Rabu, 10 September 2025

Istriku Minta di kasih yang Lain


 


Reni, 31 tahun, tinggi badannya sedang saja, tapi buah dada 34B dan pinggulnya sangat menarik, sangat mengundang. Kehidupan rumah tangga mereka terbilang aman dan tenteram. Suatu malam, di tempat tidur, beberapa hari menjelang hari ulang tahun Reni yang ke 32, sambil memeluk Reni,

Adyt menanyakan hadiah ulang tahun apa yang Reni mau. “Ada satu hal yang saya mau, Mas…” ujar Reni. “Tapi saya malu dan takut untuk mengatakannya…” ujar Reni lagi. “Apa itu, sayang?” tanya Adyt. “Mm.. Gini.. Tapi saya minta Mas jangan marah, ya? Ini hanya sekedar keinginan saya saja,” ujar Reni. “Iya. Apakah itu?” tanya Adyt lagi. “Sejak kita pertama ketemu, saya menyukai Mas Wahyu. Dia sangat baik dan pengertian terhadap saya. Kalau dulu waktu kita pacaran ada masalah, saya selalu curhat kepada dia. Dia selalu bisa mendinginkan hati saya. Itulah kenapa saya suka dia,” papar Reni. “Lalu?” tanya Adyt. “Saya takut dan malu mengatakannya, Mas,” ujar Reni sambil menunduk. “Ini adalah hadiah untuk ulang tahun kamu sayang. Apapun itu, katakanlah.. Mas akan berusaha untuk mengerti keinginan kamu itu,” ujar Adyt. “Benarkah?” kata Reni. “Iya, sayang. Katakanlah…” ujar Adyt sambil tersenyum. “Begini Mas.. Bukannya saya tidak cinta kepada Mas lagi. Tapi entah kenapa beberapa bulan terakhir ini saya selalu teringat akan Mas Wahyu. Ingat tentang segalanya. Sampai-sampai ada suatu keinginan aneh yang datang, Mas…” ujar Reni. “Oke. Lalu?” tanya Adyt. “Entahlah.. Saya sulit mengatakannya.. Tapi.. Begini.. Kalau boleh, saya mau hadiah ulang tahun yang sangat spesial dari Mas kali ini yaitu.. Mm.. Saya mau minta waktu kepada Mas untuk mengijinkan saya menghabiskan waktu semalam saja dengan Mas Wahyu…” papar Reni sambil menatap mata Adyt. “Waktu semalam untuk apa, sayang?” tanya Adyt lagi. “Mm.. Saya ingin menumpahkan rasa kangen saya kepada Mas Wahyu…” ujar Reni lalu menunduk. Adyt terdiam. Di dalam hatinya berkecamuk suatu perasaan yang sangat tidak menentu. “Ini hanya keinginan saya saja, Mas.. Kalau Mas tidak mengijinkan juga, saya tidak apa-apa kok Mas…” ujar Reni sambil tersenyum. “Apakah kamu benar-benar inginkan itu, sayang?” tanya Adyt memastikan. “Iya. Mas.. Kalau Mas tidak keberatan,” ujar Reni. “Baiklah.. Mas kabulkan,” ujar Adyt. “Boleh tahu kenapa Mas mengijinkan?” tanya Reni penasaran. “Saya ingin membahagiakan kamu. Walau terasa aneh, tapi saya akan berusaha mengabulkannya. Karena saya sayang kamu. Tapi cuma sekali saja kan, sayang?” tanya Adyt lagi. “Iya, Mas,” ujar Reni sambil tersenyum. “Pokoknya begini, segala sesuatunya kamu yang harus urus sendiri. Saya tidak akan ikut campur. Saya hanya sebatas memberikan ijin saja buat kamu…” ujar Adyt. “Iya, Mas.. Terima kasih,” ujar Reni sambil mencium bibir Adyt mesra. Adyt membalas ciuman Reni.. Tak lama merekapun langsung bersetubuh seperti biasanya.

