Sebelumnya kuperkenalkan, namaku reny, seorang
istri dari pengusaha ternama,. Suamiku adalah seorang yang sangat sibuk. Hampir
setiap hari waktunya dirumah hanya sebentar. Aku lebih sering menghabiskan
waktuku bersama ibunya yang kebetulan tinggal bersama kami.
Usiaku kini 40 tahun, aku telah menikah selama 15 tahun dan belum memiliki
seorang anak. Banyak orang mengatakan bodiku cukup seksi. Tinggiku 160 cm,
dengan ukuran BH 34B. Orang selalu memuji pantatku yang bahenol dan pinggangku
yang ramping.
Ini adalah kisah cintaku bersama teman lama sekaligus idolaku dimasa lalu.
Namanya Bowo, saat SMA aku memiliki perasaan khusus kepadanya. Sejak lama
suamiku tau tentang hal itu. Kami sering berdebat karenanya. Namun akhir –
akhir ini, terutama setelah menikah, kami sudah tidak pernah berdebat untuk hal
– hal semacam itu lagi.
Saat itu tiba – tiba aku dapat undangan reuni SMA. Aku mengajak suamiku untuk
pergi kesana. Namun karena sekolah SMAku yang cukup jauh dari tempat kami
tinggal, terpaksa aku pergi sendirian karena suamiku menolak untuk ikut.
Suamiku beralasan masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan.
Aku pergi kesana bersama teman SMAku. Namanya Anik, aku bersamanya seharian,
sampai akhirnya kami berpisah karena Anik harus mengunjungi ibunya. Waktu itu
sebetulnya aku ingin menemani Anik berkunjung ketempat ibunya, namun sepertinya
aku gelisah memikirkan rumah. Maklum ibu sudah tua dan suamiku sering pulang
larut.
Akhirnya aku pun pulang sendirian. Waktu itu aku tidak memperkirakan
kepulanganku, kupikir Anik tidak ada agenda berkunjung kerumah ibunya. Aku pun
pulang sendirian berjalan untuk ke halte bus. Ditengah jalan ada mobil yang
menghampiriku. Ketika kaca mobil dibuka aku terkejut, ternyata teman dekat yang
kusebut sebagai idolaku, muncul dibalik kaca. Bowo begitu sapaan akrabnya
menawariku untuk pulang ke tempat asalku. Awalnya aku agak canggung, tetapi
setelah melihat Bowo bersama seorang perempuan, aku menjadi lega.
“ayo ikut aku saja” ujar Bowo. Aku pun tidak menolak ajakannya.
Di dalam mobil, kami ngobrol panjang lebar. Bowo juga memperkenalkan wanita itu
yang ternyata adalah istrinya. Ternyata Bowo tinggal satu kota dengan ku. Di
tengah perjalanan waktu itu sudah sangat larut. Kami pun memutuskan untuk
mampir di sebuah rumah pemondokan. Disana kami hanya memesan satu kamar saja
karena ternyata seluruh kamar telah terisi.
Malam semakin larut, saat itu pukul 02.10 aku belum bisa tidur. Aku merasa
sangat gerah, lalu aku pergi ke kamar mandi untuk mencopot BHku agar lebih
nyaman dan bisa tidur pulas. Setelah kucopot BH aku pun langsung kembali ke
tempat tidur. Saat itu kulihat Bowo dan istrinya masih kelonan.
Beberapa saat kemudian tampaknya aku belum bisa tertidur. Aku yang saat itu
hanya mengenakan hotpants dan kaos lengan pendek tanpa BH akhirnya
memutuskan untuk sekedar melihat TV.
Bentuk penginapan terdiri dari kamar dan ruang TV. Saat itu aku tidur didepan
dan Bowo bersama istrinya didalam. Aku menyingkirkan meja dan duduk dilantai
karpet karena cukup gerah. Saat itu aku menghidupkan TV. Pada saat pukul 03.30
WIB aku melihat Bowo tampaknya bangun untuk buang air kecil di toilet. Saat
hendak kembali tidur tampaknya dia melihat aku yang sedang menonton TV
sendirian. Dia pun menghampiriku.
