ku tinggal bersama kakakku dan suaminya. Mereka berdua belum punya anak dan sering pergi untuk mengerjakan urusan bisnisnya masing2. Pokoknya orang2 yang terkategori super sibuk lah. Suatu waktu mereka bersama akan ke Singapore selama seminggu, bersamaan dengan itu ipar kakakku, adik suaminya, datang menginap dirumah. Dia, mas Arman, tinggal dikota lain dan sedang tugas di Jakarta, sehingga tinggal dirumah abangnya. Pagi itu, setelah kakakku dan suaminya berangkat ke airport, aku menyediakan makan pagi untukku dan mas Arman. Setelah siap aku memanggil mas Arman, “Mas, sarapan mas.”. Aku memanggilnya sembari mendorong pintu kamarnya, ternyata dia masih tidur dengan hanya memakai cd. Napsuku langsung timbul melihat pemandangan indah, tubuh yang kekar dan toketnya yang bidang hanya dibalut sepotong cd dimana terlihat jelas kontolnya besar dan panjang tercetak dengan jelas di cdnya. Kayaknya kontolnya dah tegang berat. Karena pintu kamar berbunyi ketika aku buka, tiba2 mas Arman membuka matanya, memandangku yang sedang terkagum2 melihat bodi dan kontolnya. “Kenapa Nes?’, tanyanya sambil senyum2. Dia tau bahwa aku sedang mengagumi bodi dan juga kontolnya. Aku jadi tersipu malu. “Sarapan dulu mas, ntar dingin”, kataku sambil keluar kamar. Lama kutunggu tapi dia gak keluar juga dari kamar, sementara itu napsuku makin berkobar membayangkan kontolnya yang besar dan panjang itu. “Mas”, panggilku lagi, tapi tetap gak ada jawaban. Aku kembali ke kamarnya.
Dia rupanya sedang telentang sambil mengusap2 kontolnya dari luar cdnya. Ketika dia melihat aku ada dipintu kamar, sengaja dia pelan2 menurunkan cdnya sehingga nongollah kontolnya yang besar mengacung dengan gagahnya. Aku terbelalak ngeliat kontol segede itu. “Kamu pengen ngerasain kontolku ya Nes”, katanya terus terang. “Belum pernah ya ngerasain kontol segede aku punya. Aku juga napsu ngeliat kamu Nes, bodi kamu merangsang banget deh”. Dia bangun dalam keadaan telanjang bulat menuju ke tempat aku berdiri. Kontolnya yang tegang berat berayun2 seirama jalannya. DIa segera memelukku dan menarikku ke ranjang, dirumah memang gak ada siapa2 lagi. Dasterku segera dilepaskannya, begitu juga bra dan cdku. Dia meneguk liur memandangi tubuh telanjang ku yang mulus, toket yang besar dengan pentil yang dah mengeras dan jembutku yang lebat menutupi nonokku dibawah sana. Kemudian dia mencium serta mengulum bibirku. Aku balas memeluknya. Bibirku digigitnya pelan pelan, bibirnya turun terus menciumi seluruh lekuk tubuhku mulai dari leher terus kebawah kepentilku, dikulumnya pentilku yang sudah mengeras, aku merintih rintih karena nikmat. Aku menekan kepalanya ke toketku sehingga wajahnya terbenam di toketku. Dia terus menjelajahi tubuhku, dijilatinya pelan dari bagian bawah toketku sampe ke puser. Aku makin mendesis2, apalagi ketika jilatannya sampe ke nonokku yang berjembut tebal. Dia menjilati jembutku dulu sampe jembutku menjadi basah kuyup, pelan pelan jilatannya mulai menyusuri bibir nonokku terus ke itilku. Ketika lidahnya menyentuh itilku, aku terlonjak kegelian. Dia menahan kakiku dan pelan2 dikuakkannya pahaku sehingga kepalanya tepat berada diantara pahaku. Lidahnya menyusupi nonokku dan menjilati itilku yang makin membengkak. Nonokku berlendir, dia menjilati lendir yang keluar. Aku gak tahan lagi, aku mengejan dengan suara serak, tanganku mencengkeram seprei dan kakiku menjepit kepalanya yang ada diselangkanganku. Aku yampe. “Mas, nikmat banget deh, padahal belum dientot ya”, kataku mendesah.
