Jangan pernah berpikir fit, aku akan menceraikanmu. Kalau memang
maumu hendak menyiksa perasaanku, mending kugantung saja perkawinan ini. Dengan
begitu, kita seri. Kamu bisa bahagia dengan mencari di luar, begitu pun
denganku. Tapi soal status, jangan lupa, kamu masih tetap istriku.. selamanya!
Kata-kata Mas Asmin tiba-tiba mengiang di telingaku. Malam, sudah tua benar.
Jam di dinding kamar hotel yang kutempati dengan Adyt, kekasih baruku, telah
menunjukkan pukul 24.15. Tapi aku masih termangu di depan jendela, mencoba
mengurai kembali perjalanan hidupku. Dari keinginan orangtuaku untuk
mengawinkan aku dengan Mas Asmin yang sebenarnya tak pernah kucintai, sampai
dengan sederet petualanganku dengan lelaki lain yang memberikan kenikmatan
berlebih-lebih.
Entahlah, mungkin karena aku tak pernah mencintai Mas Asmin, setiap ia menuntut
haknya sebagai suami, aku selalu ogah-ogahan. Kalau toh harus melayaninya,
itupun kulakukan dengan terpaksa. Hasilnya, sungguh jauh dari memuaskan. Itu
pula kesan yang diperoleh Mas Asmin dariku. "Kalau begini terus, bisa-bisa
aku impoten. Soalnya di atas ranjang, kamu tak ubahnya sepotong batang pisang.
Dingin, kayak es", gerutu Mas Asmin.
Sejak menikah dengan Mas Asmin 4 tahun lalu, rasanya bisa dihitung dengan jari
aku melakukan hubungan suami-istri dengannya. Terus terang, aku lebih banyak
menolak daripada melayani hasrat seksualnya. Kalau toh mau, ya itu tadi, dengan
setengah hati. Artinya, aku juga tak pernah bermimpi bisa mendapatkan
kenikmatan surga duniawi saat berhubungan intim dengannya.
Sebaliknya jika melakukan dengan pria lain, rasa yang kudapatkan sungguh
dahsyat luar biasa. Aku mampu berperan aktif di ranjang. Mencoba memuaskan
pasanganku, dan sebaliknya berharap kepuasan setimpal darinya. Tak mampu
kuingat lagi, dengan beberapa pria yang bukan suamiku aku pernah tidur bersama.
Salah satunya adalah Adyt, seorang mahasiswa hukum usianya terpaut 5 tahun
lebih muda dari usiaku sendiri yang sudah menginjak kepala 3.
Aku kenal denga Adyt karena ia kost di rumah seorang tetangga. Posturnya yang
tinggi dan tegap, membuat fantasiku melayang membayangkan yang bukan-bukan.
Sampai akhirnya dengan seribu satu cara dan rayuan, pemuda asal Flores itu
dengan senang hati kuseret ke atas ranjang.
"Kok ngelamun, apa yang Mbak pikirkan?" Suara bariton Adyt
membuyarkan lamunanku. Ternyata, ia sudah terbangun dari lelapnya, setelah sore
tadi kami melewatkan permainan babak pertama. "Di sini kitakan mau
senang-senang. Jadi kalau bisa, yang lain-lain dilupakan dulu", rajuk Adyt
sambil menarik tubuhku kepelukannya.
Dada Adyt yang bidang, bulu-bulu dadanya yang keriting dan gelap, menimbulkan rasa
geli serta getaran hebat. Benar kata Adyt, kenapa aku mesti melamunkan sesuatu
yang seharusnya tak menyita pemikiranku benar. Apalagi menurut keyakinanku, Mas
Asmin saat ini pun pasti tenggelam dalam pelukan Sri, sekretaris di perusahaan
kontraktor miliknya. Saya begitu yakin tentang hal itu, karena akhir-akhir ini
Mas Asmin sudah jarang pulang. Salah seorang pegawainya yang begitu dekat
denganku, suatu ketika memergoki mobil Mas Asmin diparkir di depan rumah kost
Sri.
Tangan kekar Adyt yang dipenuhi bulu-bulu lebat, meraih bagian belakang
leherku, dan dengan begitu otomatis wajahku terdongak. Kesempatan itu tak
disia-siakannya, bibirku dilumatnya dengan kecupan kuat disertai gelitikan
lidahnya. Tak lama kemudian, lidahnya menjalar ke leher, dada, terus kebawah..
Aku menggelinjang beberapa kali, geli campur nikmat. Aku yang sejak tadi tak
mengenakan sehelai pakaian pun, membuatnya lebih gampang mencumbuku. "Yang
begini kan lebih menyenangkan Mbak, daripada mikir yang nggak-nggak", kata
Adyt sambil membopong tubuhku ke atas ranjang.