"La.. kok belum tidur? Nggak bisa tidur ya?” tanya Bowo
“Hu-um rif, gerah dari tadi” jawabku agak canggung. Maklum saat itu selimut
kubuang jauh dan tentu saja aku tidak memakai BH.
Bowo pun mendekat dan duduk disamping ku sambil berkata “tak temenin ya, aku
juga kebetulan kebangun”.
“hu-um” jawabku.
Saat itu suasana sangat sepi sekali. Bowo sesekali mengajakku berbincang dan
becanda. Bowo adalah orang yang humoris, aku pikir kami tidak akan kehabisan
topik perbincangan. Saat itu tidak terasa sudah pukul 04.00 WIB. Aku jadi teringat
suamiku yang selalu berkata, kalau laki – laki itu pada saat jam pagi libidonya
meningkat, “burungnya” bakal berdiri terus. Mungkin salah satunya dari dorongan
nafsuku aku jadi berpikir seperti itu dan teringat perkataan suamiku aku jadi
penasaran “benarkah semua pria sperti itu” pikirku dalam hati.
Dengan rasa penasaran aku sedikit melirik ke celana boxer Bowo. Kulihat tidak
ada tanda – tanda dia sedang “berdiri”. Namun aku agak heran dengan benda yang
mirip pipa di paha Bowo. Kupikir tak mungkin itu burung. Bentuknya seperti pipa
dan menjuntai hingga setengah paha. Kupikir mungkin itu sesuatu yang dikantongi
Bowo.
Sempat beberapa kali melirik, aku semakin penasaran dengan benda itu. Aku
antara yakin dan tidak bahwa itu sebetulnya burung Bowo. Lalu muncul ide nakal
untuk memastikan benda apa itu.
“Rif, kita ngobrol aja ya, Tvnya dimatiin” tanyaku.
“Iya matiin aja ngak apa–apa kok, ini juga udah pagi” jawab Bowo.
Aku pun bergerak menuju TV dan mematikanya. Kupikir Bowo juga melihat bokongku
yang bahenol saat mematikan TV yang berada didepannya. Ketika berbalik, aku
berpura – pura menjatuhkan gelas yang tadi kubawa. Aku pun mengambilnya sambil
menunduk dan memperlihatkan belahan dadaku kepadanya. Meskipun hanya sekilas,
kupikir itu cukup bisa merangsang burungnya untuk bergerak.
Saat aku kembali duduk, kulihat benda itu masih saja menjuntai seperti semula.
Meski semakin penasaran aku tidak bisa berbuat banyak untuk mengetahui benda
apa itu. Aku ngobrol semakin seru dengan Bowo, dan kurasa efek dari jarangnya
aku dibelai suamiku membuat libidoku saat itu malah tinggi. Nafsuku sedikit
liar dan putingku pun mengacung indah dan tercetak di bajuku.
Kuhadapkan tubuhku kearah Bowo untuk melihat reaksinya. Aku dan Bowo semakin
asik bercanda sampai kulihat saat itu pukul 04.45. Bowo beberapa kali melihat
kearah dadaku meski hanya sekilas. Akupun beberapa kali memastikan benda itu
dapat bergerak.
Setelah selang beberapa menit, akhirnya aku melihat benda itu bergerak sedikit
demi sedikit. Benda itu tidak membesar hanya beberapa kali bergetar, aku malah
tidak yakin dengan firasatku, lalu sampai akhirnya kami terdiam. Bowo
menatapku, dan akupun menatapnya.
Entah setan apa yang terlintas dibenaknya, tiba – tiba dia meraba tangan
kiriku. Lalu aku membalasnya dengan meraba paha kanannya yang berisi pipa itu.
