Selasa, 11 Maret 2025

AKU TAK KUASA MENOLAK PERMINTAAN TEMANKU


 


Aku mempunyai sahabat sedari kecil, kami tumbuh bersama, kenakalan kecil, belajar bermain, melamar pekerjaan, bahkan main cewek pun kami berangkat bersama. Adyt memang ganteng dan lumayan playboy. Yang aku tahu pasti, dia termasuk hiper. Two in one selalu menjadi menu wajib kalo kami mampir ke cafee.

Dia juga mempunyai banyak teman mahasiswi yang ‘siap pakai’ dan lucunya dia sering menawari aku bercinta dengan gadis mahasiswinya di depan hidungnya. Terkadang dia mengajak threesome. Aku sih ok ok saja, why not… enak kok. Dan lagi, ketika itu aku cuma karyawan swasta yang bergaji kecil, sedang Adyt sudah memiliki usaha sendiri yang cukup sukses.

Sayang sekali di umur 35, sahabatku ini mengalami kecelakaan yang membuat dia terpaksa menggunakan kursi roda. Padahal dia baru 2 tahun menikah dan dikaruniai satu dua laki-laki yang cukup lucu.

Peristiwa ini benar-benar membanting dirinya, untunglah Reni adalah istri yang setia dan selalu memompa semangat hidupnya agar Adyt tidak menyerah. Sebagai sahabat, akupun tak bosan-bosannya menghibur agar dia mau mencoba mengikuti terapi.

Seperti biasa, di malam minggu, aku main ke rumahnya, daripada ngluyur nggak karuan, maklum setua ini aku masih membujang.

“yu, elo masih ingat jaman kita gila dulu? Minimal gue selalu ambil dua cewek, hahaha… dan mereka selalu ampun-ampun kalo gue ajak lembur.” Adyt tersenyum-senyum sendiri. Aku memahami, rupanya Adyt terguncang karena kemampuan sex yang dibanggakannya mendadak tercerabut dari dirinya.

“yu, gue harus sampaikan sesuatu ke elo… kenapa gue selalu bicara tentang sex ke elo. Ehm… gini, gue kesian sama Reni … dia istri yang baik dan setia, tetapi gue tidak mungkin memaksa dia untuk terus menerus mendampingi gue. Dia punya hak untuk bahagia. Dan lagi… Ehh… dan lagi…” Adyt terdiam cukup lama.

“Istriku masih muda, 30 tahun… gue nggak ingin dia nanti menyeleweng. Lebih baik kami berpisah baik-baik, dia bisa mendapatkan suami yang lebih baik.” matanya menerawang.

”Tetapi Reni tetap bersikukuh tidak mau. Baginya menikah cuma sekali dalam hidupnya. Tetapi gue kuatir, yu… gue kuatir… karena… Ehhh, karena… Reni nafsunya besar. Bisa kamu bayangkan betapa tersiksanya dia. Kami dulu hampir setiap hari bercinta.” Adyt terdiam lagi, lama.

“Kemarin dia bicara: ‘mas, aku nggak akan menyeleweng, karena cintaku sudah absolut. Kalo kamu memaksa untuk berpisah, aku tidak bisa. Memang kalau bicara sex, sangat berat bagiku. Tapi kita bisa mencoba pakai tangan kan, mas? Mas bisa puasin pakai tangan mas, pake lidah juga masih bisa… kita coba dulu, mas…’”

”Kami mencobanya, tetapi karena lumpuhku, jari dan lidahku tidak bisa maksimal, dan dia tidak mampu orgasme. Sempat juga pakai dildo. Itupun juga gagal. Ini lebih disebabkan posisi tubuhku yang tidak mendukung. Akhirnya aku mengatakan bahwa bagaimana kalau kamu mencoba pakai cowok beneran. Kita bisa pakai gigolo, asal kamu bercinta di depanku, jangan di belakangku. Aku bilang bahwa ini hanya murni untuk menyenangkan dirinya. Kamu tahu… istriku hanya menangis, dalam hatinya sebenarnya dia mungkin mau, tapi entahlah…” Adyt sudah tidak berloe gue lagi.

”Hhh… sebenarnya aku mau minta tolong kamu… pertama, kamu temanku, sudah seperti saudara sendiri, kamu belum menikah, kamu sekarang juga sudah nggak segila dulu… mungkin udah berhenti ya? Jadi aku minta tolong… bener-bener minta tolong… puaskan istriku…” kata Adyt, suranya sedikit tercekat.

“No.. no.. no.. nggak, Rob. Aku nggak mau. Maaf, aku gak bisa bantu yang seperti itu. Reni wanita baik-baik, aku melihatnya seperti malaikat. Dan aku sungguh menghormatinya. Sorry, aku pulang dulu, Rob… tolong pembicaraan ini jangan diteruskan.” aku menghindar.

Reni adalah wanita sempurna, cantik, hatinya lembut, setia ke suami, tidak neko-neko, dan tubuhnya benar-benar sempurna. Adyt benar-benar sinting kalo aku diminta meniduri istrinya.

***

Tiga minggu kemudian, pagi-pagi aku mampir lagi ke rumahnya, aku pikir dia sudah tidak mau membicarakan itu lagi, ternyata aku salah. Kali ini dia memintaku sambil memohon, bahkan matanya berkaca-kaca. “yu, please, bantu aku, kamu tidak kasihan lihat istriku? Kami sudah sepakat kalau kamu dan dia tidak perlu ML. Mungkin memuaskan dengan tangan atau lidah?”

Aku sungguh tidak setuju dengan rencananya, tapi melihat permintaannya, hatiku trenyuh. “Ok, Rob, aku coba bantu, tapi aku perlu bicara dulu dengan Reni …”

“Bicaralah dengannya, dia ada di beranda belakang, bicaralah…” desak Adyt.

Perlahan aku melangkah ke bagian belakang rumahnya yang besar, aku lihat Arini sedang menyirami bunga, sinar matahari pagi turut menyinari wajahnya yang lembut, kimononya yang berwarna merah kontras sekali dengan kulitnya yang putih bersih, sungguh anggun… Mungkin Adyt sudah memberi tahu karena dia seperti sudah menunggu kedatanganku.

“Hai, Reni … mana si kecil Ardi, masih tidur ya?” tanyaku basa-basi.

“Hai, mas. Iya, Ardi masih bobok… tumben datang pagi begini, udah sarapan belum?” Arini tersenyum lembut. Wajahnya hanya ber make-up tipis, begitu sempurna.

”Mmm, udah kok… mas, aku bantu potongin anggrek ya? Dulu aku suka bantu ibuku merawat anggrek… ah, ini sepertinya kepanjangan, Ren… coba deh dipotong lebih pendek lagi, supaya lebih cepat berbunga.” kataku sok serius.

“Mas, aku sangat mencintai mas Adyt. Akupun tahu dia sungguh mencintaiku. Dia adalah suami yang pertama dan terakhir…” suaranya tercekat, wajahnya menunduk. Tak kusangka Reni bicara langsung ke pokok persoalan. Ini lebih baik, karena semakin lama disini, aku semakin canggung.

“Aku sungguh berharap, mas wahyu tidak menganggapku wanita murahan. Mas Adyt bilang bahwa kalau melihat aku bahagia maka dia juga bahagia. Jadi nanti apa yang kita lakukan harus masih dalam koridor saling menghormati ya, mas…” kini matanya berkaca-kaca.

“Ren, aku ikuti apa maumu, kalau nanti kamu minta berhenti, aku berhenti. No hurt feeling… jangan kuatir aku tersinggung, kamu adalah wanita yang paling aku hormati setelah ibuku. Aku… aku akan memperlakukanmu dengan terhormat.“ bisikku.

Perlahan Reni menarik tanganku menuju lantai dua, mungkin ini kamar tamu. Interior kamar sungguh nyaman, warna warna soft mendominasi, mulai dari warna bedcover, bantal dan gorden terkomposisi dengan baik, benar-benar mendapat sentuhan wanita.

“mas… bagaimana dengan Adyt, dia pernah bilang kalo harus sepengetahuan dia.” tanyaku kuatir, aku tidak mau dituduh mengkhianati sahabat sendiri.

“Mas Adyt nanti datang setelah dia rasa kita ada hubungan chemistry yang lebih jauh.Aku juga keberatan kalo mas menyentuhku di depan mas Adyt terlalu terus terang. Aku tidak mau hatinya sakit. Dan ditahap awal ini aku sungguh berharap kita tidak terlalu jauh. Mungkin aku belum terlalu siap… dan maaf kalo tiba-tiba aku minta berhenti, mas ngerti kan perasaanku?” Reni berkata dengan wajah menunduk. Tangannya terlihat gemetar ketika perlahan-lahan membuka bedcover. Aku hanya mengangguk tanpa bicara.

Lalu Reni berjalan menuju meja rias, membelakangiku, perlahan dilepas cincin kawin di jarinya, “Aku tidak bisa bercinta dengan orang lain dengan tetap memakai cincin ini…” katanya berbisik.

“Maafkan aku, Ren… aku akan meperlakukan kamu dengan baik.” bisikku dalam hati.

Perlahan dia berbalik menghadapku sambil membuka gaunnya, ternyata di balik kimononya, Reni hanya memakai lingerie warna pink, G string plus stocking putih berenda. “ Aku tidak mau sembarangan untuk memulainya. Ini aku pakai juga untuk menghormati mas wahyu.” Reni berjalan perlahan ke arahku. Aku hanya bisa menahan nafas, dadaku sesak bergemuruh, rasanya sulit untuk bernafas, rasanya aku tidak akan bisa menyentuhnya, dia terlalu indah, Reni terlalu indah untukku… kakiku lemas.