“Saya tidak bisa membayangkan kalau kamu disetubuhi orang lain, apalagi Mas saya sendiri…” ujar Adyt sambil terus memMaspa kontolnya di memek Reni.
“Saya mengerti, Mas.. Mmhh.. Ohh…” desah Reni. “Tapi saya ingin tahu juga bagaimana kamu kalau bersetubuh dengan pria lain…” ujar Adyt. “Nanti saya boleh lihat, tidak?” tanya Adyt. “Boleh saja, Mas.. Nanti saya tidak akan mengunci pintu…” ujar Reni sambil tersenyum.. Malam itu mereka bersetubuh sampai pagi.. Satu hari menjelang hari ulang tahunnya, Reni menelpon Mas Wahyu untuk datang ke rumahnya dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-32. “Siapa saja yang diundang?” tanya Mas Wahyu di telepon. “Hanya Mas kok, sebagai tanda hormat kami kepada Mas,” ujar Reni penuh harap. “Baiklah Mas akan datang bersama tante kamu,” ujar Mas Wahyu. “Mm, begini Mas, karena hari ini adalah hari khusus, saya minta Mas datang sendiri saja, ya.. Please…” ujar Reni. “Baiklah kalau itu mau kamu. Jam berapa Mas harus datang?” tanya Mas Wahyu. “Besok jam 7 malam Mas. Hanya kita bertiga yang merayakan kok. Anak-anak sejak kemarin sudah liburan sekolah bersama neneknya di kampung…” ujar Reni. “Janji datang ya, Mas,” tanya Reni lagi. “Iya, iya…” ujar Mas Wahyu. Besok malamnya, bertepatan dengan hari ulang tahun Reni, Mas Wahyu datang ke rumah mereka. Mas Wahyu adalah teman akrab mas Adyt. Dalam umurnya yang sama dengan mas adyt, Mas Wahyu masih kelihatan gagah dan berwibawa. “Selamat ulang tahun ya, Des…” ujar Mas Wahyu sambil mencium kening Reni. “Nih, hadiah buat kamu,” ujar Mas Wahyu sambil menyerahkan kado. “Terima kasih, Mas…” ujar Reni. Setelah makan malam, mereka bertiga lalu berbincang dan bersenda gurau sampai jam 10. Lalu dengan alasan sudah mengantuk, Adyt pamit untuk tidur karena besok harus kerja. Lalu Adyt naik ke loteng dan masuk kamarnya. Padahal sesampai di kamar, Adyt berusaha mendengarkan pembicaraan istrinya dengan Mas Wahyu. “Kok hanya Mas yang diundang sih?” tanya Mas Wahyu. “Kan ini hari spesial buat saya. Jadi saya minta Adyt untuk mengundang Mas saja,” ujar Reni sambil berpindah duduk ke samping Mas Wahyu. “Memangnya kenapa?” tanya Mas Wahyu. “Agar saya bisa curhat dengan Mas tentunya,” ujar Reni. “Mau curhat apa sih?” tanya Mas Wahyu lagi. “Ini kan hari spesial saya, boleh tidak kalau saya minta sesuatu yang spesial dari Mas?” tanya Reni. “Boleh saja,” jawab Mas Wahyu. “Mau minta apa?” tanya Mas Wahyu menyambung. “Mm.. Boleh tidak saya minta cium sayang?” tanya Reni sambil tersenyum menatap mata Mas Wahyu. “Ah, kamu ini ada-ada saja. Lagian si Adyt bisa ngamuk tuh…” ujar Mas Wahyu. “Tidak apa-apa kok, Mas.. Saya sudah minta ijin Mas Adyt kok,” ujar Reni. “Lalu?” tanya Mas Wahyu. “Mas Adyt sudah mengijinkan kok, makanya dia cepat tidur,” ujar Reni lagi. Mas Wahyu terdiam sambil menatap Reni. “Boleh kan Mas minta cium sayang?” pinta Reni sambil tangannya meraih dan menggenggam tangan Mas Wahyu. Mas Wahyu tetap diam sambil terus menatap Reni. “Mas tidak marah, kan?” tanya Reni sambil merapatkan tubuhnya ke Mas Wahyu. “Tidak,” jawab Mas Wahyu. “Hanya saja Mas merasa bingung harus bagaimana…” ujar Mas Wahyu. “Kenapa Mas?” tanya Reni sambil mulai berani mencium pipi Mas Bud “Ya bingung.. Mas sangat sayang sama kamu, tapi harus bagaimana menghadapi Adyt nanti?” jawab Mas Wahyu. Reni tersenyum. Tanpa ragu Reni mulai mengecup bibir Mas Wahyu. Mas Wahyu tidak membalas. Reni makin berani. Reni langsung naik ke pangkuan Mas Wahyu, lalu langsung melumat bibir Mas Wahyu. Namanya juga laki-laki, walau bagaimana nafsu Mas Wahyu terangsang juga akhirnya. Mas Wahyu langsung membalas ciuman Reni dengan liar. Keduanya saling berpagutan bagai sepasang kekasih memadu asmara. Tangan Mas Wahyu mulai meraba buah dada Reni dari luar gaun malamnya. Reni terpejam merasakan nikmatnya rabaan tangan Mas Wahyu di buah dadanya. “Masukkin tangannya dong, Mas…” pinta Reni sambil melepas beberapa kancing gaunnya. Tangan Mas Wahyu langsung masuk ke BH Reni lalu meremas-remas buahdadanya sambil sesekali jarinya memainkan puting susunya. “Ohh.. Terus Masm.. Hh…” desah Reni sambil sesekali mencium bibir Mas Wahyu. “Kita ke kamar yuk, Mas?” ajak Reni sambil turun dari pangkuan Mas Wahyu. Terlihat celana Mas Wahyu menggembung besar tanda kontolnya sudah bangkit. Reni segera menarik tangan Mas Wahyu ke kamar anaknya. “Tutup pintunya, Des…” bisik Mas Wahyu. “Tidak usah, Mas.. Biarkan saja. Saya suka kalau pintu terbuka. Lebih horny…” ujar Reni sambil melepas semua gaun malamnya. Setelah itu dibukanya semua kancing baju Mas Wahyu, kemudian mebuka resleting celananya. Tampak olehnya celana dalam Mas Wahyu menggembung besar.. Segera Reni melepas semua pakaian Mas Wahyu. Dalam keadaan telanjang, Reni merangkul Mas Wahyu. Mereka kembali berciuman sambil tangan mereka dengan sesuka hati meraba, meremas apapun yang mereka mau.. Tangan Reni sambil berciuman terus memegang, meremas, dan mengocok kontol Mas Wahyu yang sudah tegang keras. “Ohh.. Enak, Des.. Teruss…” bisik Mas Wahyu sambil menggerakkan pinggulnya seiring kocokan tangan Reni pada kontolnya. “Mau yang lebih enak lagi, Mas?” tanya Reni sambil tersenyum lalu segera berjongkok.

Tak lama kontol Mas Wahyu sudah dikulumnya, dijilat, dihisap sambil terus agak dikocok..
“Ohh…” desah Mas Wahyu sambil agak mengeluar masukkan kontolnya di mulut Reni. Setelah beberapa lama.. “Jilati memek Reni dong, Mas,” pinta Reni berbisik. Mas Wahyu mengangguk. Segera Reni naik ke ranjang lalu membuka lebar pahanya. Terlihat memeknya sangat