Saat kusentuh Bowo terlihat agak kaget. Aku pun terkejut saat memegang
‘pipa’nya. ‘pipa’ itu kuelus dan sedikit kuremas. Saat kuremas aku semakin
yakin kalau itu kemaluan Bowo. Hendak memastikannya pun, akhirnya aku bertanya.
“Ini apa rif, kok bentuknya aneh?” tanyaku dengan nada pelan.
“Itu, burungku la, kok gitu aja nggak tau, kan kamu sudah bersuami” jawab Bowo.
“Eh, maaf !” kataku pura – pura terkejut dan menjauhkan tanganku dari pahanya.
“Hehehe, nggak apa–apa kok la, terusin aja nggak usah aneh gitu” jawab si Bowo
lirih sambil tersenyum manis kearahku.
Mendengar kata – kata itu sebenarnya aku ingin gengsi sedikit, tapi ternyata
rasa penasaranku mengalahkan gengsi yang ada dalam diriku. Lalu kupegang
kemaluan Bowo perlahan.
“Maaf rif, aku tadi nggak tau beneran” kataku
“Udahlah, terusin aja dulu pumpung masih subuh”
Sambil mengelus–elus dan meremas–remas burungnya aku terus melihat ke wajah Bowo.
Diwajahnya terpancar bahwa Bowo merasa keenakan dengan remasanku, aku pun
menikmati sensasi ini. “Punya Bowo panjang banget, kalau dimasukin rasanya
gimana ya?” batinku. Penasaran aku pun langsung bertanya,
“Ini burungmu kok gede banget rif, berapa centi”
“25–an la” jawab Bowo.
Batin ku “wow, suamiku saja burungnya 15cm, yang ini hampir 2x lebih gede dan
panjang”. Mendengar hal itu entah kenapa aku jadi tambah penasaran.
“Dikeluarin boleh?, aku pengen liat..” pintaku dengan nada manja.
“Disingkap aja celananya la”
Lalu akupun menyingkap celana Bowo hingga ke selangkangan, dan menakjubkan aku
melihat burung Bowo yang besar, keras dan menjuntai sebegitu besar. Baru kali
ini aku melihat kontol segagah itu.
Begitu burung itu menampakkan wujudnya aku pun langsung meremas–remas kembali.
Dalam hatiku, aku ingin mengocok kontol ini, sepertinya lebih enak ngocokin
kontol yang ukuran panjangnya luar biasa. Gayung bersambut, Bowo sepertinya
mengerti apa yang kurasakan, dia mempersilahkanku mengocok kontolnya. Lalu aku
pun mengocoknya dengan perlahan dan sedikit demi sedikit semakin cepat. Kulihat
Bowo beberapa kali menunjukan ekspresi keenakan.
Tidak tahan melihat Bowo, aku pun langsung mendekatkan kepalaku ke burungnya,
tidak berapa lama aku langsung memasukan burung Bowo yang gagah itu ke bibir
mungilku. Aku membasahinya dengan ludahku, kukulum–kulum burungnya dengan
lembut. Itu kali pertamanya aku mengulum kontol seseorang tanpa diminta, bahkan
pada suamiku pun aku tidak seperti ini. Kini batang kemaluan Bowo sudah
basah, berlumuran dengan air liurku. Tidak berhenti sampai disitu, aku juga
menghisap buah zakar Bowo. Saat kuhisap, dia terlihat sedikit bergerak–gerak.
Tampaknya dia sedang keenakan. Mengetahui Bowo keenakan, aku pun semakin
bersemangat, sambil kujilat–jilat buah zakarnya, tanganku pun mengocok lembut
kontolnya yang panjang dan basah itu. Bowo semakin liar, dia sedikit
menjambakku.
Saat itu sekitar pukul 05.00, aku pun teringat Istri Bowo yang sedang tidur
dikamar sebelah. Aku seketika berhenti dan melepaskan permainanku itu. Bowo
terlihat terkejut melihatku.
