Part 3.
“Kuuuunnnn……………akuuuuuuuuu……keluar…..”
“Mbaaaaaakk……..oooohhhhh……aku jugaa mbaaaaaaa..” berapa kali senjataku memuntahkan peluru aku tak sempat menghitungnya. Croott….croott….ccrroooroot.tt…….accchhh…………aku terkulai di perut Mbak Yanti.
Keadaan jadi sunyi sekarang. Kupeluk kakak iparku. Dia pun memelukku bagaikan seorang ibu memeluk bayinya di pangkuannya. Badanku memang terlalu kecil dibandingkan tubuhnya yang bongsor,makasih ya sayang kamu udah muasin mba ,…kamu bener-bener perkasa.
Mulai saat itu secara teratur aku diberi” jatah harian” di saat-saat Mas Pras tidak ada di rumah. Kalau sifat galaknya kambuh itu tanda Mbak Yanti “minta”di sodok punyaku,. Benar kata Bulik Saodah, Mbak Yanti kesepian dan haus minum “es lilin”
Dalam kisah sebelumnya aku telah menceritakan perubahan hidupku yang drastis setelah kematian ibuku. Aku terpaksa ikut Mas Pras saudara semata wayangku, sebagai pengganti kedua orangtua ku yang sudah tiada. Aku harus beradaptasi dengan isteri Mas Pras yang judes dan galak. Karena kepepet aku berusaha bertahan di “neraka” itu, tetapi karena kompor meledak dan besarnya senjataku itu pula Mbak Yanti, kakak iparku itu akhirnya mau menerima keberadaaanku. Kebetulan saja aku sebagai anak laki-laki punya keterampilan memasak yg diwariskan almarhumah ibuku. Dari kenyataan itulah Mbak Yanti tidak lagi menganggapku “cah lanang isane opo”
Saat-saat yang selalu teringat dan terukir mendalam dalam hatiku adalah kemesraan sesaat yang kurasakan ketika merawat Mbak Yanti. Pribadi yang keras dan menakutkan itu suatu saat berubah menjadi seorang yang sangat lembut yang membutuhkan belaian dan kasih sayang. Rasanya aku sedang bercumbu dengan singa betina yang setiap saat bisa menjadi ganas dan mematikan. Ada rasa takut bercampur nafsu birahi yang berkobar.
Sifat dan watak Mbak Yanti itu sudah mendarah daging, merupakan sifat bawaan, tak kan pernah berubah selama hidupnya. Jika dia baik dan lembut itu hanya sesaat, seakan-akan “lupa”. Dalam keadaan normal, watak aslinya itu keluar dan itu berarti aku kembali hidup dalam suasana terror mental. Sedikit saja kesalahan yang aku buat, sengaja atau tidak. Pasti dia marah. Cuci piring tidak bersih apalagi cuci gelas, mudah sekali ketahuan kalau tidak bersih. Gelas tidak boleh bau amis atau bau sabun. Kalau itu terjadi, semua gelas di rak diturunkan dan dicuci ulang semuanya, SENDIRI. Mulutnya ngomel menyindir dan memakai ungkapan-ungkapan yang menyakitkan perasaan.
saat-saat manis bersama Mbak Narsih. Saat dia minta dicumbu. Kubayangkan matanya yang redup dan rntihannya yang “memilukan” saat memperoleh kenikmatan dariku. Rasanya tidak mungkin beliau bisa bersikap sekasar itu saat ini. Sampai jauh malam mata tak bisa dipejamkan. Kuingat tadi siang saat aku “pura-pura”belajar ( karena semua pekerjaan sudah diberesi) aku sempat melirik sebentar Dalam situasi dimarahi, aku merasa hidup sendiri. Bahkan saat ada Mas Pras pun, Mbak Yanti tetap “menyerang”. Seakan Mbak Yanti mencoba menunjukkan bahwa aku “tidak beres” kerjanya. Sayang, Mas Pras termasuk kelompok sukutri (suami takut istri). Di situlah hidupku benar-benar tertekan. Anehnya, di saat seperti itu pula, aku teringat atau suka mengingat mandi di luar kamar mandi, karena kamar mandi dikuras. Dia hanya pakai kain panjang untuk basahan. Meskipun aku takut sama galaknya, tapi tergoda juga untuk melirik menikmati kemulusan kulitnya. Putih mulus tertimpa temaramnya sinar matahari dari genteng kaca.
