin dengar rintihannya, jriku mempermainkan daging itilnya saja.

“Kuuuun….. ayo…..jangan main-main itu….. cepet masuk…masuk…ooohhh….” Puas aku mendengar rintihan beliau. Kuarahkan batangku ke lubang itu dan……blessss…sleepppp…….aachhhh….Ternyata lubang itu kini sudah basah lagi. Beliau mengangkat tinggi-tinggi kakinya sehingga tanganku terbebas tidak menyangga lagi. Kini aku raih kedua bukit kembarnya yang terpantul-pantul karena goyongan tubuhnya yang kusodok-sodok.

“Enaaak….Kun…..Enak…ya…sayaanngg,konntoooolll kaamuu geedeeee..Kun……?” mulutnya terus nyerocos tapi matanya terpejam.

Aku bergerk maju mundur dengan irama pelan. Kunikmati setiap gerakan. Kurasakan makin pelan aku menggerakkan, tongkolku terasa digigit atau dijepit oleh “bibir” beliau.

“Kun cepet… sing jeroooo……oooh…..oohhh……sing jeroo  sayaaanggggg…..”

“Iya…Mbaaaaakk……..ini….Mbak….slepppppppppp  blezzzzzzzz… aaaahhh…..”

Udara kamar terasa semakin panas. Keringat sudah membanjir…..nafsu sudah sampai kepala.

Kupercepat gerakan, makin lama makin cepat dan tusukan semakin dalam.

Plak plak plak….kreet….kreeet…..suara daging beradu dan kerenyit tempat tidur mengiringi tarian birahi aku dan beliau. Jepitannya semakin kenceng dan denyut-denyut diujung kemaluanku semakin terasa….”Mbaaaaakkkk….iki….piyeeeee…… addduuuh…..” Aku sudah sampai di ujung perjuangan.

“Tungguuuu……akuuu….ke….lu….ar……Kunnnnn.” keluarin di mana mbaa?....di dalam aja kunn…biar hamill.Pantatnya berputar liar dan tangannya mendorong pantatku sampai mepet . Crooottttzz…crooot…crooottt…Seeerrrr. Kami mencapai klimax bersama.

Kupeluk Mbak Yanti. Kurebahkan kepalaku di atas susunya yang empuk.

“mBaaak….. aku sayaaaang sama Mbak Yanti.”

 

 

Mbak Yanti tidak menjawab, tetapi ganti memeluk erat tubuhku. Tanpa memepas senjataku dari memek mba yanti,Aku berharap semoga beliau tetap seperti ini. Tidak marah-marah lagi. Tetapi aku menyadari kenyataan seperti orang bilang watuk bias mari lamon watak kapan marine,Dalam serial sebelumnya, , sudah tau bagaimana watak Mbak Yanti. Mudah marah, perfeksionis dalam urusan kebersihan rumah tangga, dan sekarang baru aku tau, kalo beliau itu juga eksibisionist, suka menggoda dengan memamerkan tubuhnya yang seksi. Meskipun sifatnya itu hanya di dalam rumah saja.

Sudah sebelas hari Mas Pras belum pulang. Selama itu pula aku bersikap sangat hati-hati, tidak ingin kena marah lagi. Aku ingin memelihara suasana damai dengan Mbak Yanti. Setelah kejadian “santap siang” itu sikap beliau baik. Tapi aku tetap hormat dan takut. Beliau juga tak pernah bicara soal itu. Seolah-olah tak pernah terjadi. Aku tidak berani lagi mengintip-ngintip. Aku tau diri dan berusaha menghormati Mas Pras. Aku juga sudah kepengin ketemu Mas Pras. Beliau janji mau mencarikan aku sekolah, sudah 3 bulan aku tidak bersekolah.

“Masmu kok belum pulang ya Kun?” matanya memandang ke pintu. Keliatan kalo beliau sudah kangen sekali kepada suaminya. Lampu Petromax semakin redup, butuh dipompa lagi. Aku menurunkan lampu itu dan memompanya. “Sudah sebelas hari, Mbak.” Jawabku sambil memompa lampu menjadi semakin terang lagi.

 dah lama yan kun…aku kangen kun,..kan udah ada aku mba,,,sembarangan kamu,,…ntar tak bilangin masmu lho…

“Siapa takut, Mbak. Ini, aku berani maju.” Aku mendekat lagi bahkan lebih mepet.