Bowo pun langsung bertanya, “ada apa la?”.
“Aku lupa, Istrimu sedang tidur, seharusnya kita tidak melakukan sejauh ini”
kataku
Seketika Bowo menarik tanganku, dia mencium bibirku. Aku pun terdiam, dan kini
giliran Bowo yang beraksi. Dia menciumi leherku dengan lembut. Bowo
menjilat–jilatnya hingga ke bagian paling sensitifku yaitu telinga. Bowo
berbisik “sudahlah, Istriku itu kebo, kalau tidur pasti bangunnya siang, lagi
pula kalau dia bergerak kita pasti dengar,” katanya menenangkanku.
Aku tidak sempat berpikir kala itu, Bowo langsung menggigit susuku dari luar.
“Kamu nggak pake BH kan?” tanya Bowo.
Belum sempat menjawab pertanyaannya aku sudah diserbu oleh serangan sensual Bowo.
Dia menurunkan kaosku dan menciumi buah dadaku. Aku tidak tahan lagi dengan
aksinya. Bowo lalu menggendongku untuk duduk dipangkuannya. Saat aku duduk, aku
merasakan batang kemaluanya menyentuh kemaluan dan pantatku.
Bowo melahap payudaraku, diemutnya kedua putingku secara bergantian. “owwhh,
rif..” desahku keenakan. Saat Bowo sedang menyedot pentilku, kubawa kedua
tangannya yang tadinya meremas buah dadaku ke bagian bokong untuk merasakan
bokong semokku.
Bowo terlihat antusias meremasi bokongku yang besar dan kenyal. Dia
meremas–remasnya sambil menjilati payudaraku. Kulihat Bowo semakin liar. Lalu
tanpa basa basi kubuka bajuku untuk mempermudah aksi Bowo.
Kurasakan burung Bowo yang tergencet vaginaku bergerak–gerak. Sangat
menggairahkan menindih benda besar, berurat, keras dan hangat ini. Lalu
tanganku pun menghampiri kontolnya yang sempat tergencet. Dan aku pun
meremas–remas kontol besar itu. Meremas–remas kontolnya membuatku sangat
berhasrat untuk merasakannya masuk kedalam liang vaginaku.
Beberapa menit kami melakukan itu, aku pun berganti posisi. Aku menyuruh Bowo
membuka celananya. Bowo pun menurut, saat dia membukanya kemaluannya yang besar
itu langsung mengacung dengan tegak kearahku. Aku baru sadar kalau dia tidak
memakai celana dalam. Dia terduduk di sofa, aku langsung melahap kemaluannya.
Kukulum–kulum dan kukocok–kocok kemaluannya. Dia pun beberapa kali
meremas–remas tetekku. Kami melakukan aksi itu agak lama, meski hanya
mengulumnya aku cukup antusias.
Tapi lama–lama aku bosan juga. Aku menunggu Bowo memintaku untuk memasukkan
burungnya ke vaginaku. Beberapa waktu menunggu membuatku tidak sabar. Vaginaku
sudah basah dan Bowo belum juga memesan lubang ini.
“Mau dimasukin nggak?” tanyaku sambil mengulum.
“Dimasukin apa?” tanya Bowo, belagak bodo.
“Ya dimasuki kesini?” tanyaku sambil menunjuk ke arah vaginaku.
“Kemana la” jawabnya.
Ternyata Bowo ingin memancingku. Aku pun berhenti menguluminya, aku langsung
mencopot celana dan celana dalamku didepannya. Aku memperlihatkan bokongku yang
indah saat mencopotnya. Setelah itu aku menaiki Bowo yang mengenakan kaos hitam
tanpa celana. Lalu aku menduduki kemaluannya, kugesek–gesekkan vaginaku di
kontolnya. Bowo berkali–kali tersenyum kearahku.
