Minggu, 09 Maret 2025

Reuni yang mengasyikkan


 



 Sebelumnya kuperkenalkan, namaku reny, seorang istri dari pengusaha ternama,. Suamiku adalah seorang yang sangat sibuk. Hampir setiap hari waktunya dirumah hanya sebentar. Aku lebih sering menghabiskan waktuku bersama ibunya yang kebetulan tinggal bersama kami.

Usiaku kini 40 tahun, aku telah menikah selama 15 tahun dan belum memiliki seorang anak. Banyak orang mengatakan bodiku cukup seksi. Tinggiku 160 cm, dengan ukuran BH 34B. Orang selalu memuji pantatku yang bahenol dan pinggangku yang ramping.

Ini adalah kisah cintaku bersama teman lama sekaligus idolaku dimasa lalu. Namanya Bowo, saat SMA aku memiliki perasaan khusus kepadanya. Sejak lama suamiku tau tentang hal itu. Kami sering berdebat karenanya. Namun akhir – akhir ini, terutama setelah menikah, kami sudah tidak pernah berdebat untuk hal – hal semacam itu lagi.

Saat itu tiba – tiba aku dapat undangan reuni SMA. Aku mengajak suamiku untuk pergi kesana. Namun karena sekolah SMAku yang cukup jauh dari tempat kami tinggal, terpaksa aku pergi sendirian karena suamiku menolak untuk ikut. Suamiku beralasan masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan.

Aku pergi kesana bersama teman SMAku. Namanya Anik, aku bersamanya seharian, sampai akhirnya kami berpisah karena Anik harus mengunjungi ibunya. Waktu itu sebetulnya aku ingin menemani Anik berkunjung ketempat ibunya, namun sepertinya aku gelisah memikirkan rumah. Maklum ibu sudah tua dan suamiku sering pulang larut.

Akhirnya aku pun pulang sendirian. Waktu itu aku tidak memperkirakan kepulanganku, kupikir Anik tidak ada agenda berkunjung kerumah ibunya. Aku pun pulang sendirian berjalan untuk ke halte bus. Ditengah jalan ada mobil yang menghampiriku. Ketika kaca mobil dibuka aku terkejut, ternyata teman dekat yang kusebut sebagai idolaku, muncul dibalik kaca. Bowo begitu sapaan akrabnya menawariku untuk pulang ke tempat asalku. Awalnya aku agak canggung, tetapi setelah melihat Bowo bersama seorang perempuan, aku menjadi lega.

“ayo ikut aku saja” ujar Bowo. Aku pun tidak menolak ajakannya.

Di dalam mobil, kami ngobrol panjang lebar. Bowo juga memperkenalkan wanita itu yang ternyata adalah istrinya. Ternyata Bowo tinggal satu kota dengan ku. Di tengah perjalanan waktu itu sudah sangat larut. Kami pun memutuskan untuk mampir di sebuah rumah pemondokan. Disana kami hanya memesan satu kamar saja karena ternyata seluruh kamar telah terisi.

Malam semakin larut, saat itu pukul 02.10 aku belum bisa tidur. Aku merasa sangat gerah, lalu aku pergi ke kamar mandi untuk mencopot BHku agar lebih nyaman dan bisa tidur pulas. Setelah kucopot BH aku pun langsung kembali ke tempat tidur. Saat itu kulihat Bowo dan istrinya masih kelonan.

Beberapa saat kemudian tampaknya aku belum bisa tertidur. Aku yang saat itu hanya mengenakan hotpants dan  kaos lengan pendek tanpa BH akhirnya memutuskan untuk sekedar melihat TV.

Bentuk penginapan terdiri dari kamar dan ruang TV. Saat itu aku tidur didepan dan Bowo bersama istrinya didalam. Aku menyingkirkan meja dan duduk dilantai karpet karena cukup gerah. Saat itu aku menghidupkan TV. Pada saat pukul 03.30 WIB aku melihat Bowo tampaknya bangun untuk buang air kecil di toilet. Saat hendak kembali tidur tampaknya dia melihat aku yang sedang menonton TV sendirian. Dia pun menghampiriku. 

"La.. kok belum tidur? Nggak bisa tidur ya?” tanya Bowo
“Hu-um rif, gerah dari tadi” jawabku agak canggung. Maklum saat itu selimut kubuang jauh dan tentu saja aku tidak memakai BH.
Bowo pun mendekat dan duduk disamping ku sambil berkata “tak temenin ya, aku juga kebetulan kebangun”.
“hu-um” jawabku.