Mbak Yanti tersenyum geli melihat sikapku. “Uuuu….cah nakal. “ dipijitnya hidungku dengan gemes.”Aduuuu Mbak, sakit” malam itu suasana terasa mesra dan menyenangkan. Sampai jam sebelas malam kami berdua ngobrol akrab. Sepertinya Mbak Yanti menunggu Mas Pras, tapi beliau tidak bilang apa-apa. Mbak Yanti sudah menguap dan masuk ke kamar tidurnya. Petromax saya matikan kuganti lampu tempel. Aku pun masuk kamar, segera tidur nyenyak dengan mimpi indah. Aku tidak tahu bahwa jam dua belas malam Mas Pras datang. Dalam mimpiku aku bertemu cewek cantik. Cewek yg belum kukenal itu tanpa malu-malu mendekati aku dan menciumi aku. Bajuku dibuka lalu celana ku diturunkan. Aku sekarang tinggal memakai celana dalam. Dalam alunan musik dangdut cewek itu meluk-liuk kan tubuhnya mengikuti irama sambil melepas pakaiannya satu persatu. Kemaluanku menjadi tegang. Apalagi saat dia mendekat dan mengelus-elus penisku dengan lembut, rasanya nikmat sekali Tiba-tiba aku merasa sesuatu yang berat menimpa badanku dan kemaluanku terasa basah dan hangat. Kurasakan nafas hangat dan berat menyapu wajahku. Aku terbangun!

Mataku menatap kabur pada bayangan di atas wajahku di kamar ku yang gelap itu. Beberapa saat pandanganku menjadi jelas bahwa itu wajah Mbak Narsih. Aku bermaksud membuka mulut dan bertanya tetapi mulutku dibekap. “Ssssst……..!” beliau menyuruh aku diam. Badanku yang kecil itu merasakan beban yang lumayan berat dari tubuh wanita dewasa itu. Beliau jongkok dan bergerak naik turun. Penisku merasakan kehangatan di dalam lubang Mbak Yanti Ternyata apa yang terasa dalam mimpiku itu adalah kenyataan. Kini dengan sadar kurasakan kenikmatan itu. Nafas nya yang memburu menandakan beliau sedang dilanda nafsu birahi yang hebat.

“Kuuuun……puasi akuuuu…sayang…aku pengen di masukin sama kontomu yang gede sayaanggg…. “ beliau merebahkan diri di atas tubuhku dan berbisik di telingaku. Aku berusaha menahan berat tubuhnya. Badannya panas sekali. Bau keringatnya yang khas menyeruak membangkitkan nafsuku. Kudorong tubuhnya ke samping, kini aku berhadap-hadapan dengan beliau dalam posisi miring. Susunya yang bulat putih itu kuremas-remas, terasa hangat dan kenyal. Telapak tanganku terlalu kecil untuk memegang payudaranya yang padat bulat itu. sambil kusodok lubangnya dengan penuh semangat. Setelah beberapa saat posisi seperti itu kurang nyaman rasanya.

“Kamu……ssshhh. …kamu… di….ooouuh…di … atasssss…sayanggg aku lgi kecapean…..” segera kuturuti perrmintaan beliau. Aku merasa lebih leluasa melancarkan gerakanku. Kini aku mendengar music dangdut yang kudengar dalam mimpi tadi. Mbak Yanti menyalakan radio kecilku, yang gelombangnya tak pernah pindah dari radio swasta spesial dangdut. Kapan pula beliau masuk kamarku? Pertanyaan yang tak perlu dijawab, karena situasinya dalam keadaan “perang”. Di kamarku yang remang-remang, kulihat di bawahku sesosok wanita cantik, yang berhari-hari aku rindukan kehangatan tubuhnya. Mbak Yanti merindukan kehangatan suaminya, dan aku ketagihan merasakan kehangatan tubuhnya. Meskipun keinginan itu menggebu, tapi aku tak berani meminta. Aku anak kecil. Aku hanya numpang hidup. Pokoknya aku di posisi yang lemah. Kini tiba-tiba saja kesempatan itu dating lagi. Setelah memperoleh kesadaran penuh, timbullah dorongan hasrat yang sangat kuat. Aliran darahku terasa semakin cepat. O, Mbak Yanti, …… kamu adalah mimpi terindahku setiap malam. tusukanku semakin mantap. Kurasakan sudut-sudut liang rahimnya yang hangat. Memperoleh serangan balik yang dahsyat, Mbak Yanti memutar-mutar pantatnya. Pandangan matanya liar, mulutnya menganga, kadang-kadang menyeringai menahan kenikmatan yang merambati ujung-ujung syarafnya. Wajah cantiknya berubah ganas dan buas. tetapi wajah itu tidak membuat aku takut, malah semakin terangsang. Aku sudah lupa, bahwa wanita cantik yang menggeliat-geliat di bawahku adalah wanita yang seharusnya kuhormati. Karena begitu bersemangat sampai tempat tidurku yang sempit itu berkereyotan menimbulkan suara berisik.