Dengan perlahan Reni membuka kancing bajuku, sedikit mengelus dadaku yang berbulu, wajahnya masih menunduk. Tanganku menyentuh rambutnya lembut, kemudian aku cium perlahan keningnya. Dengan bertelanjang dada, tanpa melepas celana panjangku, kutuntun Reni ke tempat tidur. Aku peluk lembut, aku ciumi keningnya berulang kali. Turun ke pelipis, lama aku cium di situ. Aku harus membuatnya rileks.

Matanya yang indah tampak berkaca-kaca. Hembusan nafasnya masih memburu, bergetar. Aku mengerti, Reni masih belum siap.

Aku bisikkan kata-kata lembut ke telinganya, ”Ren, kamu santai saja, aku nggak akan menyentuh yang nggak semestinya kok. Jangan kuatir, kita tidak terlalu jauh, ini hanya semacam perkenalan saja. Ok?“

Reni mengangguk sambil memejamkan matanya, mencoba menghayati.

Kemudian bibirku menyentuh pipinya, harum Kenzo di lehernya, menuntunku ke arah sana. Lehernya sungguh indah, bibirku menyelusuri leher jenjangnya sambil sekilas menciumi belakang telinganya.

“Ahhhhhh… mas… ahhhh…” nafasnya dihembuskan panjang, rupanya tadi dia terlalu tegang. Aku tetap mencium, tidak beranjak dari sekitaran pipi, kening, leher dan telinga. Sengaja tidak kucium bibirnya, takut membuat moodnya jadi hilang. Tetapi ternyata Reni sendiri yang mencari bibirku, dan mencium lembut perlahan. Badanku merasa meremang.

Kemudian kami berpandangan dekat, matanya lekat menghunjam mataku, seperti mencari kepercayaan disitu. Ini adalah titik kritis, berhenti atau lanjut…

Perlahan, Reni memejamkan matanya, bibirnya sedikit terbuka, aku mengerti kalau ini semua bisa berlanjut lebih jauh. Kucium lama dan lembut bibirnya yang indah itu.

Perlahan bibirku turun ke leher, sedikit ke bawah. Turun… turun ke belahan dadanya yang ranum. Wanginya sungguh memabukkan. Reni hanya melenguh pelan, “Eehhhhh… mas…”

Tanganku mulai mengelus pahanya, aku gosok perlahan, tanganku berhenti ketika jemari Reni menyentuh tanganku. Ah, mungkin aku terlalu jauh… ternyata jemari Reni menggosok permukaan lenganku. Kulanjutkan lagi gosokan tanganku ke pangkal pahanya.

Kusentuh miss V-nya yang hangat. Aku tidak membuat gerakan yang tiba- tiba, semua harus mengalir lembut. Cukup lama jemariku menyentuh bulu- bulunya. Bibirnya terasa dingin, Reni sudah mulai terangsang… sambil masih mencium lembut bibirnya, jemariku mulai menyentuh klitorisnya. Begitu tersentuh, Reni langsung merintih, nafasnya memburu.

”Mas… uffff, mas… fiiuhhh…” cepat sekali vaginanya basah. Aku memahami, mungkin sudah satu tahun Reni tidak disentuh Adyt.

Bibirku perlahan mulai mencium dari belahan dada menuju bukit indahnya. Belum pernah kulihat payudara seranum ini. Lidahku menari-nari di ujung putingnya yang merah muda. Aku sentuh dengan ujung lidah, kemudian sedikit aku sedot, lalu aku lepas lagi, begitu berulang-ulang. Nikmat sekali.

Aku lirik wajah Reni, sudah merah padam, nafasnya tersengal-sengal. “Geliii… aaahhhh… geli, mas… jangan lama-lama… geliii… aduuuuhhh…” rintihnya.

Sengaja aku teruskan jilatanku, dengan sedikit mengeluarkan erangan, agar Reni mengerti kalo aku sendiri juga super terangsang. Eranganku dengan erangannya kini bersahut-sahutan. Kepala Reni bolak-balik terbangun, mungkin karena dia tidak tahan dengan gelinya. Jemariku bertambah cepat menggosok klitorisnya. Tiba-tiba jemari Reni meremas rambutku dan kedua tangannya pun menekan kepalaku, sehingga aku sulit bernafas karena terbenam di buah dadanya. Pinggul Reni terangkat tinggi sambil merintih panjang.

“Masssssss… ahhhhh…” wanita cantik itu Orgasme!

Pinggulnya kembali terhempas ke tempat tidur yang langsung terayun-ayun, badannya melemas, tangannya lunglai ke bawah, sambil berkali-kali menelan ludahnya Reni mulai menangis memalingkan wajahnya.

Aku ciumi lembut kepalanya, kucium air matanya di pipi, kemudian kucium tipis bibirnya.

Perlahan kepalaku turun ke leher, dada, perut, pusar dan berhenti di bulu-bulu kemaluannya. Lidahku mulai menari di klitorisnya yang super basah. Reni hanya terdiam.

Aku masih sibuk menjilati vaginanya yang wangi. Reni mulai recovery lagi… jemari lentiknya meremas rambutku. Dagunya terangkat ke atas, nafasnya terputus-putus memburu. Perlahan kuturunkan celanaku… bibirku kembali ke atas, mencium pusarnya, mengecup putingnya kemudian menyentuh bibirnya. Mataku beradu dengan matanya. Pandangan mataku bertanya, haruskah kuteruskan…

Reni mengerti kalau batangku tengah menempel di kemaluannya. Perlahan kakinya melingkar ke pahaku. Mata kami tetap berpandangan. Kugesekkan batangku perlahan-lahan, Reni sedikit merintih, bibirnya terbuka.

Kepala batangku mulai menekan, menekan… sedikit masuk, masuk lagi perlahan, lalu kaki Reni menekan pinggulku sehingga batangku lebih dalam masuk. Masuk seluruhnya… badanku meremang, batangku terasa hangat. Mata kami masih beradu pandang… tiba-tiba di sudut matanya muncul air bening yang mengalir perlahan ke pipinya. Reni kembali menangis…

Kembali aku cium lembut bibirnya. Pinggulku tidak langsung aku gerakkan, agar dia merasa nyaman dulu dengan batangku di dalam sana. Lalu perlahan aku mulai gerakkan pinggulku sedikit demi sedikit, pelan-pelan… Reni merintih, ”Mas… aghhhhh…”

Gerakan lebih kupercepat. Aku rasakan batangku masuk sepenuhnya ke dalam vaginanya. Tempat tidur mulai berguncang, bunyi geritan besi tempat tidur mulai keras terdengar.

Tiba-tiba Reni memelukku erat, bibirnya mendekat ke telingaku dan berbisik, ”Kok besar sekali, mas? Terima kasih… nikmat sekali, mas… ooohhh… nikmat!”

Reni kini lebih agresif menciumku, lidahnya mulai berani masuk ke mulutku. Tubuh kami berguling, kini dia di atasku. Otomatis batangku lebih menghunjam ke dalam, posisi ini favoritku karena aku bisa sepenuhnya melihat kecantikannya, melihat lekuk tubuhnya, meremas dada dan pinggulnya lebih leluasa.

Gerakan tubuh Reni mulai liar, wajahnya tengadah ke atas dengan mata terpejam.Gerakannya malah lebih cepat dari gerakanku. Tubuhnya mulai menggigil dipenuhi peluh yang mengucur deras di sela belahan buah dadanya, pemandangan ini membuat tubuhnya tampak sensual, kujilati semua peluhnya dengan nikmat. Reni mendekati puncak… sementara aku susah payah bertahan agar tidak ejakulasi duluan.

”Aaaaaa… aaaaaaahhhh… aahh!” dia mulai tidak malu mengeluarkan rintihan dan erangan suaranya lebih keras. Tiba-tiba tubuhnya menghentak keras, lenguhannya memanjang, kemudian tubuhnya lunglai ambruk di tubuhku. Segera kupeluk erat dan kucium lembut keningnya. Aku lega… senang bisa memuaskannya.

”Terima kasih, mas… terima kasih… aku belum pernah merasa nikmat seperti ini, dua kali orgasme.” bisik Reni.

”Aku bisa teruskan kalo kamu mau, Ren.” bisikku sambil menciumi pelipisnya.

”Terima kasih… may be next time… sekarang giliran mas wahyu, mas belum puas kan?”

Aku tersenyum dan kugelengkan kepalaku. ”No, tidak perlu… itu tidak penting. Kamu bisa menikmati, itu lebih penting. Kalau aku turut mencari kepuasan, artinya aku tidak menghargai kamu. Semua ini untuk kamu, Ren… hanya untuk kamu.” dalam hati kumaki-maki diriku, mengapa aku sok suci. Tetapi tak bisa kumaafkan diriku kalau aku ikut menikmati kesempatan emas ini, Reni bersedia bercinta denganku artinya dia sudah menghempaskan semua harga dirinya dihadapanku. Aku menghargai dan menghormatinya.

”Mas, kamu baik sekali? Sungguh kamu baiiiikk sekali.” Reni memelukku erat lama sekali sampai aku terengah-engah karena kepalaku terbenam di belahan payudaranya. Sebenarnya aku ingin meneruskan dengan melumat dan mengigit gigit putingnya, tapi aku tidak mau merusak suasana syahdu ini.