Saat itu suasana sangat sepi sekali. Bowo sesekali mengajakku berbincang dan becanda. Bowo adalah orang yang humoris, aku pikir kami tidak akan kehabisan topik perbincangan. Saat itu tidak terasa sudah pukul 04.00 WIB. Aku jadi teringat suamiku yang selalu berkata, kalau laki – laki itu pada saat jam pagi libidonya meningkat, “burungnya” bakal berdiri terus. Mungkin salah satunya dari dorongan nafsuku aku jadi berpikir seperti itu dan teringat perkataan suamiku aku jadi penasaran “benarkah semua pria sperti itu” pikirku dalam hati.

Dengan rasa penasaran aku sedikit melirik ke celana boxer Bowo. Kulihat tidak ada tanda – tanda dia sedang “berdiri”. Namun aku agak heran dengan benda yang mirip pipa di paha Bowo. Kupikir tak mungkin itu burung. Bentuknya seperti pipa dan menjuntai hingga setengah paha. Kupikir mungkin itu sesuatu yang dikantongi Bowo.
Sempat beberapa kali melirik, aku semakin penasaran dengan benda itu. Aku antara yakin dan tidak bahwa itu sebetulnya burung Bowo. Lalu muncul ide nakal untuk memastikan benda apa itu.

“Rif, kita ngobrol aja ya, Tvnya dimatiin” tanyaku.
“Iya matiin aja ngak apa–apa kok, ini juga udah pagi” jawab Bowo.

Aku pun bergerak menuju TV dan mematikanya. Kupikir Bowo juga melihat bokongku yang bahenol saat mematikan TV yang berada didepannya. Ketika berbalik, aku berpura – pura menjatuhkan gelas yang tadi kubawa. Aku pun mengambilnya sambil menunduk dan memperlihatkan belahan dadaku kepadanya. Meskipun hanya sekilas, kupikir itu cukup bisa merangsang burungnya untuk bergerak.

 


Saat aku kembali duduk, kulihat benda itu masih saja menjuntai seperti semula. Meski semakin penasaran aku tidak bisa berbuat banyak untuk mengetahui benda apa itu. Aku ngobrol semakin seru dengan Bowo, dan kurasa efek dari jarangnya aku dibelai suamiku membuat libidoku saat itu malah tinggi. Nafsuku sedikit liar dan putingku pun mengacung indah dan tercetak di bajuku.

Kuhadapkan tubuhku kearah Bowo untuk melihat reaksinya. Aku dan Bowo semakin asik bercanda sampai kulihat saat itu pukul 04.45. Bowo beberapa kali melihat kearah dadaku meski hanya sekilas. Akupun beberapa kali memastikan benda itu dapat bergerak.

Setelah selang beberapa menit, akhirnya aku melihat benda itu bergerak sedikit demi sedikit. Benda itu tidak membesar hanya beberapa kali bergetar, aku malah tidak yakin dengan firasatku, lalu sampai akhirnya kami terdiam. Bowo menatapku, dan akupun menatapnya.

Entah setan apa yang terlintas dibenaknya, tiba – tiba dia meraba tangan kiriku. Lalu aku membalasnya dengan meraba paha kanannya yang berisi pipa itu. Saat kusentuh Bowo terlihat agak kaget. Aku pun terkejut saat memegang ‘pipa’nya. ‘pipa’ itu kuelus dan sedikit kuremas. Saat kuremas aku semakin yakin kalau itu kemaluan Bowo. Hendak memastikannya pun, akhirnya aku bertanya.

“Ini apa rif, kok bentuknya aneh?” tanyaku dengan nada pelan.
“Itu, burungku la, kok gitu aja nggak tau, kan kamu sudah bersuami” jawab Bowo.
“Eh, maaf !” kataku pura – pura terkejut dan menjauhkan tanganku dari pahanya.
“Hehehe, nggak apa–apa kok la, terusin aja nggak usah aneh gitu” jawab si Bowo lirih sambil tersenyum manis kearahku.

Mendengar kata – kata itu sebenarnya aku ingin gengsi sedikit, tapi ternyata rasa penasaranku mengalahkan gengsi yang ada dalam diriku. Lalu kupegang kemaluan Bowo perlahan.