“Masukin yuk rif” tanyaku.
“Masukin gimana sayang?” jawabnya.
Kembali dia membuatku penasaran. Saat kugesek–gesekan, bukannya Bowo yang
penasaran malah aku jadi terangsang hebat. Vaginaku semakin banjir, dan Bowo
masih saja tersenyum kearahku sambil tanganya menjahili susuku.
“Rif, sudah to, ayo dimasukin!” pintaku sedikit memanja.
“Yang mesra dong sayang” katanya memintaku untuk berbuat nekat.
Aku sudah tidak tau lagi harus berbuat bagaimana, aku pun dengan vulgar
memintanya untuk memasukan burungnya ke memekku.
“Bowo sayang, masukkin kontolmu yang gede dan panjang itu ke vaginaku yuk, aku
pengen kentu sama kamu nih, ayuk ganteng...” pintaku dengan nada manja.
“Iya sayang, sayangku dibawah yuk”.
Lalu kami pun berganti posisi, kini aku terlentang disofa dan dia berdiri tepat
didepanku sambil mengarahkan kontolnya yang panjang ke Vagina mungilku.
Perlahan dia menggesek–gesekkan kontolnya ke vaginaku dan membuatku semakin
melayang. Bowo beberapa kali mencoba memasukkan kontolnya ke vaginaku namun
tidak berhasil. Vaginaku beberapa kali menolaknya.
“Kontolku nggak cukup ya sayang, sakit ya? Coba lagi yuk” kata Bowo
“Iya sayang, ayo cepetan masukin ya, udah nggak tahan nih” kataku sambil
memegang tangan Bowo yang kekar.
Mendengar kataku itu Bowo langsung bersemangat, dia memaksa kontol besarnya itu
masuk ke lubangku yang sempit.
“Aaawwhh....!!” teriakku tertahan.
Kontol itu telah masuk seperempat bagian ke vaginaku. Mataku pun terbelalak.
Baru kali ini vaginaku dibobol kontol sebesar ini. sebelumnya kontol suamiku
tidak sebegini besar. Setelah berhenti sejenak, Bowo memaju mundurkan
pinggulnya perlahan. Meski agak sakit, aku merasakan sensasi enak luar biasa di
dinding vaginaku. Bowo terus mengulangi gerakanya dan menggali lebih dalam. Aku
mulai terbiasa dengan kontolnya. Kurasakan gesekan demi gesekan sangat nikmat
sekali. Beberapa menit dengan aksinya, Bowo lalu mempercepat gerakkannya.
Semakin cepat hingga tubuhku terguncang dan dinding vaginaku merasakan
nikmatnya gesekan kontol yang luar biasa ini.
Bowo mempercepat gerakannya sambil meletakkan
tubuhku diantara kedua tangannya. Aku merasa sangat nyaman bercumbu dengannya.
Hingga selang beberapa menit aku merasakan ada rasa aneh dalam liang vaginaku.
Kontol Bowo kurasakan berkali–kali menyentuh bagian vaginaku yang paling
sensitif, hingga akhirnya “aawahhh.. Bowo, sayang..” aku pun melenguh, dan
tertahan ketika jarinya menyumbat bibirku.
Bowo megeluarkan kontolnya. Kulihat cairan orgasmeku keluar banyak. Luar biasa,
rasanya enak sekali, klimaks disaat aku dalam pelukan seorang lelaki yang
gagah. Baru kali ini aku merasakan orgasme senikmat ini. Sambil menungguku
pulih, Bowo mengeyot putingku untuk merangsang kembali gairahku. Selang
beberapa menit, tubuhku pun pulih kembali.
“Bowo sayang.. lagi yuk, aku pengen ngerasain kontolmu lagi” pintaku memanja.