Dia menyabuni payudaranya yang bulat dan mulus itu dengan bebas, seakan-akan hanya dia saja yang ada di rumah ini. Membayangkan penampakan siang tadi dalam kesunyian pekatnya kamarku, tak terasa mulutku berbisik litih. “ Oh, Mbak Yanti …”
Aku tidak habis mengerti, kenapa di setiap saat beliau marah-marah, cara duduknya atau cara berpakaiannya di rumah seenaknya sendiri. Kalau tiduran di sofa, pahanya dinaikkan di meja tamu, dibiarkan tersingkap lebar. Aku berjalan menunduk saja saat menuju kamarku. Aku tahu Mbak Yanti mengamati langkah-langkahku sampai aku masuk kamar. Suasana diam yang mencengkam
Siang itu seperti biasanya sesudah mengangkat semua jemuran, beliau tidur siang. Kamarnya tidak ditutup, sehingga hampir seisi tempat tidur itu terlihat jelas dari luar kamar. Meskipun tertutup kelambu, aku tahu beliau tidak mengenakan pakaian apa pun. Cuaca sekarang memang panas. Kelambu hanya untuk menghindari nyamuk saja. Dulu Mas Pras belum punya kipas angin. Terlalu mewah untuk kehidupan waktu itu. Dengan cara demikian mungkin beliau merasa nyaman. Sambil makan siang berkali-kali aku mencuri pandang kea rah kamar. Nasi dengan sup yang begitu banyak kuah terasa susah ditelan . Konsentrasi makanku terpecah, selera makan jadi hambar. Aku terlalu dini untuk mengalami pengalaman sex orang dewasa. Sehingga aku ketagihan untuk terus merasakan lagi. Aku berharap Mbak Yanti membuang guling yang dipeluknya, biar kulihat bukit kembarnya yang putih dan kemaluannya yang merah jambu dan basah itu. Seperti tahu yang aku inginkan, Mbak Yanti sekarang melepaskan gulingnya dan menjepitnya dengan kedua pahanya. Sehingga terlihat jelas apa saja yang tadi ingin kulihat. Susunya berdesakan terhimpit kedua tangannya. Pahanya terbuka karena terganjal guling dan mataku tak lepas memandang hutan lebat yang kurindukan itu. Lama sekali sendok terhenti di depan mulut tak segera kumasukkan. Aku menelan ludah. Hilang nafsu makan. Rasanya seperti ada yang menarikku untuk mendekat ke pintu kamar yang terbuka lebar itu. Agak menyamping aku melihat ke dalam, menghindari pandangan Mbak Yanti kalau tiba-tiba beliau terbangun. Aku berjingkat mendekati dinding sebelah kanan pintu. Pemandangan indah semakin jelas. Seandainya saja, kelambu itu tak ada, pasti kemulusan kulit nya akan semakin nyata. Kuberanikan diri melongokkan sedikit kepalaku melihat ke dalam. Mbak Yanti mendengkur halus. Enak sekali tidurnya. Ah, wajah yang sangat cantik. Alisnya yang hitam tebal jadi semakin indah jika matanya terbuka. Kakak iparku ini memang mirip sekali dengan Cici Faramida. Saat tertawa, barisan giginya yang rapi dibalik bibirnya yang tipis menambah kecantikannya. Aku tak tau sebabnya, kenapa tubuhku menggigil. Gigiku gemeletuk seperti kedinginan. Degup jantungku semakin kencang . Mukaku terasa panas. Ada dorongan yang sangat kuat tak tertahankan untuk terus mendekati tempat wanita cantik itu pulas tertidur. Napasku memburu. Batangku sudah menegang sejak masih di meja makan tadi, kini semakin mengeras saja. Ketakutanku akan sikap galaknya dikalahkan dengan berkobarnya nafsu remajaku. Pelan-pelan kutarik kelambu sialan yang menghalangi pandanganku. Srrrrrttt! Pelan dan halus kutarik. Lagi, srrrrtttt! Nah, sekarang lebih jelas. Oooohhh…. Putihnya……tubuhnya yang mulus itu indah sekali. Tak terasa mulutku berbisik lirih, “Ohhh Mbak Yanti …….”
