Reni, 31 tahun, tinggi
badannya sedang saja, tapi buah dada 34B dan pinggulnya sangat menarik, sangat
mengundang. Kehidupan rumah tangga mereka terbilang aman dan tenteram. Suatu
malam, di tempat tidur, beberapa hari menjelang hari ulang tahun Reni yang ke
32, sambil memeluk Reni,
Adyt menanyakan hadiah ulang tahun apa yang Reni mau. “Ada satu hal yang saya
mau, Mas…” ujar Reni. “Tapi saya malu dan takut untuk mengatakannya…” ujar Reni
lagi. “Apa itu, sayang?” tanya Adyt. “Mm.. Gini.. Tapi saya minta Mas jangan
marah, ya? Ini hanya sekedar keinginan saya saja,” ujar Reni. “Iya. Apakah
itu?” tanya Adyt lagi. “Sejak kita pertama ketemu, saya menyukai Mas Wahyu. Dia
sangat baik dan pengertian terhadap saya. Kalau dulu waktu kita pacaran ada
masalah, saya selalu curhat kepada dia. Dia selalu bisa mendinginkan hati saya.
Itulah kenapa saya suka dia,” papar Reni. “Lalu?” tanya Adyt. “Saya takut dan
malu mengatakannya, Mas,” ujar Reni sambil menunduk. “Ini adalah hadiah untuk
ulang tahun kamu sayang. Apapun itu, katakanlah.. Mas akan berusaha untuk
mengerti keinginan kamu itu,” ujar Adyt. “Benarkah?” kata Reni. “Iya, sayang.
Katakanlah…” ujar Adyt sambil tersenyum. “Begini Mas.. Bukannya saya tidak
cinta kepada Mas lagi. Tapi entah kenapa beberapa bulan terakhir ini saya
selalu teringat akan Mas Wahyu. Ingat tentang segalanya. Sampai-sampai ada
suatu keinginan aneh yang datang, Mas…” ujar Reni. “Oke. Lalu?” tanya Adyt.
“Entahlah.. Saya sulit mengatakannya.. Tapi.. Begini.. Kalau boleh, saya mau
hadiah ulang tahun yang sangat spesial dari Mas kali ini yaitu.. Mm.. Saya mau
minta waktu kepada Mas untuk mengijinkan saya menghabiskan waktu semalam saja
dengan Mas Wahyu…” papar Reni sambil menatap mata Adyt. “Waktu semalam untuk
apa, sayang?” tanya Adyt lagi. “Mm.. Saya ingin menumpahkan rasa kangen saya
kepada Mas Wahyu…” ujar Reni lalu menunduk. Adyt terdiam. Di dalam hatinya
berkecamuk suatu perasaan yang sangat tidak menentu. “Ini hanya keinginan saya
saja, Mas.. Kalau Mas tidak mengijinkan juga, saya tidak apa-apa kok Mas…” ujar
Reni sambil tersenyum. “Apakah kamu benar-benar inginkan itu, sayang?” tanya Adyt
memastikan. “Iya. Mas.. Kalau Mas tidak keberatan,” ujar Reni. “Baiklah.. Mas
kabulkan,” ujar Adyt. “Boleh tahu kenapa Mas mengijinkan?” tanya Reni
penasaran. “Saya ingin membahagiakan kamu. Walau terasa aneh, tapi saya akan
berusaha mengabulkannya. Karena saya sayang kamu. Tapi cuma sekali saja kan,
sayang?” tanya Adyt lagi. “Iya, Mas,” ujar Reni sambil tersenyum. “Pokoknya
begini, segala sesuatunya kamu yang harus urus sendiri. Saya tidak akan ikut
campur. Saya hanya sebatas memberikan ijin saja buat kamu…” ujar Adyt. “Iya,
Mas.. Terima kasih,” ujar Reni sambil mencium bibir Adyt mesra. Adyt membalas
ciuman Reni.. Tak lama merekapun langsung bersetubuh seperti biasanya.