Tanpa berkata apapun Bowo menggendongku, aku kini berada dipangkuannya sambil
berhadap–hadapan. Dengan setengah berdiri, aku arahkan vaginaku tepat diatas
kontolnya. Bowo langsung merespon, dia memegang kemaluannya yang besar dan
menyentuhkan ujungnya kevaginaku.
Meski lagi–lagi kesulitan, kami pun mencobanya. Kini aku yang memegang kontolnya
yang besar itu, kuberi sedikit air liurku dan kukocok–kocok perlahan, lalu aku
mengarahkannya ke vagina.
Bowo memegang pinggangku. Saat aku setengah berdiri dengan lututku dengan
tiba–tiba dia memaksa badanku untuk turun dengan menarik pinggangku yang
ramping. Dan bleessss... kontol itu dipaksa masuk ke vaginaku. Aku kembali
terbelalak. “awhh, sayang kok kasar sih” tanyaku. Bowo menjawab “ kalau nggak
gitu nggak masuk–masuk sayang”
Dalam posisi ini aku agak canggung, aku hampir tidak pernah pada posisi ini
dengan suamiku. Kontol suamiku pendek jadi ketika kutindas saat dalam posisi
ini kontolnya tidak bisa penetrasi dengan maksimal. Berbeda dengan kontol Bowo
yang panjang dan mampu menjangkau seluruh ruas vaginaku. Kontol Bowo terasa
sesak, memenuhi ruang–ruang dalam vaginaku.
Bowo membuatku bergerak naik turun. Aku pun mulai menikmati permainan ini
dengan perlahan. Kini tanpa disuruh Bowo, aku sudah menaik turunkan badanku.
Melihatku dapat mandiri, Bowo melepaskan tangannya dari pinggangku. Dia kini meremas–remas
susuku.
Pada posisi ini aku merasakan kenikmatan yang luar biasa saat kontol kekar ini
berada dalam vaginaku. Aku kembali naik turun diatas kontolnya untuk merasakan
betapa nikmatnya gesekan kontol besar Bowo di memekku. Aku semakin melayang.
Ditambah lagi saat aku naik turun Bowo melingkarkan tangannya di pinggangku dan
menjilati susuku yang bergoyang–goyang naik turun. Bowo terlihat gemas dengan
susuku, dia meremasinya dan mengenyot serta menyepong seluruh bagian
payudaraku. Sampai–sampai tidak ada satu pun bagian payudaraku yang masih
kering. Hampir seluruh payudaraku basah oleh liurnya.
Saking gemesnya, Bowo mengimbangi gerakan naik turunku dengan
sodokan-sodokannya yang cukup cepat. Hingga aku melenguh dan badanku mengejang
merasakan orgasme. Kini aku orgasme dipelukannya sambil menindihnya. Kontolnya
masih tertancap divaginaku. Terasa sebagian cairan orgasmeku meleleh keluar.
Aku sudah orgasme kedua kali. Selang beberapa menit kemudian, aku yang masih
berada diatas Bowo merasakan kembali Bowo menggesekkan kontolnya di vaginaku.
“Kamu nggak capek sayang?” tanyaku
Bowo diam saja, dia hanya tersenyum dan melakukan kegiatannya kembali. Dia
semakin liar menggenjotku. Aku hanya diam dan menggigit bibirku berkali–kali.
Kulihat Bowo sangat beringas, dia mencumbu vaginaku dengan cepat.
Merasakan aksinya itu aku pun semakin keenakan. Seolah ingin membalas jasa Bowo,
aku menawarkan goyangan untuknya. Aku kembali tegakkan badanku dan memegang
dada Bowo. Kontolnya masih tertancap divaginaku. Kusuruh dia diam. Aku
menggoyang–goyangkan pinggulku, melingkar. Bowo tampaknya semakin bergairah.
Dia kini menciumi leherku dan meremas–remas pantatku.