Tapi anehnya, pada setengah angkatan Adyt menghentikan langkahnya. Ia justru
duduk di tepian ranjang, sambil tetap memeluk tubuhku di atas tubuhnya. Dalam
posisi berhadap-hadapan, aku duduk dipangkuannya. Adyt jadi leluasa mencumbu
bagian depan dadaku. Berkali-kali ia mencium dan mengulum puncak dari dadaku.
Aku merasa nikmat yang luar biasa. Tapi meski tubuhku meliuk-liuk menahan geli
dan kenikmatan yang begitu dahsyat, Adyt tak mencoba menghentikan cumbuannya.
Sebaliknya, ia semakin ganas mencium dan mengulum, terus begitu, berulang-ulang
seperti tak pernah bosan. Ketika kurasakan sesuatu mengaliri sekujur tubuhku,
dan karenanya aku jadi sedikit tegang, sambil tersenyum nakal, Adyt sedikit
mengangkat tubuhku. Dengan kelihaian luar biasa, tiba-tiba saja tubuh kami
sudah menyatu. Di atas pangkuannya, aku mulai memacu. Cepat dan semakin cepat.
Sementara Adyt dengan tatap melenguh, berusaha mengimbangi gerakanku dengan
menggoyang-goyangkan tubuhnya. Aduh, rasanya aku melayang-layang dibuatnya.
Saat kelelahan mulai menyergap tubuh kami, Adyt berinisiatif dengan mengubah
posisi. Kami berbaring sambil tetap berpagut mesra. Ia tetap menggelutiku,
bergerak-gerak di atas tubuhku, dari samping maupun belakang. Dan ketika
sesuatu yang menggelegak seakan hendak termuntahkan, Adyt memelukku erat-erat
sambil mendesis, "Oohh.. yes!"
Jauh sebelum dekat dengan Adyt, aku mengenal mitra kerja suamiku di perusahaan
jasa kontruksi, namanya Pieter. Pria Manado yang menikah dengan wanita asal Kediri
itu ternyata naksir berat kepadaku. Padahal ia sangat tahu, aku ini istri
kolega bisnisnya. Dari kerlingan mata yang dilakukan sembunyi-sembunyi, senyum
penuh arti, sampai terpukau di pantatku saat Mas Asmin lengah.
Sampai suatu malam, ketika Pieter datang ke rumahku, kemesraan itu terjadilah.
Sebab baru seperempat jam Pieter duduk di ruang depan. Mas Asmin pamit akan
keluar sebentar membeli sesuatu. Tinggallah aku dengan Pieter meneruskan
obrolan. Satu jam lewat, perbincangan kami mulai menemukan titik kejenuhan,
tapi Mas Asmin belum kembali juga. Sampai akhirnya, tiba-tiba Pieter
menyeletuk, "Nggak usah ditunggu suamimu, paling-paling ia kerumah Sri.
Sebab siang tadi lewat telepon, ia sudah janjian makan malam dengan sekretaris
itu."
Anehnya, meski menerima kabar tak menyenangkan itu aku masih bisa tertawa,
tertawa lepas. Seperti tak ada beban. Melihat sikapku tak berubah, Pieter jadi
semakin berani. Ia menyeret kursinya mendekatiku. Ketika obrolan kembali
mengalir, kedua tanganku sudah berada digenggamannya. Sampai akhirnya dengan
suara mendesah ia berkata, "Kamu cantik sekali Tut. Kalau Asmin sampai
membiarkanmu merana begini, rugi besar dia. Percayalah, semua laki-laki akan
mengatakan kamu cantik, menggairahkan. Termasuk aku, begitu mengagumimu."
Aku tahu, kata-kata yang meluncur dari mulut Pieter benar-benar tulus. Justru.
Dengan pengakuannya itu, timbul simpatiku kepadanya. Maka ketika Pieter berdiri
dan mulai memelukku, aku tak berusaha menolak. Bahkan dengan penuh perasaan,
aku ganti mendekapnya penuh kemesraan. Tapi rupanya, sudah lama Pieter memendam
sesuatu kepadaku. Buktinya, ia tak cukup memeluk dan menciumku untuk
menumpahkan perasaannya. Ketika pagutan-pagutan hangat membuat kami semakin
terbakar, ia berani membimbingku masuk ke kamar.