“Saya tidak bisa membayangkan kalau kamu disetubuhi orang lain, apalagi Mas
saya sendiri…” ujar Adyt sambil terus memMaspa kontolnya di memek Reni.
“Saya mengerti, Mas.. Mmhh.. Ohh…” desah Reni. “Tapi saya ingin tahu juga
bagaimana kamu kalau bersetubuh dengan pria lain…” ujar Adyt. “Nanti saya boleh
lihat, tidak?” tanya Adyt. “Boleh saja, Mas.. Nanti saya tidak akan mengunci
pintu…” ujar Reni sambil tersenyum.. Malam itu mereka bersetubuh sampai pagi..
Satu hari menjelang hari ulang tahunnya, Reni menelpon Mas Wahyu untuk datang
ke rumahnya dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-32. “Siapa saja yang
diundang?” tanya Mas Wahyu di telepon. “Hanya Mas kok, sebagai tanda hormat kami
kepada Mas,” ujar Reni penuh harap. “Baiklah Mas akan datang bersama tante
kamu,” ujar Mas Wahyu. “Mm, begini Mas, karena hari ini adalah hari khusus,
saya minta Mas datang sendiri saja, ya.. Please…” ujar Reni. “Baiklah kalau itu
mau kamu. Jam berapa Mas harus datang?” tanya Mas Wahyu. “Besok jam 7 malam Mas.
Hanya kita bertiga yang merayakan kok. Anak-anak sejak kemarin sudah liburan
sekolah bersama neneknya di kampung…” ujar Reni. “Janji datang ya, Mas,” tanya Reni
lagi. “Iya, iya…” ujar Mas Wahyu. Besok malamnya, bertepatan dengan hari ulang
tahun Reni, Mas Wahyu datang ke rumah mereka. Mas Wahyu adalah teman akrab mas Adyt.
Dalam umurnya yang sama dengan mas adyt, Mas Wahyu masih kelihatan gagah dan
berwibawa. “Selamat ulang tahun ya, Des…” ujar Mas Wahyu sambil mencium kening Reni.
“Nih, hadiah buat kamu,” ujar Mas Wahyu sambil menyerahkan kado. “Terima kasih,
Mas…” ujar Reni. Setelah makan malam, mereka bertiga lalu berbincang dan
bersenda gurau sampai jam 10. Lalu dengan alasan sudah mengantuk, Adyt pamit
untuk tidur karena besok harus kerja. Lalu Adyt naik ke loteng dan masuk
kamarnya. Padahal sesampai di kamar, Adyt berusaha mendengarkan pembicaraan
istrinya dengan Mas Wahyu. “Kok hanya Mas yang diundang sih?” tanya Mas Wahyu.
“Kan ini hari spesial buat saya. Jadi saya minta Adyt untuk mengundang Mas
saja,” ujar Reni sambil berpindah duduk ke samping Mas Wahyu. “Memangnya
kenapa?” tanya Mas Wahyu. “Agar saya bisa curhat dengan Mas tentunya,” ujar Reni.
“Mau curhat apa sih?” tanya Mas Wahyu lagi. “Ini kan hari spesial saya, boleh
tidak kalau saya minta sesuatu yang spesial dari Mas?” tanya Reni. “Boleh
saja,” jawab Mas Wahyu. “Mau minta apa?” tanya Mas Wahyu menyambung. “Mm..
Boleh tidak saya minta cium sayang?” tanya Reni sambil tersenyum menatap mata Mas
Wahyu. “Ah, kamu ini ada-ada saja. Lagian si Adyt bisa ngamuk tuh…” ujar Mas Wahyu.
“Tidak apa-apa kok, Mas.. Saya sudah minta ijin Mas Adyt kok,” ujar Reni.