“Maaf rif, aku tadi nggak tau beneran” kataku
“Udahlah, terusin aja dulu pumpung masih subuh”

Sambil mengelus–elus dan meremas–remas burungnya aku terus melihat ke wajah Bowo. Diwajahnya terpancar bahwa Bowo merasa keenakan dengan remasanku, aku pun menikmati sensasi ini. “Punya Bowo panjang banget, kalau dimasukin rasanya gimana ya?” batinku. Penasaran aku pun langsung bertanya,

“Ini burungmu kok gede banget rif, berapa centi”
“25–an la” jawab Bowo.

Batin ku “wow, suamiku saja burungnya 15cm, yang ini hampir 2x lebih gede dan panjang”. Mendengar hal itu entah kenapa aku jadi tambah penasaran.

“Dikeluarin boleh?, aku pengen liat..” pintaku dengan nada manja.
“Disingkap aja celananya la”

Lalu akupun menyingkap celana Bowo hingga ke selangkangan, dan menakjubkan aku melihat burung Bowo yang besar, keras dan menjuntai sebegitu besar. Baru kali ini aku melihat kontol segagah itu.

Begitu burung itu menampakkan wujudnya aku pun langsung meremas–remas kembali. Dalam hatiku, aku ingin mengocok kontol ini, sepertinya lebih enak ngocokin kontol yang ukuran panjangnya luar biasa. Gayung bersambut, Bowo sepertinya mengerti apa yang kurasakan, dia mempersilahkanku mengocok kontolnya. Lalu aku pun mengocoknya dengan perlahan dan sedikit demi sedikit semakin cepat. Kulihat Bowo beberapa kali menunjukan ekspresi keenakan.

Tidak tahan melihat Bowo, aku pun langsung mendekatkan kepalaku ke burungnya, tidak berapa lama aku langsung memasukan burung Bowo yang gagah itu ke bibir mungilku. Aku membasahinya dengan ludahku, kukulum–kulum  burungnya dengan lembut. Itu kali pertamanya aku mengulum kontol seseorang tanpa diminta, bahkan pada suamiku pun aku tidak seperti ini.  Kini batang kemaluan Bowo sudah basah, berlumuran dengan air liurku. Tidak berhenti sampai disitu, aku juga menghisap buah zakar Bowo. Saat kuhisap, dia terlihat sedikit bergerak–gerak. Tampaknya dia sedang keenakan. Mengetahui Bowo keenakan, aku pun semakin bersemangat, sambil kujilat–jilat buah zakarnya, tanganku pun mengocok lembut kontolnya yang panjang dan basah itu. Bowo semakin liar, dia sedikit menjambakku.

Saat itu sekitar pukul 05.00, aku pun teringat Istri Bowo yang sedang tidur dikamar sebelah. Aku seketika berhenti dan melepaskan permainanku itu. Bowo terlihat terkejut melihatku.

Bowo pun langsung bertanya, “ada apa la?”.
“Aku lupa, Istrimu sedang tidur, seharusnya kita tidak melakukan sejauh ini” kataku

Seketika Bowo menarik tanganku, dia mencium bibirku. Aku pun terdiam, dan kini giliran Bowo yang beraksi. Dia menciumi leherku dengan lembut. Bowo menjilat–jilatnya hingga ke bagian paling sensitifku yaitu telinga. Bowo berbisik “sudahlah, Istriku itu kebo, kalau tidur pasti bangunnya siang, lagi pula kalau dia bergerak kita pasti dengar,” katanya menenangkanku.

Aku tidak sempat berpikir kala itu, Bowo langsung menggigit susuku dari luar.

“Kamu nggak pake BH kan?” tanya Bowo.

Belum sempat menjawab pertanyaannya aku sudah diserbu oleh serangan sensual Bowo. Dia menurunkan kaosku dan menciumi buah dadaku. Aku tidak tahan lagi dengan aksinya. Bowo lalu menggendongku untuk duduk dipangkuannya. Saat aku duduk, aku merasakan batang kemaluanya menyentuh kemaluan dan pantatku.

Bowo melahap payudaraku, diemutnya kedua putingku secara bergantian. “owwhh, rif..” desahku keenakan. Saat Bowo sedang menyedot pentilku, kubawa kedua tangannya yang tadinya meremas buah dadaku ke bagian bokong untuk merasakan bokong semokku.