Aku kaget sendiri mendengar suaraku itu. Lebih terkejut lagi saat kudengar suara Mbak Yanti, seperti orang mengigau, “Kuuuun, sini!” Aliran darahku seperti berhenti. Aku jadi takut sekali. Tapi aku juga penasaran, jangan-jangan aku salah dengar. Mau keluar dari kamar sudah terlambat. Aku hanya berhenti terpaku dengan kaki menggigil. Takut sekali. Benarkah dia memanggil aku tadi?
‘Sini……….jangan berdiri saja.” Matanya masih terpejam, tapi jelas kulihat mulutnya bergerak.
“Kamu sudah pengin……….Kun…….” Mbak Yanti memiringkan tubuhnya membelakangiku. Dari nadanya sepertinya dia tidak marah. Berkurang sedikit ketakutanku. Tapi aku tetap diam di samping tempat tidurnya.
“Kuuuunnnn……..” sekarang suaranya lebih keras, tapi posisinya masih memunggungiku. Kuperhatikan bongkahan pantatnya yang bulat. Putih mulus. Agak ke bawah kulihat warna hitam bersembunyi di balik nya. “Ayoooo Kuuun……tunggu apa lagi.” Kini aku yakin dia memanggilku.
“Ya, Mbak…….…..” senang sekali aku disapa kembali. Aku merasa bahagia dan damai. Kuberanikan diri mendekat dan duduk di pinggiran kasurnya. Mbak Yanti masih diam. Tanganku sudah gemetaran ingin menyentuh pantatnya. Kusentuh pelan dan kurasakan hangaaaat sekali kulitnya. Kuelus pahanya sambil kutunggu reaksinya. Masih tetap diam. Tapi tidak ada penolakan. Kuelus pahanya yang putih mulus itu dan kurasakan bulu-bulu lembut halusnya. Kehangatan kulitnya sangat terasa mempengaruhi diriku. Aku jadi gerah sekali dan ingin membuka baju. Kulempar keluar saja bajuku dan jariku kembali beraksi. Kini kuberanikan diri menuju sudut htam di arah bawah pantatnya. Aaahhh…… kenapa basah sekali? Ujung jariku masuk pelan-pelan ke lubang yang hangat dan licin itu. Makin ke dalam semakin panas. Kudekatkan mukaku untuk melihat lebih jelas bagian yang paling menarik itu. Inilah yang selalu terbayang dalam kesendirianku. Kini terlihat nyata dalam jarak sangat dekat. Bau yang khas dari bagian ini merangsang nafsuku semakin berkobar. Timbul keberanian untuk menarik tubuh molek yang sedari tadi diam dan pasif itu. Kutarik pahanya, ke arahku sehingga tubuh molek itu kini terlentang, Lubang kenikmatan itu merah merekah dengan daging merah jambu yang mungil menonjol di atasnya. Kusentuh lembut daging aneh itu dengan lembut. Dia menggeliat. Kusentuh kagi, menggeliat lagi. Kulihat mukanya mendongak disertai desisan halus “ Sssshhhhh….”