Mas Arman diam
saja, dan berbaring telentang. “Kamu diatas ya Nes, biar masuknya dalem”,
ajaknya. Aku mulai mengambil posisi berjongkok tepat diantara kontolnya yang
sudah tegang berat. “Aku masukkin kontolku ke nonok kamu ya Nes”, katanya
sambil mengarahkan kontolnya menyentuh bibir nonokku. Dia tidak masuk
menekankan kontolnya masuk ke nonokku tapi
digesek2kan di bibir nonokku yang berlendir sehingga kepalanya yang besar itu
basah dan mengkilap.Aku terbuai, dengan mata terpejam aku mendesah2 saking
napsunya, “Mas, masukin dong.” Aku mulai menekan kepala kontolnya yang sudah
pas berada di mulut nonokku. Pelan2 kontolnya menyusup kedalam nonokku, “Akh
mas, gede banget”, erangku. “Apanya yang besar Nes”, dia memancing reaksiku.
“Punyanya maass..!!” “..Apa namanya..?” dia memancing lagi, aku langsung aja
menjawab, “kontol mas, besar sekali”. Dengan sekali hentakan keatas kontolnya
menyeruak masuk nonokku. “Ooh mas, pelan2 mas”, aku mendesah lirih. Mataku
terbeliak, mulutku terbuka, tanganku mencengkeranm seprei kuat2. Bibir nonokku
sampe terkuak lebar seakan tidak muat untuk menelan kontol besarnya. “Nonok
kamu sempit sekali Nes”, jawabnya. Aku mulai berirama menaik turunkan pantatku,
kontolnya masuk merojok nonokku tahap demi tahap sehingga akhirnya ambles
semuanya. Pelan2 dia ikut bergoyang menarik ulur kontol besarnya. Aku mulai
merasa sensasi yang luar biasa nikmatnya. Nonokku yang sudah licin terasa penuh
sesak kemasukan kontolnya yang besar, kontolnya terasa banget menggesek nonokku
yang sudah basah berlendir itu. “Mas, enak banget mas, terus mas”, erangku.
“Terus diapain Nes”, jawabnya menggoda aku lagi. “Terus entotin nonok Ines mas”,
jawabku to the point. “Entotin pake kontol gede mas”. Enjotannya dari bawah
makin menggebu sehingga aku makin menggeliat2. Aku memeluknya dan mencium
bibirnya dengan garesif, dia menyambut ciumanku. Nafasku memburu kencang,
lidahku saling mengait dengan lidahnya, saling menyedot. Kemudian dia
menggulingkan aku sehingga aku dibawah, dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar
masuk dengan cepat. Aku mengangkangkan pahaku lebar2, supaya dia lebih mudah
menyodokan kontolnya keluar masuk. Keluar masuknya kontolnya sampe menimbulkan
suara berdecak2 yang seirama dengan keluar masuknya kontolnya, karena basahnya
nonokku. “Mas, enak sekali kontolmu mas, entotin nonok Ines yang cepet mas,
nikmat banget”, desahku. “Ooh nonok kamu sempit banget Nes, terasa banget
sedotannya. Nikmat banget deh”, jawabnya sambil terus mengenjotkan kontolnya
keluar masuk nonokku. Enjotannya makin ganas, pentilku diemut2nya. Aku
menggelinjang kenikmatan, toket kubusungkan dan kugerak2kan kekiri kekanan
supaya 2 pentilku mendapat giliran diemut,
“Ssh, mas, nikmat banget ngentot ama mas, pentil Ines dikenyot terus mas”,
erangku lagi. “Ines bisa ketagihan dientot ama mas. Ooh mas, Ines gak tahan
lagi mas, mau nyampeee”. Aku mengejang sambil memeluk tubuhnya erat2, sambil
menikmati kenikmatan yang melanda tubuhku, luar biasa rasanya. “Nes, aku masih
pengen ngentotin nonok kamu yang lama. Kamu bisa nyampe lagi berkali2”, katanya
sambil terus mengenjotkan kontolnya.