Dengan tenang, tanpa takut dipergoki Mas Asmin, Pieter melanjutkan cumbuannya
sambil melolosi satu-persatu pakaianku. "Sudah lama sebenarnya gelora hati
ini ingin kutumpahkan kepadamu. Tapi aku masih ragu, apakah engkau mau
menerimanya", ucap Pieter dengan nafas memburu, sembari mendaratkan
ciuman-ciuman mautnya di wajah, leher dan dadaku.
Dalam keadaan telentang, dan akhirnya tanpa selembar kain pun, aku hanya bisa
pasrah, sambil berharap sesuatu yang menyenangkan itu tiba juga, Tapi Pieter
agaknya pintar menyenangkan seorang wanita, Geraknya tetap pelan, hati-hati
tapi penuh perasaan. Dan ketika gerakanku sudah seperti cacing kepanasan, ia
mahfum bahwa saatnya tiba. Dengan sepenuh hati, ia menghimpitku dan mulai
melakukan gerakan-gerakan teratur naik turun. Tetap pelan, tapi justru hal itu
membuatku penasaran. "Ayo Piet, cepat, cepat..", Pintaku seperti
kurang sabar.
Bagiku, sebuah pengalaman baru melakukan hubungan intim dengan tempo yang
terkesan lambat, tapi bertenaga dan penuh perasaan. Ternyata, hasilnya jauh
lebih menyenangkan. Sampai akhirnya ketika pelabuhan yang kami tuju sudah di
depan mata, aku baru sadar puncak kepuasan itu telah kami raih bersama-sama.
Saking bahagianya, aku sampai menangis sambil menggigit pundak Pieter.
"Kamu sungguh hebat", pujiku.
Lepas dari pelukan Pieter, seorang pejabat di pemerintahan berhasil menggaet
hatiku. Pak Sos, namanya. Usianya sudah hampir setengah abad, tapi penampilan
yang wangi dan rapi sempat membuatku mabuk kepayang. Satu hal lagi, ketika aku
jatuh dalam pelukan Pak Sos, suamiku-Mas Asmin-sedang dililit persoalan
keuangan berkaitan dengan tendernya yang sepi sebagai seorang kontraktor.
Akibatnya, hal itu jadi semacam faktor pendorong intimnya hubunganku dengan Pak
Sos. Selain mendapatkan kepuasan biologis, Pak Sos juga memberiku dukungan
finansial. Bahkan aku pernah dibelikan sebuah rumah cukup mewah di pinggiran
kota, meski akhirnya dengan alasan tertentu kujual lagi.
Aku pertama kali kenal dengan Pak Sos berkaitan dengan proyek tender suamiku yang
belum turun juga. Karena berbagai cara yang ditempuh untuk membujuk Pak Sos
yang punya kewenangan menggolkan proyek itu, Mas Asmin akhirnya minta
bantuanku. "Mungkin karena kamu seorang wanita, Pak Sos bisa lunak
hatinya", begitu harapan suamiku.
Apa boleh buat, permintaan Mas Asmin mesti kupenuhi. Ketika tiba di ruang
kerjanya yang besar dan ber-AC, kesan yang muncul pertama saat bertatap muka
dengan Pak Sos adalah berwibawa tapi cuek. Tanpa membuang-buang waktu, aku
mulai melancarkan jurus-jurus rayuan. Tapi seperti yang kuduga, Pak Sos tak
gampang ditundukkan dengan cara-cara klise begitu. Aku mulai putus asa. Apalagi
dengan angkuhnya Pak Sos berujar, "Bilang sama suamimu, nggak etis dia
menyuruh istrinya merayuku untuk mendapatkan tender. Katakan padanya, apakah
harga istrinya cuma sebuah tender?"
Telingaku jadi panas, aku nyaris menangis mendengarnya. Tapi meski begitu,
kira-kira sepekan kemudian datang surat dinas dari kantor Pak Sos, yang isinya
menjelaskan bahwa beliau setuju mendapatkan proyek yang diinginkannya. Mas Asmin
tampak berbunga-bunga, tapi sebaliknya dengan aku. Menyadari semua itu aku jadi
muak. Aku merasa telah dipermainkannya, dijadikan umpan agar dia berhasil
mendapatkan proyek yang diinginkannya.
Sampai suatu siang, ketika Mas Asmin sudah berangkat ngantor, tanpa diduga Pak
Sos menelepon ke rumah. Mula-mula, dia cuma basa-basi. Mulai menanyakan soal
rumah tangga sampai menyinggung pekerjaan Mas Asmin, "Apa kamu nggak
tersinggung dengan cara-cara suamimu mendapatkan tender proyek, sampai
melibatkan istrinya untuk melobi-lobi begitu?" tanya Pak Sos.