Ketika itu aku belum punya pikiran untuk menjilat benda itu. Belum pernah kulihat film BF atau gambar porno. Aku terlalu lugu saat itu. Jadi melihat tempik wanita dewasa, merupakan sesuatu yang baru, sangat mengasyikkan. Aku “bermain-main” dengan klitoris nya yang semakin membesar itu.
Begitu dekatnya mukaku ke lubang itu sehingga napasku yang panas terasa oleh Mbak Yanti Tiba-tiba tangan Mbak Yanti menekan kepalaku. Hasilnya mulutku dan bibirku bersentuhan dengan “bibir”nya. “Kuuuunnnn………..pakai lidahmu saja……oohhhh”
Kujilat memek Mbak Yanti. Sama sekali aku lupa bahwa lubang itu biasanya untuk kencing. Rasanya asin, tapi membikin ketagihan. Semakin dalam lidahku menjilat, geliat tubuhnya semakin menghebat. Aku jadi bersemangat.
“Kuunnn…. Itilku……itilku…..jilat terus…..” kujilat daging merah itu dengan rakus. Seprei jadi kusut carut marut karena diacak-acak oleh gliatan tubuh nya yang semakin liar. sampai tiba-tiba badan Mbak Yanti menegang, pantatnya diangkat dan….. cairan hangat menyemprot dari lubang itu. Seperti susu cair yang hangat. Hidung dan mulutku basah. “Aaaaahhhh……..Kuuunn………” suara itu begitu merdu terdengar di telingaku.
Kini Mbak Yanti duduk matanya sayu memandangku. Aku yang biasanya takut bertatapan mata, kini kutatap juga matanya. Kukagumi matanya yang lebar dengan bulu mata yang melengkung indah. Tak ada kesan galak sama sekali. Mata indah itu, mata Mbak Yanti yang sbekumnya menakutkan. Aku merasa diajak berdamai. Aku bahagia sekali.
“Kenapa kamu panggil namaku, Kun?” dia bertanya lembut. “Kamu kangen….ya Kun?”
“Maafkan aku ya Mbak….aku sering buat Mbak marah…” wajahku ditariknya mendekat. Aku dicium.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Bibir Mbak Yanti mengulum bibirku. Lidahnya terjulur menerobos bibirku. Kusedot dan kurasakan basahnya mulutnya. Aku berciuman dengan cara yang belum kukenal. Anehnya aku merasa bahagiaaaa… sekali. Tanpa kupikirkan sebelumnya, tanganku sudah meremas bukit-bukit empuk yang menempel hangat di dadaku. Kucari ujungnya yang mulai mengeras itu. Kuremas lembut . Setelah bibir kami lepas, bibirku mendapat sasaran baru. Ku sedot putting itu seperti bayi netek. Tangan Mbak Yanti membelai rambutku. Matanya tak lepas dari susunya yang sedang kuhisap itu. Bila susu kiri aku hisap, maka yang kanan kuremas-remas. “Terusss….oohhh…”
Sambil menikmati sedotanku, tangan mbak Yanti melepaskan celanaku dan memegang batangku.
“Keras sekali…Kun…gede banget kun.” Dia berbisik mesra.” Iiiiih.. panjang banget.”
Kulihat ke bawah, jari-jarinya yang putih itu mengelus-elus batangku yang hitam. Ujung “helm” itu disentuh-sentuh lembut membuat aku belingsatan.
“Aduuuuu ….Mbak…..aku nggak kuat” gelombang dahsyat bergulung-gulung datang. Seperti tak mendengar rintihanku, gerakan tangannya malah semakin cepat. Saat pertahananku hampiir jebol, dia berhenti. Ada rasa kecewa tertahan. Kenapa berhenti. Kulihat Mbak Yanti mengamati batangku dengan gemas. “Ditempelkannya ke wajahnya yang ayu dan putih. “O, seperti ini, hmmmmahhh.