Sampai beberapa saat seperti itu, kuganti goyanganku. Kini aku goyankan kekiri
dan kekanan. Lalu maju mundur. Meski ingin memuaskan Bowo, aku malah merasa
nikmat sendiri. Kontol Bowo bagiku sangat besar hingga menjejali vaginaku, saat
aku bergerak dengan gerakan sekecil apapun akan membuatku merasakan nikmat.
Beberapa saat kemudian tanpa sadar aku kembali orgasme. Kini aku benar benar
merasakan lelah. Saat itu sudah pukul 06.04, artinya sudah hampir sejam kontol Bowo
mengenjot vaginaku. Namun meski aku telah 3 kali orgasme, Bowo masih belum
menunjukan tanda–tanda akan keluar. Mengingat hal itu malah membuatku bergairah.
Kini kami masih beristirahat untuk kumpulkan tenaga.
“Sayang, kamu masih kuat?”tanya Bowo
“Aku capek banget” jawabku sambil menatap kearahnya.
“Aku belum keluar nih, tanggung, masak dikocok sendiri” kata Bowo.
Baru kali ini aku melihatnya memelas kepadaku. Batinku “ini yang kutunggu dari
tadi”. Terlihat saat itu kontol Bowo masih tegak berdiri dan berlumuran cairan.
Kontol itu terlihat semakin menggairahkan. Aku merasa sudah gila, tidak pernah
aku menggandrungi kontol hingga seperti ini. aku merasa seperti maniak seks.
“Dikeluarin yuk sayang” kataku sambil menunggingkan bokongku. Bowo terdiam, aku
pun menegurnya.
“Ayo, aku kamu muncrat” kataku. Lalu Bowo berdiri diantara kedua lututku. Kini
dia berada dibelakangku yang sedang nungging. Kini kami melakukan doggystyle.
Bowo mengarahkan kontolnya ke vaginaku, selang beberapa waktu dia memasukkan
kontolnya. Dan.. luar biasa posisi ini membuatku kembali on fire. Kontol Bowo
merangsek lebih dalam. Penetrasinya luar biasa. Kontol itu sungguh besar sekali
sampai membuat vaginaku terasa overload. Dia terus–terusan menggenjotku. Dia
menggesek–gesekan kemaluannya dengan kasar.
Sampai selang beberapa saat kami bercinta dan kami pun dikejutkan dengan
munculnya Istri Bowo. Setengah sadar istrinya melihat kearah kami. Sejenak kami
terdiam. Namun anehnya kami hanya terdiam, Bowo memegan erat tubuhku. Istrinya
terlihat shock, dan terus menatap kami. Mita terlihat menahan tangis.
“Kamu keluar sebentar ya mita, beli sarapan sana, aku mau selesaiin dulu,
tinggal dikit nih” kata Bowo.
Aku sedikit terkejut ketika Bowo berkata demikian. Mita pun keluar dan tidak
terlihat tanda dia sedang marah, namun kulihat dia cukup sedih dan tertekan. Bowo
kembali mengangkat bokongku, dia menggesekan kontolnya perlahan.
Dia meransangku kembali, dia menciumi punggungku dan menjilati punggungku
hingga tengkuk, leher dan telinga. Dia membuatku merinding dan terangsang.
Tidak sempat aku bertanya, dia sudah kembali menggenjotoku. Kembali kurasakan
sensasi nikmatnya kontol Bowo. Aku hanya biasa melenguh, dan menjerit. Kini
malah aku tidak takut lagi untuk merancau.
“Bowo, kontol kamu kok enak banggett.... ggee.. deee.. kerr.. ass, genjot terus
sayanggg.. enak sayanggg.. bikin itilku enak sayangg..”
“Enak sayang.. trus apa lagi sayang” godanya lirih didekat telingaku sambil
terus menggenjotku.
Meski kelelahan, aku tetap bernafsu untuk mengimbangi gerakan maju mundurnya.