Bowo terlihat antusias meremasi bokongku yang besar dan kenyal. Dia meremas–remasnya sambil menjilati payudaraku. Kulihat Bowo semakin liar. Lalu tanpa basa basi kubuka bajuku untuk mempermudah aksi Bowo.
Kurasakan burung Bowo yang tergencet vaginaku bergerak–gerak. Sangat menggairahkan menindih benda besar, berurat, keras dan hangat ini. Lalu tanganku pun menghampiri kontolnya yang sempat tergencet. Dan aku pun meremas–remas kontol besar itu. Meremas–remas kontolnya membuatku sangat berhasrat untuk merasakannya masuk kedalam liang vaginaku.

Beberapa menit kami melakukan itu, aku pun berganti posisi. Aku menyuruh Bowo membuka celananya. Bowo pun menurut, saat dia membukanya kemaluannya yang besar itu langsung mengacung dengan tegak kearahku. Aku baru sadar kalau dia tidak memakai celana dalam. Dia terduduk di sofa, aku langsung melahap kemaluannya. Kukulum–kulum dan kukocok–kocok kemaluannya. Dia pun beberapa kali meremas–remas tetekku. Kami melakukan aksi itu agak lama, meski hanya mengulumnya aku cukup antusias.

Tapi lama–lama aku bosan juga. Aku menunggu Bowo memintaku untuk memasukkan burungnya ke vaginaku. Beberapa waktu menunggu membuatku tidak sabar. Vaginaku sudah basah dan Bowo belum juga memesan lubang ini.

“Mau dimasukin nggak?” tanyaku sambil mengulum.
“Dimasukin apa?” tanya Bowo, belagak bodo.
“Ya dimasuki kesini?” tanyaku sambil menunjuk ke arah vaginaku.
“Kemana la” jawabnya.

Ternyata Bowo ingin memancingku. Aku pun berhenti menguluminya, aku langsung mencopot celana dan celana dalamku didepannya. Aku memperlihatkan bokongku yang indah saat mencopotnya. Setelah itu aku menaiki Bowo yang mengenakan kaos hitam tanpa celana. Lalu aku menduduki kemaluannya, kugesek–gesekkan vaginaku di kontolnya. Bowo berkali–kali tersenyum kearahku.

“Masukin yuk rif” tanyaku.
“Masukin gimana sayang?” jawabnya.

Kembali dia membuatku penasaran. Saat kugesek–gesekan, bukannya Bowo yang penasaran malah aku jadi terangsang hebat. Vaginaku semakin banjir, dan Bowo masih saja tersenyum kearahku sambil tanganya menjahili susuku.

“Rif, sudah to, ayo dimasukin!” pintaku sedikit memanja.
“Yang mesra dong sayang” katanya memintaku untuk berbuat nekat.

Aku sudah tidak tau lagi harus berbuat bagaimana, aku pun dengan vulgar memintanya untuk memasukan burungnya ke memekku.

“Bowo sayang, masukkin kontolmu yang gede dan panjang itu ke vaginaku yuk, aku pengen kentu sama kamu nih, ayuk ganteng...” pintaku dengan nada manja.
“Iya sayang, sayangku dibawah yuk”.

Lalu kami pun berganti posisi, kini aku terlentang disofa dan dia berdiri tepat didepanku sambil mengarahkan kontolnya yang panjang ke Vagina mungilku. Perlahan dia menggesek–gesekkan kontolnya ke vaginaku dan membuatku semakin melayang. Bowo beberapa kali mencoba memasukkan kontolnya ke vaginaku namun tidak berhasil. Vaginaku beberapa kali menolaknya.

“Kontolku nggak cukup ya sayang, sakit ya? Coba lagi yuk” kata Bowo
“Iya sayang, ayo cepetan masukin ya, udah nggak tahan nih” kataku sambil memegang tangan Bowo yang kekar.

Mendengar kataku itu Bowo langsung bersemangat, dia memaksa kontol besarnya itu masuk ke lubangku yang sempit.

“Aaawwhh....!!” teriakku tertahan.