”Mengapa Adyt tidak kemari, bukankah dia minta kita bercinta di depannya. Aku tidak mau dikatakan mengkhianati teman…”

”Mas Adyt mungkin sudah melihat kita dari tadi, dia ada di ruangan di balik kaca meja rias, itu kaca tembus pandang, mas.” Reni menjelaskan ketika melihat mataku memandang pintu.

”Umm… mas gak bersih-bersih badan? Aku bantu di kamar mandi yuk…“ katanya sambil menarik tanganku.

Kami saling menggosok badan, aku remas lembut buah dadanya dari belakang dan mencium lembut punggungnya. Reni kembali merintih, tubuhnya berbalik kemudian melumat bibirku, benar-benar agresif. Tiba-tiba Reni jongkok dan cepat menggenggam batangku, sedetik kemudian mulutnya mengulum milikku yang makin mengeras penuh.Aku benar-benar tidak menduga Reni melakukan itu. Tindakannya membuat kakiku lumpuh.

”Jangan, Ren… jangan… nanti aku keluar. Aahhh… Ren… sudah… please…” rintihku.

Reni segera berdiri lagi lalu berbalik menghadap shower dinding. Aku mengerti, dia ingin aku masuk dari belakang. Dengan guyuran air hangat, aku masukkan batangku cepat, aku sudah tidak tahan lagi, nafsuku sudah memuncak, Reni pun mengerakkan tubuhnya mengimbangi tusukanku.

”Aaahhh… mas… aku… aku… ahhh… aku…” tubuhnya kembali menggeliat dan mengejang, jemarinya kuat meremas tangkai shower, sementara aku benar-benar tidak dapat menguasai diriku. Spermaku yang tertahan dari tadi akhirnya mau tak mau menyembur keluar, masuk jauh ke relung vaginanya.

” Mengapa aku tidak bisa menahannya?” Reni kembali jongkok dan kini membersihkan lelehan spremaku dengan lidahnya. Aduh, aku merasa geli sekali. Dia kocok-kocok lagi agar semua spermaku keluar. Kemudian mengakhirinya dengan sedotan panjang di ujung batangku.

”Ahhh… Reni … kenapa aku harus ejakulasi?”

Selesai bebersih diri dan memakai baju, kami keluar kamar. Rupanya Adyt sudah menunggu di depan TV, dia tersenyum dari kejauhan. Aku merasa jengah, merasa tidak enak. Sementara Reni menunduk dan berjalan ragu ke sebelah suaminya.

Dari kursi rodanya, Adyt memeluk pinggang istrinya. ”Terima kasih, yu, kamu sahabat yang baik. Aku sudah melihat percintaan kalian tadi. Aku berharap kamu tidak keberatan untuk meneruskan nanti.”

Aku hanya mengangguk pelan. Bisakah aku hanya bertahan murni bercinta tanpa melibatkan perasaan? Aku tidak yakin dengan diriku. Aku tidak yakin nanti tidak jatuh cinta kepada Reni … dan aku yakin Reni pun mempunyai perasaan yang sama. Sorot matanya ketika bercinta tadi menunjukkan itu.

 

Teman Suami Menikmatiku


 



Cerita ini berawal dari kesuksesan Adit bekerja di kantornya dan mendapat kepercayaan dari sang atasan yang sangat baik. Kepercayaan ini membuat dia sering harus bekerja overtime, pada awalnya aku bisa menerima semua itu tetapi kelamaan kebutuhan ini harus dipenuhi juga dan itulah yang membuat kami sering bertengkar . Karena kadang Adit harus berangkat lebih pagi dan lewat tengah malam baru pulang.

Beberapa bulan yang lalu , Adit mendapat tanggung jawab untuk menangani suatu proyek pembanguan perumahan dan dia dibantu oleh rekan kerjanya Rokan dari Bandung . Waktu pertama Adit memperkenalkanku pada Rokan , Rokan langsung seperti terkesima dan sering menatapku , hal itu membuatku risih. Rokan memang tampan , gagah dan kekar, walau kulitnya tampak hitam .
Rokan , yang nama pangilannya Rokan itu sudah berkeluarga . Umurnya pun dua tahun lebih tua dari suamiku . Dia seorang karyawan . Rokan adalah orang (maaf) pribumi dari suku Jawa , dia lahir di cirebon . Yah memang sama suku dengan suamiku , yang mana suamiku dan aku terlahir sebagai seorang keturunan jawa. Sekarang ini Rokan diBandung , tapi dia sering ke Jakarta . Walau sering berjauhan , suamiku dan Rokan sudah sangat akrab , boleh di bilang seperti saudara . Itu sebabnya Rokan tinggal di rumah kami sementara , selagi proyek ini berjalan Mereka berdua sering bekerja hingga larut malam di rumah kami. Rokan tidur di kamar tamu persis di seberang kamar kami.

Malam hari itu , aku ingin pamit tidur . Aku berjalan ke ruang kerja suamiku . Disana ada Rokan . Aku mengenakan gaun tidurku yang sexy . Saat itu aku melihat mata Rokan seakan tak lepas memandang setiap lekuk tubuhku . Aku bisa memakluminya , karena Rokan memang seorang pria . Aku tak berlama lama ? pi ..saya tidur dulu yah..? kataku . ? oh , oke , mami tidur dulu , nanti saya nyusul , lagi nangung nih ..? jawab suamiku .

Aku sebel juga , kenapa gak ikut tidur sih , padahal aku lagi horny banget malam itu , sudah seminggu ini , Adit sibuk dengan proyeknya itu . Akhirnya aku mengalah , aku masuk ke kamar , dan berusaha untuk tidur . Besok malamnya , aku lebih di buatnya kesal , sudah jam 10.00 malam Adit belum pulang . Aku duduk di ruang makan , sambil menantinya . Berkali kali aku mengebel hp , dia jawab ,? lagi jalan pulang..? .

Jam 10.30 dia baru pulang bersama Rokan . Wajahku masam , ? hi , mami ?koq di sini , lagi mau makan ya..? sapa suamiku . Aku diam saja . Rokan hanya tersenyum , lalu dia berjalan masuk ke kamarnya)

Suamiku ikut duduk di meja makan itu , ada pertengkaran kecil yang terjadi . Aku protes , karena suamiku terlalu sibuk bekerja . Tapi toh aku harus mengalah lagi . Adit , dengan cepat menciumku , minta maaf , karena dia belakangan ini begitu sibuk dengan proyeknya .

Dan yang lebih gila Adit , membuka bajuku di ruang makan itu . ? jangan di sini dong pi , nanti si Rokan keluar gimana ..? kataku . ? tenang aja dia sudah kecapean , tadi aja dia tertidur di mobil kata suamiku , sambil tangannya meremas buah dadaku . Aku jadi terangsang , memang suasana jadi lain . Sudah seminggu lebih aku tak di sentuhnya , dan sekarang Adit ingin bercinta di ruang makan .Adit mendudukkan ku di atas meja makan , lalu dia mulai menjilati putting susuku .
Lidah Adit pun dengan nafsu menjilati putting susuku . Aku menhan desahku . Lidahnya terus menyedot nyedot putting susuku . Birahiku saat itu naik tinggi , vaginaku rasanya sudah becek sekali . Dengan segera , Adit menarik celana dalamku , Lalu dia jongkok , kepalanya tepat derada di selangkanganku , lalu mulai menjilati vaginaku . Desahku tak tertahan lagi ? ahhh?. Ahh?..? .

Saat itu , tiba tiba Rokan muncul . dia berada kira kira lima meter di depanku . Sedang Adit , menghadap ke tubuhku , jadi dia tak tahu Rokan ada di belangkang , berdiri tertegun melihat permainana kita . Aku diam tak bergerak , sedang suamiku masih asik menjilati vaginaku .

Rokan segera berlalu . Aku hanya diam, merasa tak enak , karena malu .Tapi lidah Adit terus saja mengelitik klitorisku , membuatku benar benar tak tahan . Aku mendesah lagi .

Aku terus di bawa Adit ke puncak kenikmatanku . ? ahhh..pi? ahh papi enak ? enak?? erangku. Tak beberapa saat kemudian , aku pun bergejet , aku orgasme , sambil mencengkram erat pundak suamiku . Lagi lagi aku melihat Rokan , yang berdiri di tempat yang sama dihadapanku .
Aku tak bisa berkata kata , aku ingin menyudahi permainan ini , tapi entah apa yang terjadi aku hanya diam saja . Lalu Adit pun melepas celananya , dan penisnya mulai masuk ke vaginaku . ? ahhh..papi? papi?? erangku . Adit pun langsung memompaku , sambil bibirnya menciumi bibirku dengan nafsu .

Aku masih melihat Rokan yang berdiri dari jauh , aku tak bisa berbuat apa apa , dia menonton permainan kami . Aku pun hanya diam , pura pura tak tahu sedang di intip .
Malah sepertinya aku menjadi tambah bergairah , main dengan di tontonin pria lain .
Adit terus saja mengesek penisnya , di dalam vaginaku . Lagi lagi aku tak tahan di buat suamiku . Aku mengejang lagi dan mendesah panjang .? ahhh?keluar?..aku keluar..? erangku .
Adit diam sebentar , saat itu aku masih melihat Rokan berdiri terpaku . Adit pun kembali bergoyang , dan penisnya mengesek vaginaku lagi . Sampai Adit ejakulasi , hangatnya spermanya aku rasakan di liang vaginaku . Adit melepas penisnya dari liang vaginaku , saat itu Rokan melihat seluruh tubuhku , dangan kaki terbuka lebar , duduk di atas meja .

Setelah beberapa detik , Rokan menghilang , masuk ke dalam kamarnya . Aku tak tahu Adit sadar, atau tidak , Rokan mengintip permainan kami . Tapi yang jelas aku tahu Rokan mengintipku .