“Sssshh…. Jangan berisik….Kkkuuunnnh….hhffff….nan…ti…Mas Prassss…..bang…bang…ngun..” tersengal-sengal Mbak Yanti memberitahu aku. Hah? Ada Mas Pras? Edan tenan. Aku kaget sekali. Tak terasa gerakanku melambat dan berhenti.

“Ayooo….. kenapa….terusss…keburu bangun dia….” Diangkat-angkatnya pantatnya. Kembali kulancarkan seranganku semakin cepat. Kurebahkan tubuhku di dada nya yang putih dan empuk itu. Kini jelas kulihat wajahnya. Rambutnya awut-awutan. Napasnya yang panas menerpa wajahku. “Mas Pras sudah pulang Mbak?” tanpa menghentikan gerakan aku bertanya

“Sudah, Kun….. ah Masmu payah.” Kuhisap-hisap putingnya sambil kuremas bukit empuk yang putih itu. Tak tahan diisap dipeluknya tubuhku erat, sambil mencurahkan keluhan hatinya

“Aku belum apa-apa……Masmu sudah keluar…..langsung loyo dan tidur”

“Aku nggak bisa tidur, lalu nyetel radiomu. “ beliau berhenti ngomong lalu mencium bibirku. Kami berciuman dalam kesunyian malam dan iringan irama dangdut. Suara radio ini dimaksudkan untuk menutupi “kegaduhan” di kamarku ini. Setelah bibir kami lepas. Aku turun dari tempat tidur diikuti Mbak Yanti. Beliau langsung berdiri membelakangiku, pantatnya yang besar itu disodorkannya. Sudut kemaluannya yang gelap itu kontras dengan bokongnya yang putih. Kuarahkan penisku ke sana. Karena terlalu naik, tangan beliau membantu menuntun ujung tongkolku ke arah yang tepat. Sleppp,,,,bleezzzz…..aacchhh….Lagi-lagi kurasakan kehangatan yang nikmat itu. Kubenamkan semakin dalam. Lubang itu terasa lebih sesak sekarang..slleeppp…slleeeppp..blezzzz…. Belum pernah aku dalam posisi begini. Batangku yang panjang terasa bisa masuk lebih dalam. Mbak Yanti merintih keenakan. “Terusssss…….,Kun…..genjott,,,,terus memekku sayannggggg…..aahhh ….cepet….ayo kamu juga keluarin di memek mba sayannggg biar bias hamilll…..aacchhh kunnn mba mau keluarr  sayyaanngggg…..” Aku pun sampai di ujung perjalanan, makin lama makin cepat. Lubang Mbak Yanti kali ini sudah becek sekali

 

dan……”Kuuun…..aaaahhhhhhh…crooott…croooottt…nikkkmaaattt sayaanggg…..” dipeluknya aku dengan sangat erat dan penisku terasa dijepit oleh benda lembut dan hangat yg berkedut-kedut. Kubenamkan dalam-dalam kemaluanku dan memancarkan cairan hangat ke liang senggama Mbak Yanti.,,,crraaattt…crraaaattt….. Serrr….serrr…..ser…. Mbaaaakkkk……. Aduuuuh…..aku keluar.” Beberapa saat kemudian beliau menghentikan semua gerakan , terduduk lemas di tepi tempat tidur,sambil mengecupku,,…makasih sayangg kamu benar,…benar hebat selalu bias muasin mba,.sama-sam mba aku juga. Setelah memperoleh kekuatan kembali, Mba yanti aku angkat sambil berjalan tanpa melepas sodokan kontolku di memeknya beranjak keluar, menuju ke kamar mandi. Aku duduk di sofa kamar tamu menunggu beliau keluar dari kamar mandi. Masih bertelanjang, Mbak Narsih kembali ke kamarnya.

Aku segera mencuci “peralatanku” dan kembali ke kamarku.