Mas Arman minta ganti posisi, aku disuruhnya nungging dan nonokku dientot dari belakang, nonokku terasa berdenyut menyambut masuknya kontolnya. Aku memutar2 pantatku mengiringi enjotan kontolnya, kalo dia mengenjotkan kontolnya masuk aku menyambutnya dengan mendorong pantatku dengan keras ke belakang sehingga kontol besarnya masuk dalem sekali ke nonokku. “Ooh nikmatnya mas, dientot dari belakang. Kerasa banget geseken kontol mas di nonok Ines”. Jarinya mengilik2 itilku sambil terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk. ” Uuh mas, nikmat banget mas, terus mainin itil Ines mas sambil ngenjot nonok Ines”, erangku saking nikmatnya. Jarinya terus menekan itilku sambil diputar2, aku mencengkeram seprei erat sekali. Pantat makin kutunggingkan keatas supaya enjotannya makin terasa. Dia memegangi pinggangku sambil mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan cepat dan keras. “Mas, nikmat banget mas, Ines udah gak tahan neh, mau nyampe lagiii”, aku menjadi histeris ketika nyampe untuk kedua kalinya, lebih nikmat dari yang pertama. Diapun mencabut kontolnya dari nonokku dan berbaring disebelahku. “Mas. belum ngecret kok dicabut kontolnya”, tanyaku. “Ines masih mau kok mas dientot lagi, biar bisa nyampe lagi”. Dia setengah bangun dan membelai rambutku, “Kamu masih bisa nyampe lagi kok Nes”.”Ines mau kok dientot mas seharian, kan Ines bisa nyampe terus2an, nikmat banget deh mas”.
Istirahat sebentar, mas Arman kembali menaiki aku lagi, secara perlahan tapi pasti dia pun memasukkan kontolnya ke dalam nonokku. Aku mendesah dan merintih, ketika dia mengenjotkan kontolnya sampe ambles semua aku kembali menjerit, “Aaaaaaahhhh , Maaaassssssss ..”. kontolnya dinaikturunkan dengan cepat, akupun mengimbanginya dengan gerakan pantatku yang sebaliknya. Bibirnya bermain di pentilku, sesekali dia menciumi ketekku, bau keringatnya merangsang katanya. Aku memeluknya dan mengelus2 punggungnya sambil menjerit dan mendesah karena nikmat banget rasanya, “Aah mas, nikmatnya. Terus mas, tekan yang keras, aah”. Dia meremas2 toketku dengan gemas menambah nikmat buatku. Dia terus mengocok nonokku dengan kontolnya, aku menjadi makin histeris dan berteriak2 kenikmatan. Tiba2 dia mencabut kontolnya dari nonokku, aku protes, “Kok dicabut lagi mas, Ines belum nyampe mas, dimasukin lagi dong kontolnya”. Tapi dia segera menelungkup diatas nonokku dan mulai menjilati bagian dalam pahaku, kemudian nonokku dan terakhir itilku. “Mas, diapa2in sama mas nikmat ya mas, terus isep itil Ines mas, aah”, erangku. Dia memutar badannya dan menyodorkan kontolnya ke mulutku. Kontolnya kujilati dan kukenyot2, dia mengerang tapi tidak melepaskan menjilati nonokku yang dipenuhi lendir itu. “Nes, aku dah mau ngecret neh”, katanya sambil mencabut kontolnya dari mulutku dan segera dimasukkan kembali ke nonokku. Dia mulai mengenjot nonokku dengan cepat dan keras, aku rasanya juga sudah mau nyampe lagi, goyangan pantatku menjadi makin liar sambil mendesah2 kenikmatan. Akhirnya dia mengenjotkan kontolnya dalam2 di nonokku dan terasa semburan pejunya yang hangat didalam nonokku, banyak sekali ngecretnya, bersamaan dengan ngecretnya akupun nyampe lagi. Aku memeluk tubuhnya erat2, demikian pula dia. “Mas, nikmat banget deh masss”, erangku. Aku terkulai lemes dan bermandikan keringat. Dia kemudian mencabut kontolnya dan berbaring disebelahku.