Esok harinya , sewaktu sarapan pagi , aku melihat Rokan yang cengar cingir melihatku , sebel rasanya . Tapi yang jelas Rokan menjadi semakin berani , dalam menatap liar lekuk tubuhku . Saat Adit sedang berjalan ke lemari es , untuk mengambil juice jeruk , sengaja , aku menurunkan gaun tidurku sehingga buah dadaku hampir terlihat .? biar rasa loe , ngaceng sendiri ? ujarku dalam hati

Setelah kejadian itu Rokan lebih sering memperhatikan tiap lekuk tubuhku. Dan entah mengapa , aku pun tak merasa malu lagi , malah aku merasa bangga setiap kali melihat Rokan terkesima , tertegun melihat tubuhku .

Pernah malam itu aku duduk sendiri di ruang tamu , sambil membaca majalah , sedang Adit dan Rokan berada di ruang kerja suamiku .
Aku memperhatikan sudah dua kali Rokan bolak balik ke dapur , yang melewati ruang tamu , di mana aku sedang membaca buku . Saat itu aku memang memakai gaun tidurku yang sexy .

Setiap kali Rokan kedapur , dia pasti berhenti beberapa saat menatapku , yang sedang membaca buku . Aku tahu dia menatap tubuhku , tapi aku pura pura tak tahu . Pada saat dia lewat yang ke tiga kali , aku sengaja duduk dengan kaki yang aku buka lebar sedikit , sehingga celana dalamku terlihat jelas . Rokan benar benar tertegun , dia dia beberapa saat .

? Rokan ada apa?? tanyaku , tiba tiba , dan merapatkan ke dua kakiku . ? eh ? anu ? eh saya mau ambil air ..? katanya , dengan grogi . Lalu Rokan segera berlalu dari hadapanku .
Aku tersenyum geli . Saat itu aku benar benar senang , mengerjainya . Tapi entah kenapa , aku juga jadi bergairah .

Jam sudah menunjukan pukul 11.00 malam , aku beranjak dari ruang tamu , lalu menuju kamar kerja suamiku . ? pi , sudah jam sebelas , ayo tidur ..? ajakku . ? sebentar lagi mi , lagi tanggung nih ..? jawab Adit , sambil menekan nekan tombol kalkulatornya . Aku sebel banget , merasa di cuekin seperti itu , lalu aku berjalan ke kamarku dan berbaring , berusaha untuk tidur .

Seperti biasanya pagi itu kami sarapan pagi , Hanya saja Rokan terlihat , tak bersemangat pagi itu . Adit pun menyadarinya , lalu dia menegur Rokan . ? kamu kenapa Rokan , sepertinya tak semangat ..? . ? ah engak koq , cuma kepalaku agak pening..? jawab Rokan .
? oh , kalau gitu biar saya ambilkan obat ..? kata Adit , tapi Rokan segera menyela ? tak usah , saya sudah minum obat tadi ..? kata Rokan .
? oke deh kalau gitu , hari ini kamu tak usah ke kantor , kamu istirahat saja ..? kata suamiku . ? oh gak usah , nanti juga sembuh koq?? jawab Rokan . Aku hanya diam saja , menikmati sarapanku .



Dan akhirnya mereka pamit padaku , mereka pun berangkat ke kantor . Aku masih duduk di ruang makan . Siang ini memang aku berencana mau ke mall , bersama temanku . Tapi aku rasanya masih malas untuk bersiap . Selang setengah jam kemudian , aku pun berjalan ke kamarku .

Aku melepas gaun tidurku , lalu bercermin , sambil melihat tubuhku sendiri . Aku memuji betapa cantik dan sexy diriku . Buah dadaku yang berisi , tak terlalu besar , juga tak terlalu kecil . Pahaku yang putih mulus .? hmmm , tak heran si Rokan nafsu melihat tubuhku ?ujarku dalam hati .

Tanpa aku sadari ,Rokan berdiri di belakangku . ? cantik dan sexy , sudah jangan ngaca terus..? katanya . Secara reflek aku menutup kedua buah dadaku dengan tanganku , tapi mata Rokan menatap selangkanganku yang terbungkus celana dalam miniku . ? Rokan , jangan kurang ajar gitu , cepat keluar ..? kataku . ? Reni , jangan gitu dong , aku kan sudah pernah lihat tubuh kamu seluruhnya koq pake di tutupi segala sih ..? ujar Rokan .
Aku bergegas hendak masuk ke kamar mandiku , tapi tangan Rokan segera mencekal tanganku , lalu tubuhku di peluknya erat , lalu dia menciumi bibirku dengan nafsu . Aku meronta ronta . ? uff?ughh ? Rokan , ingat aku ini istri teman kamu ..? kataKu . Tapi Rokan seakan tak peduli , dia malah menarikku ke ranjangku , dan mengagahiku di atas ranjang tidur suamiku sendiri .

Buah dadaku di remasnya dan lidahnya menjilati putting susuku . Aku meronta , ? rokan tolong hentikan ..tolong..? kataku . Tapi Rokan benar benar tak peduli , dia tak menghentikan , malah tangannya pun meraba raba selangkangan celana dalamku . Aku tak memungkiri , saat itu aku juga menjadi birahi , entah karena apa , mungkin sudah beberapa hari ini aku tak di sentuh Adit .

Lidah Rokan terus aktif menjilati putting susuku yang semakin mengeras , menonjol itu . Jarinya dengan lembut mengelitik klitorisku , yang berada di balik celana dalam miniku . Aku mendesah , tapi aku terus menolaknya ? ashhh..Rokan ..Rokan..hentikan tolong? ? . Tapi semua yang aku katakan hanya membuat Rokan semakin agresive . Dan jujur aku uga sangat terangsang dengan permainannya.

Puas dengan menjilati puting susuku , kepala terus turun mengarah ke selangkanganku . Rokan membuak lebar ke dua kakiku , saat itu aku sama sekali tak melawan . Hidung Rokan pun mengendus endus selangkangan celana dalamku . Aku merasa malu , karena saat itu vagianku sudah begitu basah , aku memang tipe cewek , yang over wet .

Tak beberapa lama , jari Rokan menguak celana dalamku ke samping . Kulihat mata Rokan menatap nafsu vagianku , dengan sedikit bulu bulu itu . Lidah Rokan pun menjilati klitorisku yang sudah membesar menonjol itu . Rasa geli nikmat menjalar ke seluruh tubuhku . Aku bagai ke setrum . Memang Adit pun sering menjilati vaginaku , tapi entah kenapa saat Rokan menjilati vaginaku aku merasa sensasi yang lain .
Aku mendesah desah , aku benar benar di kuasainya sekarang ini . Tubuhku mengeliat geliat , seperti ular terkena garam . Lidah Rokan terus menjilati klitorisku dengan lembut . Liang vagianku merekah , dan basah sekali , siap untuk penetrasi . Desah desah erotisku semakin membuat Rokan menjadi , lidahnya terus menjilati klitorisku dengan nafsu , aku benar benar di buatnya tak tahan .

.... ahhhs...Rokan ..sudah..sudah?.? erangku . Saat itu aku benar benar sudah tak tahan , aku orgasme , tubuhku mengejang , dan aku mendesah panjang. ... ahhhh!!!. Rokan??ahh...." erangku . Rokan tersenyum , dan dia menghentikan kegiatannya , tubuhku mengejet beberapa kali .

Lalu Rokan melepas celana dalamku , aku hanya diam pasrah , kini tubuhku sudah telanjang , total . Rokan pun melepas pakaiannya , mulai dari kemejanya , celananya juga kolornya . Aku melihat betapa gagah tubuh , dengan warna kulit gelap itu . Tubuh Rokan begitu atletis , memang menarik untuk di pandang . Juga penisnya yang tegak dan besar . Lebih besar dari milik Adit .
Rokan mendekati penisnya ke mulutku dia minta di oral , tapi aku menolaknya.".. tidak Rokan , tidak ..? ujarku , walau sebenarnya , aku juga ingin mengulumnya . Rokan tak memaksa , lalu dia mulai melebarkan ke dua kakiu , dan penisnya tepat di depan liang vaginaku .
? Rokan , tolong , jangan lakukan ini , aku takut .. aku takut sama Adit?jangan?? ujarku .
Rokan hanya tersenyum , jangan takut , aku siap menjadi suami kamu ..? .

Yang kurasa selanjutnya , liang vaginaku terasa penuh sesak . Penis besar milik Rokan , mulai mengisi liang vagianku . Aku merasa sakit , aku mengaduh.Rokan..aghh..sakit?..?.
Rokan pun bergerak pelan , menekan masuk penisnya , lalu perlahan menariknya keluar . Aku bisa mereasakan urat urat penisnya mengesek dinding vaginaku . Rasa sakit yang kurasakan sirna setelah beberapa saat , penis besar itu bergerak pelan di dalam vaginaku .
Kini aku merasakan nikmat penis besar milik Rokan itu .
... ashhh.ahh.. Rokan ?? erangku , tanganku mencengkram kuat pinggangnya . Dan Rokan terus bergerak , menekan penisnya hingga mentok dalam vaginaku . mendorong dan menarik , dalam ritme yang pas , membuat birahiku kembali menggebu gebu .
Aku benar benar dibuatnya nikmat , belum lepas sepuluh menit , aku pun sudah tak bisa menahan birahiku . Aku menjerit kecil , sambil memeluk pinggangnya , dan menahan gerakkan Rokan ," Rokan...ahhh... aku gak tahan?aku keluar?? .