“Lalu?” tanya Mas Wahyu. “Mas Adyt sudah mengijinkan kok, makanya dia cepat
tidur,” ujar Reni lagi. Mas Wahyu terdiam sambil menatap Reni. “Boleh kan Mas
minta cium sayang?” pinta Reni sambil tangannya meraih dan menggenggam tangan Mas
Wahyu. Mas Wahyu tetap diam sambil terus menatap Reni. “Mas tidak marah, kan?”
tanya Reni sambil merapatkan tubuhnya ke Mas Wahyu. “Tidak,” jawab Mas Wahyu.
“Hanya saja Mas merasa bingung harus bagaimana…” ujar Mas Wahyu. “Kenapa Mas?”
tanya Reni sambil mulai berani mencium pipi Mas Bud “Ya bingung.. Mas sangat
sayang sama kamu, tapi harus bagaimana menghadapi Adyt nanti?” jawab Mas Wahyu.
Reni tersenyum. Tanpa ragu Reni mulai mengecup bibir Mas Wahyu. Mas Wahyu tidak
membalas. Reni makin berani. Reni langsung naik ke pangkuan Mas Wahyu, lalu
langsung melumat bibir Mas Wahyu. Namanya juga laki-laki, walau bagaimana nafsu
Mas Wahyu terangsang juga akhirnya. Mas Wahyu langsung membalas ciuman Reni dengan
liar. Keduanya saling berpagutan bagai sepasang kekasih memadu asmara. Tangan Mas
Wahyu mulai meraba buah dada Reni dari luar gaun malamnya. Reni terpejam
merasakan nikmatnya rabaan tangan Mas Wahyu di buah dadanya. “Masukkin
tangannya dong, Mas…” pinta Reni sambil melepas beberapa kancing gaunnya.
Tangan Mas Wahyu langsung masuk ke BH Reni lalu meremas-remas buahdadanya
sambil sesekali jarinya memainkan puting susunya. “Ohh.. Terus Masm.. Hh…”
desah Reni sambil sesekali mencium bibir Mas Wahyu. “Kita ke kamar yuk, Mas?”
ajak Reni sambil turun dari pangkuan Mas Wahyu. Terlihat celana Mas Wahyu
menggembung besar tanda kontolnya sudah bangkit. Reni segera menarik tangan Mas
Wahyu ke kamar anaknya. “Tutup pintunya, Des…” bisik Mas Wahyu. “Tidak usah, Mas..
Biarkan saja. Saya suka kalau pintu terbuka. Lebih horny…” ujar Reni sambil
melepas semua gaun malamnya. Setelah itu dibukanya semua kancing baju Mas Wahyu,
kemudian mebuka resleting celananya. Tampak olehnya celana dalam Mas Wahyu
menggembung besar.. Segera Reni melepas semua pakaian Mas Wahyu. Dalam keadaan
telanjang, Reni merangkul Mas Wahyu. Mereka kembali berciuman sambil tangan
mereka dengan sesuka hati meraba, meremas apapun yang mereka mau.. Tangan Reni
sambil berciuman terus memegang, meremas, dan mengocok kontol Mas Wahyu yang
sudah tegang keras. “Ohh.. Enak, Des.. Teruss…” bisik Mas Wahyu sambil
menggerakkan pinggulnya seiring kocokan tangan Reni pada kontolnya. “Mau yang
lebih enak lagi, Mas?” tanya Reni sambil tersenyum lalu segera berjongkok.
Tak lama kontol Mas Wahyu sudah dikulumnya, dijilat, dihisap sambil terus agak
dikocok..
“Ohh…” desah Mas Wahyu sambil agak mengeluar masukkan kontolnya di mulut Reni.
Setelah beberapa lama.. “Jilati memek Reni dong, Mas,” pinta Reni berbisik. Mas
Wahyu mengangguk. Segera Reni naik ke ranjang lalu membuka lebar pahanya.
Terlihat memeknya sangat