Kontol itu telah masuk seperempat bagian ke vaginaku. Mataku pun terbelalak. Baru kali ini vaginaku dibobol kontol sebesar ini. sebelumnya kontol suamiku tidak sebegini besar. Setelah berhenti sejenak, Bowo memaju mundurkan pinggulnya perlahan. Meski agak sakit, aku merasakan sensasi enak luar biasa di dinding vaginaku. Bowo terus mengulangi gerakanya dan menggali lebih dalam. Aku mulai terbiasa dengan kontolnya. Kurasakan gesekan demi gesekan sangat nikmat sekali. Beberapa menit dengan aksinya, Bowo lalu mempercepat gerakkannya. Semakin cepat hingga tubuhku terguncang dan dinding vaginaku merasakan nikmatnya gesekan kontol yang luar biasa ini.

 

Bowo mempercepat gerakannya sambil meletakkan tubuhku diantara kedua tangannya. Aku merasa sangat nyaman bercumbu dengannya. Hingga selang beberapa menit aku merasakan ada rasa aneh dalam liang vaginaku. Kontol Bowo kurasakan berkali–kali menyentuh bagian vaginaku yang paling sensitif, hingga akhirnya “aawahhh.. Bowo, sayang..” aku pun melenguh, dan tertahan ketika jarinya menyumbat bibirku.
Bowo megeluarkan kontolnya. Kulihat cairan orgasmeku keluar banyak. Luar biasa, rasanya enak sekali, klimaks disaat aku dalam pelukan seorang lelaki yang gagah. Baru kali ini aku merasakan orgasme senikmat ini. Sambil menungguku pulih, Bowo mengeyot putingku untuk merangsang kembali gairahku. Selang beberapa menit, tubuhku pun pulih kembali.

“Bowo sayang.. lagi yuk, aku pengen ngerasain kontolmu lagi” pintaku memanja.

Tanpa berkata apapun Bowo menggendongku, aku kini berada dipangkuannya sambil berhadap–hadapan. Dengan setengah berdiri, aku arahkan vaginaku tepat diatas kontolnya. Bowo langsung merespon, dia memegang kemaluannya yang besar dan menyentuhkan ujungnya kevaginaku.
Meski lagi–lagi kesulitan, kami pun mencobanya. Kini aku yang memegang kontolnya yang besar itu, kuberi sedikit air liurku dan kukocok–kocok perlahan, lalu aku mengarahkannya ke vagina.

Bowo memegang pinggangku. Saat aku setengah berdiri dengan lututku dengan tiba–tiba dia memaksa badanku untuk turun dengan menarik pinggangku yang ramping. Dan bleessss... kontol itu dipaksa masuk ke vaginaku. Aku kembali terbelalak. “awhh, sayang kok kasar sih” tanyaku. Bowo menjawab “ kalau nggak gitu nggak masuk–masuk sayang”

Dalam posisi ini aku agak canggung, aku hampir tidak pernah pada posisi ini dengan suamiku. Kontol suamiku pendek jadi ketika kutindas saat dalam posisi ini kontolnya tidak bisa penetrasi dengan maksimal. Berbeda dengan kontol Bowo yang panjang dan mampu menjangkau seluruh ruas vaginaku. Kontol Bowo terasa sesak, memenuhi ruang–ruang dalam vaginaku.

Bowo membuatku bergerak naik turun. Aku pun mulai menikmati permainan ini dengan perlahan. Kini tanpa disuruh Bowo, aku sudah menaik turunkan badanku. Melihatku dapat mandiri, Bowo melepaskan tangannya dari pinggangku. Dia kini meremas–remas susuku.

Pada posisi ini aku merasakan kenikmatan yang luar biasa saat kontol kekar ini berada dalam vaginaku. Aku kembali naik turun diatas kontolnya untuk merasakan betapa nikmatnya gesekan kontol besar Bowo di memekku. Aku semakin melayang. Ditambah lagi saat aku naik turun Bowo melingkarkan tangannya di pinggangku dan menjilati susuku yang bergoyang–goyang naik turun. Bowo terlihat gemas dengan susuku, dia meremasinya dan mengenyot serta menyepong seluruh bagian payudaraku. Sampai–sampai tidak ada satu pun bagian payudaraku yang masih kering. Hampir seluruh payudaraku basah oleh liurnya.

Saking gemesnya, Bowo mengimbangi gerakan naik turunku dengan sodokan-sodokannya yang cukup cepat. Hingga aku melenguh dan badanku mengejang merasakan orgasme. Kini aku orgasme dipelukannya sambil menindihnya. Kontolnya masih tertancap divaginaku. Terasa sebagian cairan orgasmeku meleleh keluar. Aku sudah orgasme kedua kali. Selang beberapa menit kemudian, aku yang masih berada diatas Bowo merasakan kembali Bowo menggesekkan kontolnya di vaginaku.