Rokan mencium bibirku , aku pun lupa dengan suamiku , saat itu pikiranku blank , aku seperti seorang wanita singel yang haus akan sex . Aku membalas lumatan Rokan , dengan nafsu , lidah aku dan Rokan saling memilit . Dan Rokan terus bergerak pelan , penisnya terus memberi nikmat pada vaginaku .
Tubuhku terus mengejet , setiap penis Rokan menekan hingga mentok dalam liang vaginaku. Aku benar benar birahi , tak sampai beberapa menit kemudian , aku pun orgasme kembali . Aku menjerit , penuh kenikmatan .

Hingga tiga kali aku orgasme , baru Rokan melepas seluruh spermanya dalam liang vaginaku . ? ohh....Reni ..aku keluar" , begitu erang Rokan . Setelah Rokan melepas sperma di dalam liang vaginaku , Rokan tetap membenamkan penisnya dalam liang vaginaku , aku bisa merasakan dengan jelas , denyut denyut penis besarnya itu .

Hingga penisnya makin mengecil , Rokan pun menarik keluar penisnya dengan perlahan , di ikuti spermanya yang kental dan banyak itu . Aku mendorong tubuhnya , lalu aku lari ke kamar mandiku , aku mengunci pintu kamar mandiku , dan duduk di atas kloset . Aku menatap wajahku di cermin besar yang tergantung di dinding .

Aku merasa bersalah terhadap Adit , Aku telah mencurangi suamiku , yang begitu menyayangiku . . Tapi di lain pihak , aku merasa begitu nikmat bermain sex dengan Rokan. Empat tahun , aku menikah dengan Adit , baru kali ini aku merasakan permainan sex yang berbeda .
Hampir setengah jam aku melamun duduk di atas toilet itu . Aku benar benar takut , aku takut Adit mengetahui semua ini . Aku takut , vaginaku menjadi longgar , karena penis Rokan lebih besar darinya . Pikiran itu begitu menghantui aku . Akhirnya aku beranjak , dan aku mandi dalam siraman air hangat dari shower . Aku mencuci seluruh tubuhku , membasuh vaginaku sebersih bersihnya .



Selesai itu , aku keluar , dan aku tak melihat Rokan , di kamarku , aku bergegas , mengunci pintu kamar tidurku . Aku pun berpakaian . Setelah rapi , aku keluar kamar . Dan aku tak menemukan Rokan.Aku duduk di ruang tamu , masih terbengong , aku tak bisa berpikir jernih , dengan apa yang baru aku alami . Aku di perkosa , tapi aku juga menikmati , aku tak tahu apa yang harus aku lakukan .

Tiba tiba hpku berbunyi , jantung berdegup , lalu aku menatap layar hpku , rupanya dari Fitri, temanku . " eh Reni , jadikan , kita pergi .... ".." aduh , kayaknya gak bisa deh , aku lagi pusing nih .." kataku menolaknya . ? ahh..gitu deh , gak bisa , aku jemput sekarang ." kata Fitri . Aku pun diam saja . Dan akirnya pergi dengan Fitri. Dalam perjalanan aku merenung , Fitri pun , bertanya :" ada sih si Reni , kamu lagi ribut yah sama Adit ? ? . Aku menggeleng .. enggak koq , cuma lagi pusing .." kataku. " aku tahu , pusing gak gituan yah sama Adit.." katanya mengejek . Aku mencubitnya ".. ih kamu jorok ..".

Aku dan Fitri memang sudah berteman lama , sejak kuliah dulu . Boleh di bilang Fitri sudah seperti adikku sendiri. Dia juga sudah bersuami , dan suami juga mapan . Aku dan Fitri selalu terbuka , kita sering curhat dalam segala hal .Tapi kali ini aku tak sangup menceritakan hal itu kepadanya .
" Sis , tahu gak sih , kira kira , kalau kita main sama cowok yang penisnya besar , vagina kita akan longgar gak yah..? tanyaku tiba tiba .
Fitri menatapku , sambil bengong " maksud kamu apa sih ? ? . " yah maksud aku , kalau kita main sama cowok penisnya gede , terus vagina kita jadi longgar gak , suami kita nanti berasa longgar gak ..? kataku .
Fitri tertawa " ha ha ha , kamu mau selingkuh sama cowok arab ..yah.." .
Aku mencubitnya lagi . " kamu nih , orang tanya malah di ketawain.." . Fitri pun tertawa lagi " kamu aneh banget si Reni , koq tanya yang kayak gitu " .
" bukan, aku hanya penasaran aja , kalau di filem bokep bule itu kan... " Reni .. Reni , pertanyaan kamu itu seperti orang dodol deh , vagina cewek itu elastis , kayak karet , walau di masukin penis besar , vagina akan kembali lagi seperti semula , kecuali ototnya udah pada kendor ..? jawab Fitri menerangkan . penisnya gede gede , apa vagina tuh cewek gak pada longgar yah..? kataku .
Aku diem saja , berpikir , mungkin benar juga apa yang di katakan Fitri , otakku memang lagi error , gak bisa mikir rasional , aku benar benar takut Adit tahu kejadian tadi itu .
" Reni , kita kan sering senam, maka vagina kita kan selalu rapat , itu kerena otot otot vagina kita terlatih , buktinya Adit gak pernah ngeluhkan ?? kata Fitri lagi . Aku mengeleng " engak sih , malah Adit selalu memuji tubuh ku .." .
" nah itu lah , tapi kenapa sih kamu tadi tanya kayak gitu ? ? tanya Fitri lagi ." engak apa apa , aku cuma penasaran lihat film bokep "jawabku .
Fitri tersenyum " he he he aku pikir kamu selingkuh..? " gila kamu yah ?? jawabku .
" loh koq gila , wajar aja kalau mau selingkuh , asal gak ke tahuan aja" kata Fitri seenaknya . " nah , ketahuan yah , kamu pernah selingkuh yah ?? kataku , meyerang balik . Fitri menatapku" kamu gila yah ?.? . Kami berdua pun tertawa terkekeh kekeh .

Malam harinya aku menjadi paranoid , aku ketakutan sendiri . Tapi Rokan bersikap seakan akan tak terjadi apa apa . Di meja makan , saat kami makan malam besama , sikapnya cuek saja . Dia bercanda dengan suamiku seperti biasa ." kamu kenapa sayang , apa gak enak badan? ? tanya Adit . " ah enggak , enggak apa apa .." jawabku . " masuk angin kali .." kata Rokan menimpali . Aku hanya tersenyum . Setelah makan , aku berlalu , masuk ke kamar tidurku . Aku berbaring diam , mataku menetap langit langit kamarku . Aku tak tahu , apa yang di lakukan dua cowok di depan itu . Mungkin mereka membicarakan bisnisnya .

Tak beberapa lama Adit masuk ke dalam kamar . Dia tersenyum , aku semakin parno di buatnya .
"eh , papi gak sama Rokan " tanyaku .
" ah engak , aku mau bobo saja sama kamu.."kata suamiku . Aku benar benar semakin takut . aku benar benar merasa tak enak .

Suamiku langsung berbaring si sampingku , aku berharap dia langsung tidur . Tapi tidak dia menciumi bibirku , dan mau tak mau aku melayani ciumannya . Tangannya pun mereba raba buah dadaku , memancing birahiku . Tapi aku menjadi seperti es , aku tak bergairah , rasa takut masih menghantui diriku . Satu persatu pakaianku lepas , hingga bugil , dan Adit pun membuka pakaiannya sendiri. Kami sudah bugil total , biasanya saat seperti ini vaginaku sudah basah total , tapi kali ini aku benar benar tak ada gairah , vaginaku menjadi kering .

Saat suamiku meraba vaginaku , dia menatap wajahku " kamu kenapa mi , koq gak bergairah , ada apa..? tanya suamiku . " ah gak apa apa koq..? kataku , lalu aku menarik pundaknya dan menciumi bibir Adit . aku berusaha membangkitkan gairahku sendiri .
Setelah itu , aku membasahi vaginaku dengan air liurku sendiri , dan Adit tak mengetahui itu . Adit berpikir aku telah terangsang , dan Dia pun melakukan penetrasi.
Aku memejamkan mata , berharap Adit tak tahu apa yang telah terjadi siang itu . Adit pun mulai bergoyang , dia tampak seperti biasanya .

Adit mendesah desah " oh enak sekali sayang.." erangnya . Aku mulai tenang , birahiku bangkit , aku mendesah desah juga . Adit terus menggoyang penisnya dalam vaginaku . Tapi aku merasakan perbedaan . Kalau tadi waktu sama Rokan , penisnya terasa menyesaki liang vaginaku , tapi dengan Adit , aku merasa biasa saja. Adit terus bergerak , maju mundur , nafasnya terengah engah . " ohh ohh.." erangnya . Aku pun mendesah desah , aku mulai merasa nikmat . Perasaan takut ketahuan dalam diriku pun mulai sirna . Adit tak mengetahuinya , dia terus menggoyang penisnya merasa nikmat dengan vaginaku .

Sepuluh menit kemudian Adit , orgasme " ahh... enak banget" erangnya . Aku kembali menciumi bibirnya . Kami terus berciuman . Aku merasakan hangatnya sperma Adit , membasahi laing vaginaku . kami terus berpelukan , hingga tertidur .