Tak lama
kemudian, kita bangun dan membersihkan badan di kamar mandi. Tidak ada aktivitas
lanjutan di kamar mandi karena mas Arman harus melakukan tugasnya pagi ini.
Selesai membersihkan badan, kita sarapan, kemudian mas Arman pergi, akupun
melakukan aktivitas harianku. Sorenya ketika aku pulang ke rumah, mas Arman
belum kembali, biasanya memang dia pulangnya malam. Akupun mandi, menyiapkan
makan malam untukku sendiri, kemudian kusantap sambil nonton tv. Sepi juga
rasanya setelah tadi pagi menreguk kenikmatan dengan mas Arman. Aku bersantai
sambil nonton tv sampai kantuk datang menyerang. TV kumatikan dan aku masuk
kamarku, rebahan diranjang dan tak lama kemudian aku tertidur. Tidak tau berapa
lama aku tertidur, aku terbangun karena toketku terasa ada yang meremas2. Aku
membuka mata, kulihat mas Arman tersenyum melihatku, “Nes, ngelanjutin yang
tadi pagi mau enggak”. Dia sudah bertelanjang bulat berbaring disebelahku.
Kontol besarnya sudah ngaceng sempurna. Tanpa menunggu jawabkanku, segera aku
ditelanjanginya, bibirku diciuminya sambil meremas2 toketku yang sudah mulai
mengeras, pentilku di pilin2nya, aku hanya bisa ber ah uh karena rangsangan
yang luar biasa itu. Aku malah mengimbangi ciuman ganasnya. Pentilku langsung
diserbunya, diemut2nya dengan rakusnya sehingga pentilku langsung mengeras,
sementara itu toketku terus saja diremas2nya. Puas mengemut pentilku, jilatan
lidahnya turun ke arah perutku, terus ke bawah lagi dan mampir di nonokku.
Lidahnya segera membelah bibir nonokku dan menjilati itilku, aku mengangkangkan
pahaku sehingga mempermudah dia menggarap itilku. Aku mulai mengerang2 saking
nikmatnya yang melanda tubuhku. “Aasshhg.. hngghh.. ssshhhg..” badanku
melintir,
bergeliat-geliat oleh kilikan jilatan di itilku. Dia makin bersemangat karena
eranganku. Tiba2 dia melepaskan jilatnnya, segera menaiki tubuhku yang sudah
telentang pasrah, siap untuk dienjot, dia membasahi kepala kontolnya dengan
ludahnya kemudian ditempelkan ke bibir nonokku dan langsung ditusuk masuk.
“Hhgghh..” sekali lagi aku mengejang kali ini oleh sodokan kontolnya. Tapi
karena sudah cukup siap, dengan mudahnya dia menancapkan kontolnya ke dalam
nonokku. Aku menggelepar ketika menyambut masuknya kontolnya yang cepat amblas
ke dalam nonokku. Begitu tertanam didalam, kontolnya dienjotkan keluar masuk
pelan2. Terasa banget kontolnya yang besar
menyeruak masuk mengisi lobang nonokku yang terdalam. “Hhsssh, dalemm bangett
mas”, spontan keluar eranganku, “nikmat banget rasanya”. Dia terus mengenjotkan
kontolnya keluar masuk, aku merangkul lehernya dan kedua kakiku membelit
pahanya. Dia makin gencar mengenjotkan kontolnya keluar masuk sehingga aku
makin menggeliat saking nikmatnya. “Mas, ennakk. Duhh dalem bangett masuknya
mas. Aaa.. dikorek-korek gitu Ines pengenn kluarr. Ayyo mas..adduuh”, erangku
gak karuan. “.. Iyya ayyo aaahhgh.. ssshgh.. hghrf.. ennaak nonokmu Nes, aku
juga mo ngecret .. sshmmmh..” “Hhsss.. aduuhh tobatt mas.. hahgh ooghh..
kontolnya masuk dalem sekali mas, gedee sekalli, aduuh.. mas. lebih nikmat dari
tadi pagi deh.” Kontolnya makin dipompa keras2, nikmat banget rasanya. “Heg..