Aku duduk di tepi tempat tidur dan merenung. Ada apa ini? Kucoba untuk merangkai-rangkai berbagai kemungkinan. Mas Pras tengah malam pulang. Pasti beliau sangat lelah. Mbak Narsih yang lama menunggu kedatangan sang suami, mungkin minta “oleh-oleh”. Karena factor kelelahan atau sebab lain, tugas Mas Pras belum tuntas. Wanita yang haus ini sudah lama berpuasa, tentu nafsunya berkobar-kobar. Ibaratnya bertepuk sebelah tangan, Mas Pras masih lelah. Lalu tidak mampu memberi kepuasan. Kira-kira begitu. Akibatnya, karena tidak puas, ibaratnya makan belum kenyang, lalu nambah. Mungkin, beliau ke kamarku, mempermainkan burungku, sehingga tegang. Begitu bisa dipakai, segera dimasukkan dan dipompa. Saat itulah aku terbangun. Aku juga tidak tahu penyebab sebenarnya. Aku tidak berani bertanya. Hanya saja badanku terasa pegal-pegal sekarang. Aku jatuh tertidur dan….. bangun kesiangan.

Aku takut keduluan Mbak Yanti. Segera aku bangun dan ke dapur menyalakan kompor. Merebus air dan mencuci beras. Untung, beliau masih tidur. Kalau kedapatan aku bangun kesiangan, semua pekerjaan pasti beliau selesaikan dengan cepat dan rapi. Aku bisa mati langkah dan siap didiamkan berhari-hari. Lega rasanya. Sampai aku selesai mencuci pakaian dan nasi sudah masak mereka belum bangun. Aku ambil uang belanja di lemari dapur dan beli sayur ke warung. Pulang dari warung Mbak Yanti dan Mas Pras sudah bangun. Aku menyapa dengan sopan, “Mas,tadi malam ya pulangnya?”

“Heeh, gawekna kopi, le !” Mas Pras minta aku buatkan kopi. Kuseduh kopi kental tanpa gula. Itu minuman favorit nya. Kutaruh beberapa bongkah gula jawa di mangkuk kecil.

“Wah, pinter kamu Kun. Uenake.. kopi pait karo ngemut gula jawa.” Katanya sambil menyeruput kopi hitam itu. “O, iyaa… kamu jadi sekolah nggak?”

Aku tersenyum gembira, “ Jadi, Mas. Besok Senin Mas Pras masih di rumah?”

“Pokoknya sudah kuberikan dananya dibawa mbakyumu. Minta saja. “ maksudku kuminta Mas Pras antar aku cari sekolahan, tapi mungkin beliau sudah harus kerja lagi. Ya, sudah nggak apa-apa Yang penting aku pasti sekolah.

“Kenapa harus sama Mas-mu, malu ya dianter mbakyumu” tanya Mbak Yanti, biasa nadanya galak, aku sudah terbiasa dengan sifatnya itu.

“Mboten, Mbak “ aku menjawab sopan dan menyatakan bahwa diantar Mbak Narsih aku juga mau

 

Karena semua pekerjaaan pai itu sudah kelar. Aku kembali ke kamar, untuk…..tidur. Lelah sekali badanku setelah “berjuang keras” semalam. Dari kamar kudengar mereka terus berbincang-bincang.

“Dik, keliatannya berat badanmu tambah ya?” kudengar suara Mas Pras yang nge-bas.

“Kok tau?”

“Itu rokmu pada kesempitan.”

“Mas Pras, sekarang harus percaya. Harus yakin.” Sepertinya Mbak Yanti serius.

“Maksudmu kamu bener-bener bisa hamil?” masih datar suara Masku.

“Biar aja apa kata dokter, apa kata tabib, sinshe boleh berteori, Aku sudah berhenti 2 bulan lho Mas. Lihat, nih perutku. Lho, …tambah lebar. Wudelku…tambah monyong.” Kubayangkan, pasti Mbak Yanti, membuka roknya dan memamerkan perutnya yang putih mulus itu.

“Dik Yanti,……. Sungguh bahagia aku hari ini…..akhirnya aku bisa….oh…” tak ada lagi suara mereka bicara. Pasti mereka……kalau nggak berciuman ya berpelukan.

“Makanya, jangan lama-lama perginya, Mas” itu suara Mbak Yanti. Lalu sepi lagi. Peristiwa selanjutnya aku tak tahu, karena aku tidur sampai siang.

BERSAMBUNG.