Kini Bowo diam, “ayo, kamu yang maju mundur” kata Bowo menyuruhku. Tampaknya
dia tau aku sudah kembali bernafsu. Mendengar itu aku lansung memaju mundurkan
pantatku. Bowo meremas–remas pantatku sambil menikmati gerakanku.
Tidak terlihat tanda–tanda Bowo akan muncrat. Itu membuatku semakin penasaran,
aku mempercepat gerakanku. Bowo yang tadinya meremas bokongku kini tertarik dengan
payudaraku yang terus bergoyang. Dia kini meremas payudaraku, dia meremasnya
dengan gemas dan memerasnya dengan kasar. Aku sudah tidak terkontrol, Bowo pun
semakin tidak terkontrol.
“Sayang... aa..kuuu suka kontol kaammm ..uuuu, genjot terus..” rancauku..
selang beberapa saat aku mengejang dan akhirnya aku pun untuk kesekian kalinya
orgasme.
Bowo tidak peduli dengan orgasmeku. Dia tetap menggenjotku, sampai beberapa
menit aku pun bertanya, “sayang udah belum,” tanyaku yang sudah lunglai.
Bowo kini memangku tubuhku yang lunglai. Dia yang kini kududuki dan menghadap
punggungku menaik turunkan tubuhku yang lemas. Beberapa saat seperti itu dia
pun berkata “dikeluarin didalem boleh nggak” pintanya padakau.
Aku langsung menjawab, “jangan..!!”, seketika Bowo berhenti. Lalu Bowo mencabut
kontolnya dari vaginaku. “kamu berdiri” perintahku. Di pun manut. Bowo berdiri
dihadapanku, kuemut–emut buah zakarnya dan kukocok–kocok batang kontolnya yang
terlihat sangat kekar dan hendak menyemburkan cairan cintanya. Selang beberapa
saat aku jadi makin penasaran, aku merasa ingin sekali merasakan air mani Bowo.
Jujur, baru kali ini aku merasa segila ini. Sebelumnya aku sangat jijik jika
suamiku ingin memuntahkan spermanya kemulutku. Namun kini, melihat kontol Bowo
aku jadi ingin mencicipi air maninya. Kusepong kontolnya hingga mentok di
rongga mulutku. Lalu kutarik bibirku dari kontolnya hingga ujungnya saja yang
kuemut. Lalu sambil kuemut kontolnya kukocok–kocok dengan lembut namun agak
cepat.
Kukocok sambil kulihat ekspresi wajahnya dan akhirnya crrrrooooootttt....
crrrooooooottt.... crrroooooottttt..... kulepaskan kulumanku, dan beberapa
semburan masih terjadi crroot.. crrooott.. ccerttt .. ceerrtt.... semburan kali
ini mengarah kewajahku. Bowo maninya sangat banyak. Yang ada didalam bibirku
sebagian kutelan. Meski begitu banyak yang meleleh.
Aku tidak lantas jijik, malah kujilat pucuk kontol Bowo untuk mengambil
sisa–sisa air maninya. Setelah beberapa saat kami selesai melakukannya aku pun
bergegas mandi dan beres–beres. Selesai beres–beres aku menemui Bowo untuk
berbincang. Ketika itu Bowo ternyata sedang menenangkan Istrinya yang sedang
menangis. Bowo berjalan kearahku, dia memberiku sejumlah uang untuk pulang
kerumah. Aku menolaknya dan langsung bergegas pulang dan pamit kepada keduanya.
Kurasakan tatapan dingin istrinya saat aku pamit. Meski saat itu aku cuek,
dalam hatiku aku merasa bersalah. Sepanjang perjalanan aku tidak dapat
melupakan kejadian itu. Aku terus saja merasa bersalah kepada Istri Bowo. Namun
disela–sela perasaan menyesalku, aku justru merasa penasaran ingin mengulangi
adegan itu bersama dengan Bowo. Kurasa gairahku kepada Bowo jauh lebih besar
ketimbang ketika aku bercinta dengan suamiku.