“Kamu nggak capek sayang?” tanyaku

Bowo diam saja, dia hanya tersenyum dan melakukan kegiatannya kembali. Dia semakin liar menggenjotku. Aku hanya diam dan menggigit bibirku berkali–kali. Kulihat Bowo sangat beringas, dia mencumbu vaginaku dengan cepat.

Merasakan aksinya itu aku pun semakin keenakan. Seolah ingin membalas jasa Bowo, aku menawarkan goyangan untuknya. Aku kembali tegakkan badanku dan memegang dada Bowo. Kontolnya masih tertancap divaginaku. Kusuruh dia diam. Aku menggoyang–goyangkan pinggulku, melingkar. Bowo tampaknya semakin bergairah. Dia kini menciumi leherku dan meremas–remas pantatku.

Sampai beberapa saat seperti itu, kuganti goyanganku. Kini aku goyankan kekiri dan kekanan. Lalu maju mundur. Meski ingin memuaskan Bowo, aku malah merasa nikmat sendiri. Kontol Bowo bagiku sangat besar hingga menjejali vaginaku, saat aku bergerak dengan gerakan sekecil apapun akan membuatku merasakan nikmat.

Beberapa saat kemudian tanpa sadar aku kembali orgasme. Kini aku benar benar merasakan lelah. Saat itu sudah pukul 06.04, artinya sudah hampir sejam kontol Bowo mengenjot vaginaku. Namun meski aku telah 3 kali orgasme, Bowo masih belum menunjukan tanda–tanda akan keluar. Mengingat hal itu malah membuatku bergairah. Kini kami masih beristirahat untuk kumpulkan tenaga.

“Sayang, kamu masih kuat?”tanya Bowo
“Aku capek banget” jawabku sambil menatap kearahnya.
“Aku belum keluar nih, tanggung, masak dikocok sendiri” kata Bowo.

Baru kali ini aku melihatnya memelas kepadaku. Batinku “ini yang kutunggu dari tadi”. Terlihat saat itu kontol Bowo masih tegak berdiri dan berlumuran cairan. Kontol itu terlihat semakin menggairahkan. Aku merasa sudah gila, tidak pernah aku menggandrungi kontol hingga seperti ini. aku merasa seperti maniak seks.

“Dikeluarin yuk sayang” kataku sambil menunggingkan bokongku. Bowo terdiam, aku pun menegurnya.
“Ayo, aku kamu muncrat” kataku. Lalu Bowo berdiri diantara kedua lututku. Kini dia berada dibelakangku yang sedang nungging. Kini kami melakukan doggystyle.

Bowo mengarahkan kontolnya ke vaginaku, selang beberapa waktu dia memasukkan kontolnya. Dan.. luar biasa posisi ini membuatku kembali on fire. Kontol Bowo merangsek lebih dalam. Penetrasinya luar biasa. Kontol itu sungguh besar sekali sampai membuat vaginaku terasa overload. Dia terus–terusan menggenjotku. Dia menggesek–gesekan kemaluannya dengan kasar.

Sampai selang beberapa saat kami bercinta dan kami pun dikejutkan dengan munculnya Istri Bowo. Setengah sadar istrinya melihat kearah kami. Sejenak kami terdiam. Namun anehnya kami hanya terdiam, Bowo memegan erat tubuhku. Istrinya terlihat shock, dan terus menatap kami. Mita terlihat menahan tangis.

“Kamu keluar sebentar ya mita, beli sarapan sana, aku mau selesaiin dulu, tinggal dikit nih” kata Bowo.

Aku sedikit terkejut ketika Bowo berkata demikian. Mita pun keluar dan tidak terlihat tanda dia sedang marah, namun kulihat dia cukup sedih dan tertekan. Bowo kembali mengangkat bokongku, dia menggesekan kontolnya perlahan.

Dia meransangku kembali, dia menciumi punggungku dan menjilati punggungku hingga tengkuk, leher dan telinga. Dia membuatku merinding dan terangsang. Tidak sempat aku bertanya, dia sudah kembali menggenjotoku. Kembali kurasakan sensasi nikmatnya kontol Bowo. Aku hanya biasa melenguh, dan menjerit. Kini malah aku tidak takut lagi untuk merancau.