 

AFFAIR DENGAN TEMAN SUAMI


 


Sebut saja nama ku Reni, wanita umur 38 thn dan orang-orang bilang bentuk tubuhku amatlah proposional, tinggi 170 cm berat 55kg dan ukuran buah dada 34B, ditunjang wajah cantik (itu juga orang-orang yang bilang) dan kulit putih cerah. Sebelumnya aku memang sering bekerja menjadi SPG pada pameran mobil dan banyak orang mengelilingi mobil yang aku pamerkan bukan utk melihat mobil tetapi untuk melihatku.

Menikah dengan Adit, 30 thn, seorang pekerja sukses. Kami memang sepakat utk tidak punya anak terlebih dahulu dan kehidupan seks kami baik-baik saja, Adit dapat memenuhi kebutuhan seks ku yang boleh dibilang agak hyper..sehari bisa minta 2 sesi pagi sebelum Adit berangkat kerja dan malam sebelum tidur.
Dan cerita ini berawal dari kesuksesan Adit bekerja di kantornya dan mendapat kepercayaan dari sang atasan yang sangat baik. Kepercayaan ini membuat dia sering harus bekerja overtime, pada awalnya aku bisa menerima semua itu tetapi kelamaan kebutuhan ini harus dipenuhi juga dan itulah yang membuat kami sering bertengkar karena kadang Adit harus berangkat lebih pagi dan lewat tengah malam baru pulang.
Dan mulailah cerita ini ketika Adit mendapat tanggung jawab untuk menangani suatu proyek dan dia dibantu oleh rekan kerjanya Wahyu dari luar kota. Pertama diperkenalkan Wahyu langsung seperti terkesima dan sering menatapku, hal itu membuatku risih. Wahyu cukup tampan gagah dan kekar.
Karena tuntutan pekerjaan dan efisiensi, kantor Adit memutuskan agar Wahyu tinggal di rumah kami utk sementara. Dan memang mereka berdua sering bekerja hingga larut malam di rumah kami. Wahyu tidur di kamar persis di seberang kamar kami.
Sering di malam hari aku berpamitan tidur matanya yang nakal suka mencuri pandang diantara sela-sela baju tidur yang aku kenakan. Aku memang senang tidur bertelanjang agar jika Adit datang bisa langsung bercinta.
Pernah suatu saat ketika pagi hari kami aku dan Adit bercinta di dapur waktu masih pagi sekali dengan posisiku duduk di meja dan Adit dari depan, tiba-tiba Wahyu muncul dan melihat kami, dia menempelkan telunjuk dimulutnya agar aku tidak menghentikan kegiatan kami, karena kami sedang dalam puncaknya dan Adit yang membelakangi Wahyu dan aku juga tidak tega menghentikan Adit, akhirnya ku biarkan Wahyu melihat kami bercinta tanpa Adit sadari hingga kami berdua orgasme. Dan aku tahu Wahyu melihat tubuh telanjangku ketika Adit melepaskan penisnya dan terjongkok di bawah meja.
Setelah kejadian itu Wahyu lebih sering memperhatikan tiap lekuk tubuhku.
Sampai suatu waktu ketika pekerjaan Adit benar2 sibuk sehingga hampir seminggu tidak menyentuhku. Di hari Jum’at kantor tempat Adit bekerja mengadakan pesta dinner bersama di rumah atasan Adit . Rumahnya terdiri dari dua lantai yang sangat mewah di lantai 2 ada semacam galeri barang2 antik.
Kami datang bertiga dan malam itu aku mengenakan pakaian yang sangat seksi, gaun malam warna merah yang terbuka di bagian belakang dan hanya dikaitkan di belakang leher oleh kaitan kecil sehingga tidak memungkinkan memakai BH, bagian bawahpun terdapat sobekan panjang hingga sejengkal di atas lutut, malam itu saya merasa sangat seksi dan Wahyu pun sempat terpana melihatku keluar dari kamar. Sebelum berangkat aku dan Adit sempat bercinta di kamar dan tanpa sepengetahuan kami ternya Wahyu mengintip lewat pintu yang memang kami ceroboh tidak tertutup sehingga menyisakan celah yang cukup untu melihat kami dari pantulan cermin, sayangnya karena letih atau terburu-buru mau pergi Adit orgasme terlebih dahulu dan aku dibiarkannya tertahan. Dan Wahyu mengetahui hal itu.
Malam itu ketika acara sangat ramai tiba-tiba Adit dipanggil oleh atasannya untuk diperkenalkan oleh customer. Adit berkata padaku untuk menunggu sebentar, sambil menunggu aku ke lantai 2 untuk melihat barang2 antik, di lantai 2 ternyata keadaan cukup sepi hanya 2-3 orang yang melihat-lihat di ruangan yang besar itu. Aku sangat tertarik oleh sebuah cermin besar di pojokan ruangan, tanpa takut aku melihat ke sana dan mengaguminya juga sekaligus mengagumi keseksian tubuhku di depan cermin, tanpa ku sadari di sampingku sudah berada Wahyu .
“Udah nanti kacanya pecah lho..cakep deh..!”, canda Wahyu
“Ah bisa aja kamu Wahyu”,balasku tersipu.
Setelah berbincang2 di depan cermin cukup lama Wahyu meminta tolong dipegangkan gelasnya sehingga kedua tanganku memegang gelasnya dan gelasku.
“Aku bisa membuat kamu tampak lebih seksi”,katanya sambil langsung memegang rambutku yang tergerai dengan sangat lembut. Tanpa bisa mengelak dia telah menggulung rambutku sehingga menampak leherku yang jenjang dan mulus dan terus terang aku seperti terpesona oleh keadaan diriku yang seperti itu. dan memang benar aku terlihat lebih seksi.
Dan saat terpesona itu tiba-tiba tangan Wahyu meraba leherku dan membuatku geli dan detik berikutnya Wahyu telah menempelkan bibirnya di leher belakangku, daerah yang paling sensitif buatku sehingga aku lemas dan masih dengan memegang gelas Wahyu yang telah menyudutkanku di dinding dan menciumi leherku dari depan. “Wahyu apa yang kamu lakukan..lepaskan aku Wahyu..lepas..!”,rontaku tapi Wahyu tahu aku tidak akan berteriak di suasana ini karena akan mempermalukan semua orang.
Wahyu terus menyerangku dengan kedua tanganku memegang gelas dia bebas meraba buah dadaku dari luar dan terus menciumi leherku, sambil meronta-ronta aku merasakan gairahku meningkat, apalagi saat tiba-tiba tangan Wahyu mulai meraba belahan bawah gaunku hingga ke selangkanganku. “Wahyu..hentikan Wahyu aku mohon..tolong Wahyu..jangan lakukan itu..”,rintihku, tapi Wahyu terus menyerang dan jari tengah tangannya sampai di bibir vaginaku yang ternyata telah basah karena serangan itu. Dia menyadari kalau aku hanya mengenakan G-string hitam dengan kaitan di pinggirnya, lalu dengan sekali sentakan dia menariknya dan terlepaslah G-stringku. Aku terpekik pelan apalagi merasakan ada benda keras mengganjal pahaku. Ketika Wahyu sudah semakin liar dan akupun tidak dapat melepaskan, tiba-tiba terdengar suara Adit memanggil dari pinggir tangga yang membuat pegangan himpitan Wahyu terlepas, lalu aku langsung lari sambil merapikan pakaian ku menuju Adit yang tidak melihat kami dan meninggalkan Wahyu dengan G-string hitamku.
Aku sungguh terkejut dengan kejadian itu tapi tanpa disadari aku merasakan gairah yang cukup tinggi merasakan tantangan melakukan di tempat umum walau dalam kategori diperkosa.
Ternyata pesta malam itu berlangsung hingga larut malam dan Adit mengatakan dia harus melakukan meeting dengan customer dan atasannya dan dia memutuskan aku untuk pulang bersama Wahyu. Tanpa bisa menolak akhirnya malam itu aku diantar Wahyu, diperjalanan dia hanya mengakatakan “Maaf Reni..kamu sungguh cantik malam ini.” Sepanjang jalan kami tidak berbicara apaun. Hingga sampai dirumah aku langsung masuk ke dalam kamar dan menelungkupkan diri di kasur, aku merasakan hal yang aneh antara malu aku baru saja mengalami perkosaan kecil dan perasaan malu mengakui bahwa aku terangsang hebat oleh serangan itu dan masih menyisakan gairah. Tanpa sadar ternyata Wahyu telah mengunci semua pintu dan masuk ke dalam kamarku, aku terkejut ketika mendengar suaranya’, “Reni aku ingin mengembalikan ini”‘ katanya sambil menyerahkan G-stringku berdiri dengan celana pendek saja, dengan berdiri aku ambil G-stringku dengan cepat, tapi saat itu juga Wahyu telah menyergapku lagi dan langsung menciumiku sambil langsung menarik kaitan gaun malamku, maka bugilah aku diahadapannya. Tanpa menunggu banyak waktu aku langsung dijatuhkan di tempat tidur dan dia langsung menindihku. Aku meronta-ronta sambil menendang-nendang?”Wahyu..lepaskan aku Wahyu..ingat kau teman suamiku Wahyu..jangan..ahh..aku mohon”, erangku ditengah rasa bingung antara nafsu dan malu, tapi Wahyu terus menekan hingga aku berteriak saat penisnya menyeruak masuk ke dalam vaginaku, ternyata dia sudah siap dengan hanya memakai celana pendek saja tanpa celana dalam.