yaang kerass mas.. shh, iya gittu..aduh..ssshgh.. heehh.. ayyo.. ayoo mas..
aaahgh.. sshgh. Ines udah mo nyampe.. aduhh.. hghshh.. hrrgh..” Dia meremas2
toketku, sampai akhirnya akupun nyampe. Dadaku membusung, seolah-olah tubuhku
terangkat-angkat oleh tarikannya yang meremasi kedua toketku. Tapi menjelang
tiba di saat dia ngecret, dia mencabut kontolnya dan langsung tegak berlutut
sambil menarik kedua lenganku sehingga aku ikut bangun terduduk. Dia menekan
kepalaku ke arah kontolku yang tegang mengangguk2 berlumuran cairan nonokku.
‘”Ayo Nes isepin sampe ngecret.” Tanpa ragu-ragu aku langsung mencaplok dan
mengocok kontolnya dengan mulutku. Tidak bisa semua, hanya tertampung kepalanya
saja dimulutku, tapi ini sudah cukup membuat dia ngecret di mulutku. Aku agak
tersedak karena semprotan pejunya yang tiba2, dia terus menekan kepalaku supaya
tidak melepaskan kulumanku sehingga pejunya tertelan olehku. Setelah keluar
semua, aku melepas mulutku, langsung meringis. “Kenapa Nes, nggak enak ya
rasanya?” tanyanya geli. “Asin rasanya mas..” jawabku ikut geli. “Emang enak
sih dikeluarin pake mulut?” kataku sambil bergerak bangun untuk ke kamar mandi
mencuci bekas-bekas permainan ini. “Oo.. sama kamu sih pasti enak aja.”
jawabnya sambil ikut bangun menyusulku.
Di kamar mandi,
mas Arman memelukku dari belakang, aku belum sempet bebersih ketika tangannya
mulai meremas toketku, pentilnya diplintir2 sambil menciumi kudukku. Aku
menggelinjang kegelian. Aku mencari kontolnya, astaga, sudah mulai ngaceng lagi
rupanya. Kuat banget dia, baru aja ngecret di mulutku sudah mulai ngaceng lagi.
“Kuat banget sih mas, baru Ines emut sampe ngecret udah ngaceng lagi”, kataku.
“Iya tadi kan ngecret dimulut kamu, sekarang pengen ngecret lagi di nonok
kamu”, jawabnya sambil terus meremesi toketku. Leherku terus saja diciumi,
dijilati dengan penuh napsu. Akupun tidak tinggal diam, kontolnya yang makin
keras aku remes dan kocok2 biar sempurna ngacengnya. “Mas, Ines isep lagi ya”,
kataku sambil jongkok di depannya. Ujung kontolnya kujilati dan kemudian
giliran kepala kontolnya, terus ke pangkalnya, kemudian ke biji pelernya. Dia
mengangkat kaki kanannya supaya aku mudah menjilati kontolnya. Kemudian
jilatanku naik lagi keatas, dan kepalanya langsung kukulum. Kepalaku
mengangguk2
seiring keluar masuknya kontolnya dimulutku, sambil ngisep, biji pelernya aku
elus2. “AAh Nes, nikmat banget deh”, erangnya. Dia memegang rambutku dan
mendorong kontolnya keluar masuk mulutku dengan pelan. Sepertinya dia udah
tidak tahan lagi, aku diseretnya keluar kamar mandi dan
ditelentangkan di ranjang. Pentilku menjadi sasaran jilatannya, jilatan berubah
menjadi emutan, bergantian pentil kiri dan kanan. kemudian jilatannya turun ke
perut, kemudian ke pusar sampe akhirnya ke jembutku. Jarinya mulai mengelus
bibir nonokku, kemudian jilatannya mulai menjelajahi nonokku yang sudah basah
kembali. Jilatannya tidak langsung ke itilku tapi berputar2 sekitar nonokku. Ke
daerah paha, terus kedaerah pantat dan naik lagi. “Mas, nakal ih”, desahku,
napsu sudah kembali menguasaiku. Jilatannya diarahkan ke itilku sambil
memasukkan jarinya ke nonokku. Dia menggerakkan jarinya keluar masuk nonokku.