“Bowo, kontol kamu kok enak banggett.... ggee.. deee.. kerr.. ass, genjot terus sayanggg.. enak sayanggg.. bikin itilku enak sayangg..”
“Enak sayang.. trus apa lagi sayang” godanya lirih didekat telingaku sambil terus menggenjotku.

Meski kelelahan, aku tetap bernafsu untuk mengimbangi gerakan maju mundurnya. Kini Bowo diam, “ayo, kamu yang maju mundur” kata Bowo menyuruhku. Tampaknya dia tau aku sudah kembali bernafsu. Mendengar itu aku lansung memaju mundurkan pantatku. Bowo meremas–remas pantatku sambil menikmati gerakanku.

Tidak terlihat tanda–tanda Bowo akan muncrat. Itu membuatku semakin penasaran, aku mempercepat gerakanku. Bowo yang tadinya meremas bokongku kini tertarik dengan payudaraku yang terus bergoyang. Dia kini meremas payudaraku, dia meremasnya dengan gemas dan memerasnya dengan kasar. Aku sudah tidak terkontrol, Bowo pun semakin tidak terkontrol.

“Sayang... aa..kuuu suka kontol kaammm  ..uuuu, genjot terus..” rancauku.. selang beberapa saat aku mengejang dan akhirnya aku pun untuk kesekian kalinya orgasme.

Bowo tidak peduli dengan orgasmeku. Dia tetap menggenjotku, sampai beberapa menit aku pun bertanya, “sayang udah belum,” tanyaku yang sudah lunglai.

Bowo kini memangku tubuhku yang lunglai. Dia yang kini kududuki dan menghadap punggungku menaik turunkan tubuhku yang lemas. Beberapa saat seperti itu dia pun berkata “dikeluarin didalem boleh nggak” pintanya padakau.

Aku langsung menjawab, “jangan..!!”, seketika Bowo berhenti. Lalu Bowo mencabut kontolnya dari vaginaku. “kamu berdiri” perintahku. Di pun manut. Bowo berdiri dihadapanku, kuemut–emut buah zakarnya dan kukocok–kocok batang kontolnya yang terlihat sangat kekar dan hendak menyemburkan cairan cintanya. Selang beberapa saat aku jadi makin penasaran, aku merasa ingin sekali merasakan air mani Bowo. Jujur, baru kali ini aku merasa segila ini. Sebelumnya aku sangat jijik jika suamiku ingin memuntahkan spermanya kemulutku. Namun kini, melihat kontol Bowo aku jadi ingin mencicipi air maninya. Kusepong kontolnya hingga mentok di rongga mulutku. Lalu kutarik bibirku dari kontolnya hingga ujungnya saja yang kuemut. Lalu sambil kuemut kontolnya kukocok–kocok dengan lembut namun agak cepat.


Kukocok sambil kulihat ekspresi wajahnya dan akhirnya crrrrooooootttt.... crrrooooooottt.... crrroooooottttt..... kulepaskan kulumanku, dan beberapa semburan masih terjadi crroot.. crrooott.. ccerttt .. ceerrtt.... semburan kali ini mengarah kewajahku. Bowo maninya sangat banyak. Yang ada didalam bibirku sebagian kutelan. Meski begitu banyak yang meleleh.

Aku tidak lantas jijik, malah kujilat pucuk kontol Bowo untuk mengambil sisa–sisa air maninya. Setelah beberapa saat kami selesai melakukannya aku pun bergegas mandi dan beres–beres. Selesai beres–beres aku menemui Bowo untuk berbincang. Ketika itu Bowo ternyata sedang menenangkan Istrinya yang sedang menangis. Bowo berjalan kearahku, dia memberiku sejumlah uang untuk pulang kerumah. Aku menolaknya dan langsung bergegas pulang dan pamit kepada keduanya.

Kurasakan tatapan dingin istrinya saat aku pamit. Meski saat itu aku cuek, dalam hatiku aku merasa bersalah. Sepanjang perjalanan aku tidak dapat melupakan kejadian itu. Aku terus saja merasa bersalah kepada Istri Bowo. Namun disela–sela perasaan menyesalku, aku justru merasa penasaran ingin mengulangi adegan itu bersama dengan Bowo. Kurasa gairahku kepada Bowo jauh lebih besar ketimbang ketika aku bercinta dengan suamiku.