“Ahhhh?Braam..kau..:’ Lalu mulailah dia memompaku dan lepaslah perlawananku, akhirnya aku hanya menutup mata dan menangis pelan..clok..clok..clok..aku mendengar suara penisnya yang besar keluar masuk di dalam vaginaku yang sudah sangat basah hingga memudahkan penisnya bergerak. Lama sekali dia memompaku dan aku hanya terbaring mendengar desah nafasnya di telingaku, tak berdaya walau dalam hati menikmatinya. Sampai kurang lebih satu jam aku akhirnya melenguh panjang “Ahhh?..” ternyata aku orgasme terlebih dahulu, sungguh aku sangat malu mengalami perkosaan yang aku nikmati. Sepuluh menit kemudian Wahyu mempercepat pompaannya lalu terdengar suara Wahyu di telingaku “Ahhh..hmmfff?” aku merasakan vaginaku penuh dengan cairan kental dan hangat sekitar tiga puluh deti kemudian Wahyu terkulai di atasku.
“Maaf Reni aku tak kuasa menahan nafsuku..”bisiknya pelan lalu berdiri dan meninggalkanku terbaring dan menerawang. hinga tertidur Aku tak tahu jam berapa Adit pulang hingga pagi harinya.
Esok paginya di hari sabtu seperti biasa aku berenang di kolam renang belakang,, Adit dan Wahyu berpamitan untuk nerangkat ke kantor. Karena tak ada seorang pun aku memberanikan diri untuk berenang tanpa pakaian. Saat asiknya berenang tanpa disadari, Wahyu ternyata beralasan tidak enak badan dan kembali pulang, karena Adit sangat mempercayainya maka dia izinkan Wahyu pulang sendiri. Wahyu masuk dengan kunci milik Adit dan melihat aku sedang berenang tanpa pakaian. Lalu dia bergerak ke kolam renag dan melepaskan seluruh pakaiannya, saat itulah aku sadari kedatangannya, “Wahyu..kenapa kau ada di sini?” tanyaku, “Tenang Reni suaimu ada di kantor sedang sibuk dengan pekerjaannya”, aku melihat tubuhnya yang kekar dan penisnya yang besar mengangguk angguk saat dia berjalan telanjang masuk ke dalam kolam “Pantas sajaku semalam vaginaku terasa penuh sekali”‘pikirku. Aku buru-buru berenang menjauh tetai tidak berani keluar dr dalam kolam karena tidak mengenakan pakaian apapun juga. Saat aku bersandar di pingiran sisi lain kolam, aku tidak melihat ada tanda2 Wahyu di dalam kolam. Aku mencari ke sekeliling kolam dan tiba-tiba aku merasakan vaginaku hangat sekali, ternyata Wahyu ada di bawah air dan sedang menjilati vaginaku sambil memegang kedua kakiku tanpa bisa meronta.
Akhirnya aku hanya bisa merasakan lidahnya merayapai seluruh sisi vaginaku dan memasuki liang senggamaku..aku hanya menggigit bibir menahan gairah yang masih bergelora dari semalam. Cukup lama dia mengerjai vaginaku, nafasnya kuat sekali pikirku. Detik berikutnya yang aku tahu dia telah berada di depanku dan penisnya yang besar telah meneyruak menggantian lidahnya? “Arrgghh..” erangku menahan nikmat yang sudah seminggu ini tidak tersentuh oleh Adit. Akhirnya aku membiarkan dia memperkosaku kembali dengan berdiri di dalam kolam renang. Sekarang aku hanya memeluknya saja dan membiarkan dia menjilati buah dadaku sambil terus memasukan penisnya keluar masuk. Bahkan saat dia tarik aku ke luar kolam aku hanya menurutinya saja, gila aku mulai menikamti perkosaan ini, pikirku, tapi ternyata gairahku telah menutupi kenyataan bahwa aku sedang diperkosa oleh teman suamiku. Dan di pinggir kolam dia membaringkanku lalu mulai menyetubuhi kembai tubuh mulusku..”Kau sangat cantik dan seksi Reni..ahh” bisiknya ditelingaku.
Aku hanya memejamkan mata berpura-pura tidak menikmatinya, padahal kalau aku jujur aku sangat ingin memeluk dan menggoyangkan pantatku mengimbangi goyangan liarnya. Hanya suara eranggannya dan suara penisnya maju mundur di dalam vaginaku, clok..clok..clep..dia tahu bahwa aku sudah berada dalam kekuasaannya. Beberapa saat kemudian kembali aku yang mengalami orgasme diawali eranganku “Ahhh..” aku menggigit keras bibirku sambil memegang keras pinggiran kolam, “Nikmati sayang?”demikian bisiknya menyadari aku mengalami orgasme. Sebentar kemudian Wahyu lah yang berteriak panjang, “Kau hebat Reni..aku cinta kau..AAHHH..HHH” dan aku merasakan semburan kuat di dalam vaginaku. Gila hebat sekali dia bisa membuatku menikmatinya pikirku. Setelah dia mencabut penisnya yang masih terasa besar dan keras, aku reflek menamparnya dan memalingkan wajahku darinya. Aku tak tahu apakah tamparan itu berarti kekesalanku padanya atau karena dia mencabut penisnya dari vaginaku yang masih lapar.
Setelah Adit pulang herannya aku tidak menceritakan kejadian malam lalu dan pagi tadi, aku berharap Adit dapat memberikan kepuasan padaku. Dengan hanya menggenakan kimono dengan tali depan aku dekati Adit yang masih asik di depan komputernya di dalam kamar, lalu aku buka tali kimonoku dan kugesekan buah dadaku yang besar itu ke kepalanya dari belakang, berharap da berbalik dan menyerangku. Ternyta yang kudapatkan adalah bentakannya “Reni..apakah kamu tak bisa melihat kalau aku sedang sibuk? Jangan kau ganggu aku dulu..ini untuk masa depan kita” teriaknya keras. Aku yakin Wahyu juga mendengar teriakannya. Aku terkejut dan menangis, lalu aku keluar kamar dengan membanting pintu, lalu aku pergi ke pinggir kolam dan duduk di sana merenung dan menahan nafsu. Dari kolam aku bisa melihat bayangan di Adit di depan komputer dan lampu di kamar Wahyu. Tampak samar-samar Wahyu keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Karena di luar gelap tak mungkin dia melihatku.
Tanpa sadar aku mendekat ke jendelanya dan memperhatikan Wahyu mengeringkan tubuh. Gila kekar sekali tubuhnya dan yang menarik perhatianku adalah penisnya yang besar dan tegang mengangguk-angguk bergoyang sekanan memanggilku. Aku malu sekali mengagumi dan mengaharapkan kembali penis itu masuk ke dalam vaginaku yang memang masih haus. Perlahan aku membelai-belai vaginaku hingga terasa basah, akhirnya aku memutuskan untuk memintanya pada Wahyu, dengan hati yang berdebar kencang dan nafsu yang sudah menutupi kesadaran, aku nekat masuk ke dalam kamar Wahyu dan langsung mengunci pintu dari dalam. Wahyu sangat terkejut “Reni..apa yang kamu lakukan?”, aku hanya menempelkan telunjuk di bibirku dan memberi isyarat agar tidak bersuara karena Adit ada di kamar seberang.
Langsung aku membuka pakaian tidurku dan terpampanglah tubuh putih mulusku tanpa sehelai benagpun di hadapannya, Wahyu hanya terperangah dan menatap kagum pada tubuhku. Wahyu tersenyum sambil memperlihatkan penisnya yang semakin membesar dan tampak berotot. Dengan segera aku langsung berlutut di hadapannya dan mengulum penisnya, Wahyu yang masih terkejut dengan kejadian ini hanya mendesah perlahan merasakan penisnya aku kulum dan hisap dengan nafsuku yang sudah memuncak.
Sambil mulutku tetap di dalam penisnya aku perlahan naik ke atas tempat tidur dan menempatkan vaginaku di mulut Wahyu yang sudah terbaring, dia mengerti maksudku dan langsung saja lidahnya melahap vaginaku yang sudah sangat basah, cukup lama kami dalam posisi itu, terinat akan Adit yang bisa saja tiba-tiba datang aku langsung mengambil inisiatif untuk merubah posisi dan perlahan duduk di atas penisnya yang sudah mengacung tegang dan besar panjang.
Perlahan aku arahkan dan masukan ke dalam lubang vaginaku, rasanya berbeda dengan saat aku diperkosanya, perlahan tapi pasti aku merasaskan suatu sensasi yang amat besar sampai akhirnya keseluruhan batang penis Wahyu masuk ke dalam vaginaku “Ahh..sssfff..Braaam!” erangku perlahan menahan suara gairahku agar tidak terdengar, aku merasakan seluruh penisnya memenuhi vaginaku dan menyentuh rahimku.
Sungguh suatu sensasi yang tak terbayangkan, dan sensasi itu semakin bertambah saat aku mulai menggoyangkan pantatku naik turun sementara tangan Wahyu dengan puasnya terus memainkan kedua buah dadaku memuntir-muntir putingku hingga berwarna kemerahan dan keras “ahh..ahh..” demikian erangan kami perlahan mengiringi suara penisnya yan keluar masuk vaginaku clok..clok..clok? Tak tahan dengan nafsunya mendadak Wahyu duduk dan mengulum buah dadaku dengan rakusnya bergantian kiri kanan bergerak ke leher dan terus lagi. Aku sungguh tak dapat menahan gairah yang selama ini terpendam.