“Maas”, desahku saking napsunya. pinggulku menggeliat kekiri kekanan.
Akhirnya sampailah saat yang kutunggu2, mas Arman menaiki badanku, ditindihnya aku, kontolnya diarahkan ke nonokku yang sudah basah banget. Kepalanya diusap2kan dibibir nonokku. Aku mengangkat pantatku ke atas sehingga bless masuklah kepala kontolnya membelah nonokku. Dia mulai mengeluar masukkan kontolnya ke nonokku, pelan2, makin lama makin cepat, sampe akhirnya dengan satu enjotan yang keras, seluruh kontolnya nancep dalem sekali di nonokku. “Maas, nikmat sekali”, jeritku. Aku menggelinjang makin gak beraturan seiring dengan enjotan kontolnya keluar masuk nonokku dengan cepat dan keras. Kakiku menjepit pinggulnya, kemudian diletakkan di pundaknya, dia pada posisi berlutut, makin terasa gesekan kontolnya ke dinding nonokku, nikmat banget. Nonokku mulai berdenyut2 meremes2 kontolnya yang terus bergerak lincah keluar masuk. “Mas, Ines udah mau nyampe nih, terus enjot yang keras mas, aah”, erangku lagi. Dia makin semangat mengenjot nonokku. Tiba2 dia berhenti dan mencabut kontolnya, “Maas”, protesku. Ternyata dia pengen ganti posisi. Aku disuruhnya nungging dan kembali kontolnya melesak masuk nonokku dari belakang, doggie style. pantatku dipeganginya sementara dia mengenjotkan kontolnya keluar masuk. Toketku yang berguncang2 seirama dengan enjotan kontolnya diraihnya, diremes2nya, pentilnya diplintir2, menambah kenikmatan yang sedang mendera tubuhku. “Terus maas”, erangku lagi, aku mencengkeram seprei dengan kuat saking nikmatnya. Aku memaju mundurkan badanku supaya kontolnya nancep dalem sekali di nonokku, sampe akhirnya, “Terus maas, Ines nyampe lagiii”. Dinding nonokku berdenyut2 mengiringi sampenya aku, dia terus saja mengenjot nonokku dengan cepat. Aku nelungkup, capai banget rasanya meladeni napsunya. Dia membaringkan dirinya, kontolnya masih tegak berdiri berlumuran cairan nonokku. “Nes, kamu yang diatas ya, aku belum keluar neh”, pintanya.
Aku menempatkan diriku diatasnya, kontolnya kupegang dan langsung kutancapkan ke nonokku, badan kutekan kebawah sehingga langsung aja kontolnya ambles semua di nonokku. Aku mulai menggoyang pinggulku, kekiri kekanan, maju mundur, berputar2. biar cape, tapi nikmat banget rasanya gesekan kontolnya ke nonokku. Toketku diremes2nya sambil memlintir2 pentilnya. Aku merubah gerakanku menjadi keatas kebawah mengocok kontolnya dengan nonokku. “Mas, nikmat banget deh”, erangku. Akhirnya aku tidak bisa menahan diriku lebih lama lagi, aku ambruk didadanya karena nyampe untuk kesekian kalinya. “Mas, belum mau ngecret ya, Ines lemes mas”, desahku. “Tapi nikmat kan”, jawabnya. “Nikmat banget mas”. Dia berguling tanpa mencabut kontolnya dari nonokku sehingga sekarang dia ada diatasku. dia mulai lagi mengenjotkan kontolnya keluar masuk nonokku. “Nes, aku udah mau ngecret, erangnya sambil mempercepat enjotannya. Dia terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk nonokku, sampe akhirnya, “Nes”, erangnya. terasa sekali semburan pejunya membanjiri nonokku. Kami berdua terkulai lemas.
Hal itu kita ulangi berkali2 selama dia tinggal dirumah kakakku, setelah kakakku kembalipun kita masih tetap melakukannya, sampai dia menyelesaikan tugasnya dan kembali ke kotanya.