Kamu memang nakal, Huuuhh…..” dipukul-pukulkannya kemaluanku ke hidungnya, ke pipinya. “Ooohhh besar sekali.!” Aku sendiri heran, kenapa tongkolku bisa sebesar dan sepanjang itu. Wajahnya memerah dikuasai nafsu birahi yang tinggi. Tak kukira sebelumnya, beliau mau menjilati “kepala” helm yg kini memerah itu. Urat-urat di sepanjang batangku menjadi bertonjolan dan berkedut-jedut. Mata beliau semakin liar dan…… hap….dimasukkannya seluruh batang itu ke mulut beliau yang terlalu indah buat tongkolku yg hitam itu. Dikulum keluar masuk sampai batangku basah. Air liur bening membasahi “helm” ku. Beliau mendorong lembut tubuhku hingga aku terjerembab ke kasur.Mataku tak lepas memandang kagum dan heran dari aktifitas mulut wanita cantik ini. Tak terlukiskan nikmatnya…… Puas “makan” lontong hitamku, kini beliau jongkok dan memegang batangku diarahkan ke lubang kenikmatan yang sudah amat basah itu. Cairan putih memenuhi bibir tempiknya yang putih itu. Begitu gagah batangan ku memasuki lubang sugawi. Tangan beliau mengarahkan dan menggosok-gosokkan “helm” itu ke “kacang” ajaib disertai desisan kenikmatan…Ssssshhhh……mata beliau konsentrasi penuh ke sana dan……. blessss …sleep……….aaahhhh…….hampir bersamaan aku dan beliau mengerang, meraskan “penderitaan” yang sama. Badanku tampak kecil dibandingkan pantatnya yang super lebar. Bibir memeknya merekah lebar diterjang benda panjang hitamku. Mbak Yanti aktif menarik maju mundur semakin lama semakin cepat.plokk….plokkk…plokkkk,,,….achhhh Kadang-kadang beliau mendongak menahan rasa nikmat yang melanda syaraf-syarafnya. Kadang diputar-putar pantatnya, menimbulkan denyutan-denyutan yang luar biasa nikmat. Oh…Mbak……terus Mbak……enak sekalii….ooohhh……mba yanti sayaanngggg…aachh……
“Enak….Kun…….adddduuuh……Kun……punyamu kok bisa gede begini….memekku gak muat kunnn……aacchhh nikkmmaaattt…sayyaaaaanngggg……..ssshhhh……sssss……” terus menerus kata-katanya tak berhenti…..seperti bicara tanpa kesadaran…..
Gerakannya semakin liar dan semakin cepat. “Aahhhh…..oohhh…..uuuuu……” beliau menangis sambil menambah kecepatan gerakannya. tongkolku jadi sakit karena terlau tegang dan panas. Tiba-tiba semua gerakannya berhenti dan……serrrrr…ccrraaattt,….ccrraaaattt,,,,,croootttt. Cairan hangat membanjiri kemaluan dan perutku……Beliau melepas batangku dan terguling ke sampingku. “Aku….le….mes…..ba….nget….Kun…makasih sayanggg kamu udah muasin mbaaa,,,,,,kontol kamu nikmattt sekali sayaaanggggg.”
Meskipun kecewa karena aku belum puas, melihat wajahnya yg kuyu dan lemas, aku iba.
“Kesel…Mbak……” kuelus wajahnya dengan penuh perasaan. Saat itu aku merasa sayaaaaaang sekali pada wanita yang galak itu. Kucium pipinya, dan…..kuberanikan mencium bibirnya. Kami berciuman mesra sekali. Direngkuhnya badanku, kini aku rebah di atas badannya yang licin bermandi peluh. Cukup lama kami berciuman sampai tangan beliau mencari-cari batangku dan diarahkan ke lubang itu lagi. “Masukkan…..saja, Kun…..aku mau lagi….memekku masih gatal sayang pengen di masukuin punyamu…………..”
BERSAMBUNG.