Mungkin karena nafsu yang sudah sangat tertahan atau takut Adit mendengar tak kuasa aku melepaskan puncak gairahku yang pertama sambil mendekap erat Wahyu dan menggigit pundaknya agar tidak bersuara, kudekap erta Wahyu seakan tak dapat dilepaskan mengiringi puncak orgasmeku. Wahyu merasakan penisnya disiram cairan hangat dan tahu bahwa aku mengalami orgasme dan membiarkanku mendekapnya sangat erat sambil memelukku dengan belaian hangatnya. Selesai aku orgasme sekiat 30 detik, Wahyu membalikan aku dengan penisnya masih tertancap di dalam vaginaku. Wahyu mulai mencumbuku dengan menjilati leher dan putingku perlahan, entah mengapa aku kembali bernafsu dan membalas ciumannya denga mesra, lidah kami saling berpagutan dan Wahyu merasakan penisnya kembali dapat keluar masuk dengan mudah karena vaginaku sudah kembali basah dan siap menerima serangan berikutnya.
Dan Wahyu langsung memompa penisnya dengan semangat dan cepat membuat tubuhku bergoyang dan buah dadaku bergerak naik turun dan sungguh suara yang timbul antara erangan kami berdua yang tertahan derit tempat tidur dan suara penisnya keluar masuk di vaginaku kembali membakar gairahku dan aku bergerak menaik turunkan pantatku untuk mengimbangi Wahyu.
Dan benar saja 10 menit kemudian aku sampai pada puncak orgasme yang kedua, dengan meletakan kedua kakiku dan menekan keras pantatnya hingga penisnya menyentuh rahimku.
Kupeluk Wahyu dengan erat yang membiarkan aku menikmati deburan ombak kenikmatan yang menyerangku berkali-kali bersamaan keluarnya cairanku. Kugigit bibirku agar tidak mengeluarkan suara, cukup lama aku dalam keadaan ini dan anehnya setelah selesai aku berada dalam puncak ternyata aku sudah kembali mengimbangi gerakan Wahyu dengan menaik turunkan pantatku. Saat itulah kudengar pintu kamarku terbuka dan detik berikutnya pintu kamar Wahyu diketuk Adit, “Wahyu..kau sudah tidur?”, demikian ketuk Adit. Langsung saja Wahyu melepaskan pelukannya dan menyuruhku bersembunyi di kamar mandi. Sempat menyambar pakaian tidurku yang tergeletak di lantai aku langsung lari ke kamar mandi dan mengunci dari luar. Sungguh hatiku berdebar dengan kerasnya membayangkan apa jadinya jika aku ketahuan suamiku.
Wahyu dengan santai dan masih bertelanjang membuka pintu dan mengajak Adit masuk, Adit sempat terkejut melihat Wahyu telanjang,”Sedang apa kamu Wahyu” tanpa curiga dengan tempat tidur yang berantakan yang kalau diperhatikan dari dekat ada cairan kenikmatanku. Wahyu hanya tersenyum dan mengatakan,”Mau tau aja..” Dasar Adit dia langsung membicarakan suatu hal pekerjaan dan mereka terlibat pembicaraan itu. Kurang lebih sepuluh menit mereka berbicara dan sepuluh menit juga hatiku sungguh berdebar-debar tapi anehnya dengan keadaan ini nafsuku sungguh semakin menjadi-jadi. Setelah Adit keluar, Wahyu kembali mengunci pintu kamar dan mengetuk kamar mandi perlahan,”Reni buka pintunya..sudah aman”. Begitu aku buka pintunya Wahyu langsung menarik aku dan mendudukanku di meja dekat kamar mandi, langsung saja dibukanya kedua kakiku dan bless penisnya kembali memenuhi vaginaku “Ahhh..ahh..” erangan kami berdua kembali terdengar perlahan sambil terus menggoyangkan pantatnya maju mundur Wahyu melahap buah dadaku dan putingku.
Sepuluh menit berlalu dan goyang Wahyu semakin cepat sehingga aku tahu dia akan mencapai puncaknya, dan akupun merasakan hal yang sama “Braaam lebih cepat sayang aku sudah hampir keluar..” desahku “Tahan sayang kita bersamaan keluarnya”, dan benar saja saat kurasakan maninya menyembur deras dalam vaginaku aku mengalami orgasme yang ketiga dan lebih hebat dari yang pertama dan kedua, kami saling berpelukan erat dan menikmati puncak gairah itu bersamaan. “Braaammm..,” desahku tertahan. “Ahhh Reni..kau hebat..” demikian katanya.
Akhirnya kami saling berpelukan lemas berdua, sungguh suatu pertempuran yang sangat melelahkan. Saat kulirik jam ternyata sudah dua jam kami bergumul. “Terima kasih Wahyu..kau hebat..” kataku dengan kecupan mesra dan langsung memakai pakaian tidurku kembali dan kembali ke kamarku. Adit tidak curiga sama sekali dan tetap berkutat dengan komputernya dan tidak menghiraukanku yang langsung berbaring tanpa melepas pakaianku seperti biasanya karena aku tahu ada bekas ciuman Wahyu di sekujur buah dadaku. Malam itu aku merasa sangat bersalah pada Adit tapi di lain sisi aku merasa sangat puas dan tidur dengan nyenyaknya.
Esoknya seperti biasa di hari Minggu aku dan Adit berenang di pagi hari tetapi mengingat adanya Wahyu, kami yang biasanya berenang bertelanjang akhirnya memutuskan memakai pakaian renag, aku syukuri karena hal ini dapat menutupi buah dadaku yang masih memar karena gigitan Wahyu. Saat kami berenang aku menyadari bahwa Wahyu sedang menatap kami dari kamarnya. Dan saat Adit sedang asyik berenang kulihat Wahyu memanggilku dengan tangannya dan yang membuat aku terkejut dia menunjukan penisnya yang sudah mengacung besar dan tegang. Seperti di hipnotis aku nekat berjalan ke dalam.”Ron aku mau ke dalam ambil makanan ya..!” kataku pada Adit, dia hanya mengiyakan sambil terus berenang, Adit memang sangat hobi berenang bisa 2 jam nonstop tanpa berhenti.
Aku dengan tergesa masuk ke dalam dan menuju kamar Wahyu. Di sana Wahyu sudah menunggu dan tak sabar dia melucuti pakain renangku yang memang hanya menggunakan tali sebagai pengikatnya. “Gila kamu Wahyu..bisa ketahuan Adit lho,” protesku tanpa perlawanan karena aku sendiri sangat bergairah oleh tantangan ini. dan dengan kasar dia menciumi punggungku sambil meremas buah dadaku “Tapi kamu menikmatinya khan?!,” goda Wahyu sambil mencium leher belakangku. Dan aku hanya mendesah menahan nikmat dan tantangan ini. Yang lebih gila Wahyu menarikku ke jendela dan masih dari belakang dia meremas-remas buah dadaku dan meciumi punggung hingga pantatku, “Gila kau Wahyu, Adit bisa melihat kita,” tapi anehnya aku tidak berontak sama sekali dan memperhatikan Adit yang benar-benar sangat menikamti renangnya. Di kamar Wahyu pun aku sangat menikmati sentuhan Wahyu. “Reni kamu suka ini khan?” tanyanya sambil dengan keras menusukan penisnya ke dalam vaginaku dari belakang. “AHH..Wahyu..” teriakku kaget dan nikmat, sekarang aku berani bersuara lebih kencang karena tahu Adit tidak akan mendengarnya. Langsung saja Wahyu memaju mundurkan penisnya di vaginaku..”Ahh.. Wahyu lebih kencang..fuck me Wahyu..puaskan aku Wahyu..penismu sungguh luar biasa..Wahyu aku sayang kamu..” teriakku tak keruan dengan masih memperhatikan Adit.
Wahyu mengimbangi dengan gerakan yang liar hingga vaginaku terasa lebih dalam lagi tersentuh penisnya dengan posisi ini,”Reni..khhaau hhebat..” desahnya sambil terus menekanku, kalau saja Adit melihat sejenak ke kamar Wahyu maka dia akn sangat terkejut meilhat pemandangan ini, istrinya sedang bercinta dengan rekan kerjanya. Ternyata kami memang bisa saling mengimbangi, kali ini dalam waktu 20 menit kami sudah mencapai puncak secara bersamaan “Teruuus Wahyu lebih khheeenncang..ahhhh aku keluar Braaaaam”, teriaku. “Aaakuu juga Tyyaaasss..nikkkkmat ssekali mmmeemeekmu..aahhhhh.” teriaknya bersamaan dengan puncak kenikmatan yang datang bersamaan. Setelah itu aku langsung mencium bibirnya dan kembali mengenakan pakaian renangku dan kembali berenang bersama Adit yang tidak menyadari kejadian itu.
Setelah itu hari-hari berikutnya sungguh mendatangkan gairah baru dalam hidupku dengan tantangan bercinta bersama Wahyu. Pernah suatu saat ketika akhirnya Adit mau bercinta denganku di suatu malam hingga akhirnya dia tertidur kelelahan, aku hendak mengambil susu di dapur dan karena sudah larut malam aku nekat tidak mengenakan pakaian apapun. Saat aku membungkuk di depan lemari es sekelebat ku lihat bayangan di belakangku sebelum aku menyadari Wahyu sudah di belakangku dan langsung menubruku dari belakang. Penisnya langsung menusuk vaginaku yang membuatku hanya tersedak dan menahan nikmat tiba-tiba ini.
Kami bergumul di lantai dapur lalu dia mengambil kursi dan duduk di atasnya sambil memangku aku, “Wahyu kamu nakal” desahku yang juga menikmatinya dan kami bercinta hingga hampir pagi di dapur. Sungguh bersama Wahyu kudapatkan gairah terpendamku selama ini.
Akhirnya ketika proyek kantor Adit selesai Wahyu harus pergi dari rumah kami dan malam sebelum pergi aku dan Wahyu menyempatkan bercinta kembali.