Yang pasti dari pembicaraan pertelepon selama 30 menit itu, aku akhirnya tahu
bahwa Pak Sos ternyata bukan tipe lelaki yang cuek dan kaku seperti yang kuduga
sebelumnya. Sebaliknya, jika sudah mengobrol cukup lama dengannya, aku
menyadari kalau ia cukup hangat dan romantis sebagai lelaki. Lebih dari itu,
lewat suaranya yang serak-serak basah, ia begitu perhatian pada lawan jenisnya.
Misalnya ketika aku mengutarakan keinginan untuk bekerja, Pak Sos dengan
antusias menanggapi bahwa hal itu bisa gampang kudapatkan, asal aku tak pilih
pekerjaan, atau berhitung soal pendapatan yang kuperoleh, "Kalau mau, ada
lowongan di perusahaan milik kolega yang saya jamin pasti mau menerimamu. Kalau
kamu serius, datanglah besok ke kantorku. Kita bicarakan lebih detil di
sini", undangnya. Keesokan hari, lewat tengah hari seperti waktu yang kami
sepakati, aku datang ke kantor Pak Sos. Aku sempat kecewa ketika sampai di
depan pintu, ada tulisan: Keluar. Artinya, seperti kebiasaan di kantor-kantor
pemerintah, si pejabat tak ada di tempat karena sedang keluar ruangan. Tapi
saat aku termangu di depan pintu, seorang bawahan Pak Sos datang mendekati
sambil berbisik, "Bu Tut, silakan masuk saja, Pak Sos ada di dalam kok. Ia
sengaja membuat tulisan begitu, agar tak ada yang mengganggunya."
Pak Sos memang ada di ruangannya, tersenyum-senyum di atas kursi besarnya
begitu melihat kedatanganku. Aku dipersilakan duduk, sementara ia membuka
lemari es kecil untuk mengambil 2 botol softdrink. Tak lama kemudian kami
tenggelam pada obrolan yang lebih serius, menyangkut keinginanku untuk bekerja.
Ketika pembicaraan berganti topik, soal rumahtanggaku, soal hubanganku dengan
Mas Asmin, nada bicara Pak Sos jadi terdengar lembut, teduh dan begitu hangat.
Tak terasa, ketika aku begitu hanyut menceritakan nasib perkawinanku, ia sudah
berdiri begitu dekat denganku. Ketika tetes-tetes air mata membasahi pipiku,
Pak Sos dengan merengkuh pundakku dan kemudian memelukku penuh perasaan.
Kami tenggelam dalam keharuan yang dalam. Tapi ketika perasaan kami sudah
begitu menyatu, keharuan itu mendadak saja jadi gelora yang berkobar-kobar,
manakala tangan Pak Sos yang sangat terlatih mulai bergerak liar di
bagian-bagian tubuhku yang paling sensitif. Ketika kancing-kancing blusku telah
terbuka semua, aku seperti tak sadar kalah dalam posisi telentang di atas meja
kerja Pak Sos, dan ia dengan begitu bernafsu, menghimpit dan mencumbuiku.
Kami seperti 2 manusia yang kehilangan akal. Di atas meja itu kami memperagakan
permainan aneh yang yang menyenangkan, setelah Pak Sos melepas pertahanan
terakhir dari kain paling tipis yang kukenakan. Nafas Pak Sos memburu seiring
dengan gerakan-gerakan yang teratur. Di atas meja, hanya dengan melihat langit-langit
atap ruangannya, aku terhentak-hentak dan merasakan tubuhku seperti tengah
mengambang. Dan ketika puncak kenikmatan telah kami raih bersama, sadarlah aku
bahwa hal itu seharusnya tak kami lakukan di kantornya. Sambil tersipu-sipu,
aku membenahi kembali pakaianku yang berantakan. Tapi Pak Sos cepat menghibur,
"Jangan merasa bersalah, tenang-tenang saja. Mau kuambilkan minuman
lagi?"
Sejak beberapa bulan lalu, ia harus pindah kerja di kota Malang karena ada
mutasi pekerjaan. Karena itu untuk melipur kesepian hati, aku berkenalan dengan
Adyt, pemuda tanggung yang ternyata lebih bisa memuaskan soal urusan ranjang,
dibanding suami sahku, Mas Asmin. Tentang laki-laki terakhir, hingga detik ini
masih terikat perkawinanku meski ia sudah jarang pulang, karena lebih suka
menginap di rumah Sri, sekretarisnya. Aku sendiri, terus terang saja rasanya
tak cukup siap untuk menghentikan semua kesenangan ini.
TAMAT
